Taman Tino Sidin, Museum Seniman dan Pendidik dengan Jutaan Murid

Taman Tino Sidin, Museum Seniman dan Pendidik dengan Jutaan Murid

foto: (JP/Bambang Muryanto)

Tino Sidin, seniman yang dikenal mengasuh acara Gemar Menggambar melalui televisi republik indonesia. Metodenya yang sederhana dan akrab menyebabkan ia banyak dikenal anak-anak pada era tahun 1970an hingga 1980an di seluruh Indonesia. Metode mengajarnya mampu membuat anak berani berkreasi, menumbuhkan rasa percaya diri kepada anak-anak.

Independen --  Sebuah museum baru telah berdiri di Yogyakarta, namanya “Taman Tino Sidin”. Museum yang dilengkapi ruang seni, galeri dan perpustakaan ini mengabadikan jejak hidup seorang tokoh besar seni lukis di Indonesia yang hanya mendapat porsi “pinggiran” dalam sejarah seni rupa Indonesia, dia adalah Tino Sidin.

Kurator seni rupa, Mike Susanto mengatakan dalam sejarah seni rupa Indonesia, Tino Sidin (1925-1995) yang tinggal di Tebing Tinggi, Sumatera Utara hanya disebut ketika membicarakan sejumlah perupa asal Sumatera yang datang ke Yogyakarta. Dalam perkembangan terkini, namanya juga tenggelam dalam gempita ketenaran para pelukis kontemporer seperti Heri Dono atau Ugo Untoro.

“Setelah itu Tino Sidin tidak disebutkan lagi, saya tahu ia tidak berada dalam medan pameran seni lukis besar,” ujarnya dalam acara Sarasehan Seni “Tribute to Tino Sidin, 92 Tahun Menginspirasi Indonesia” di Taman Tino Sidin, Sabtu (23/12) lalu.

Padahal pada masanya ia mempunyai kekuatan sebagai guru menggambar yang sangat terkenal di kalangan anak-anak di seluruh Indonesia! Ia mempunyai jasa besar dalam menumbuhkan kecintaan menggambar dan sekaligus membentuk karakter anak-anak agar berani membuat suatu kreasi.

“Ia tidak punya sekolah tetapi muridnya jutaan,” begitu kesan Mike.

Purwadmadi dalam tulisan berjudul “Gambar Tino Sidin” (dalam buku “Tino Sidin, Guru Gambar dan Pribadi Multi Dimensional”) menulis awalnya Tino Sidin hanya mengajar menggambar beberapa anak di Gedung Seni Sono, sekitar 1968. Gaya mengajarnya yang sederhana, mudah (hanya menggunakan garis lurus dan lengkung) dan akrab membuat anak-anak nyaman.

Kekuatan Tino Sidin ini membuat banyak anak ingin bergabung maka untuk mengelolanya dibentuk organisasi bernama Pusat Latihan Lukis untuk Anak (PLLA). Selain di Yogyakarta, PLLA juga melayani latihan menggambar di beberapa kota lain, seperti Klaten, Surakarta dan Magelang.

Kepopuleran Tino Sidin ini menarik Televisi Republik Indonesia (TVRI) Stasiun Yogyakarta yang kemudian memintanya mengasuh acara “Gemar Menggambar” (1969-1979) dan dilanjutkan  ke TVRI Pusat (1979-1989). Ia juga sempat mengasuh acara “Mari Menggambar”  di Stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), 1993.

Itulah sebabnya Tino Sidin sangat terkenal di seantero Indonesia. Potongan berita koran Banjarmasin Post, 10 Januarai 1979 disimpan di museum itu memberitakan saat mengikuti kunjungan menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Banjarmasin, Tino Sidin menjadi rebutan anak-anak.

Tidak sedikit anak yang sempat belajar menggambar melalui televisi itu menjadi seniman terkenal,  salah satunya adalah pelukis yang juga menekuni dunia pendidikan, Yuswantoro Adi.

“Gemar Menggambar adalah jembatan kreativitas dan imajinasi kami, anak-anak Indonesia,” ujarnya.

Panca Takariyati (Titik), anak bungsu Tino Sidin mengatakan pihak keluarga membangun Taman Tino Sidin untuk menghormati dan mengenang apa yang sudah dilakukan ayahnya.

“Kami  berharap apa yang pernah dilakukan bapak bisa menginspirasi generasi muda saat ini,” ujarnya.

Taman Tino Sidin didirikan menyatu dengan rumah keluarga Tino Sidin di Kadipiro, Bantul, Yogyakarta. Sebagai penanda, di halaman depan dipasang patung Tino Sidin karya pematung, Yusman. Seniman ini divisualkan sedang duduk, ia mengenakan topi pet yang menjadi ciri khasnya, tangan kanan memegang kuas dan tangan kiri memegang kertas.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meresmikan patung ini yang menandai berakhirnya pembangunan museum yang sudah dirintis sejak 2014 itu, Kamis (14/12).

Ruangan di selatan rumah utama menjadi tempat memamerkan berbagai piagam penghargaan, buku gambar dan komik buatannya, foto-foto Tino Sidin dengan keluarga dan berbagai tokoh Indonesia serta memorabilia. Salah satu memorabilia unik adalah  kartu pers, bukti bahwa Tino Sidin juga pernah menjadi wartawan koran Suluh Marhaen.

Kegemaran Tino Sidin dalam mengarsipkan semua kegiatannya, kata Mike Susanto sangat membantu pendirian museum ini. Publik dapat mengetahui jika Tino Sidin adalah sosok yang multi talenta. Ia adalah seniman lukis, komikus, aktivis pramuka, pejuang kemerdekaan, penghayat kepercayaan, pemain film dan ahli bela diri.

Sebuah lemari di pojok ruangan masih tersimpan kwitansi bukti Tino Sidin pernah meminjam uang dari Presiden Republik Indonesia, Soeharto. Ia pinjam sebesar Rp 7 juta.

“Uang itu digunakan untuk membangun rumah ini,” ujar Titik saat menjelaskan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,

Sedangkan lantai dua dibagi menjadi ruang pamer lukisan dan sketsa karya Tino Sidin, galeri serta ruangan belajar menggambar. Bagi pengunjung yang tertarik, mereka bisa belajar menggambar sambil mengikuti rekaman video Pak Tino Sidin mengajar menggambar.

Di ruangan yang berada dibawah perpustakaan inilah, para pengunjung bisa merasakan kembali “kehadiran” Tino Sidin melalui acara “Gemar Menggambar”.

Saat mengunjungi museum ini, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati menyempatkan diri ikut belajar menggambar. Dengan mengikuti contoh yang diberikan Tino Sidin, Sri Mulyani menggambar seekor burung pelatuk.

“Menggambar itu menyenangkan,” ujarnya, Sabtu (23/12).

Sri Mulyani juga ikut memamerkan dua karya lukisnya dalam pameran “Tribute to Tino Sidin, 92 Tahun Menginspirasi Indonesia” di Taman Tino Sidin.

Ketika masih kecil, Sri Mulyani sering mengikuti acara “Gemar Menggambar” di TVRI. Ia seperti banyak orang Indonesia lainnya masih ingat komentar Tino Sidin kepada gambar karya anak-anak dari seluruh Indonesia yang dikirimkan kepadanya.

“Ya, bagus,” itulah yang selalu diucapkan Tino Sidin.

Sri Mulyani mengatakan ucapan ini mendorong anak-anak memiliki rasa percaya diri dan berani berkreasi.

“Ini adalah upaya luar biasa dari Pak Tino Sidin agar anak-anak Indonesia mempunyai perasaan bisa, ia membangun karakter anak Indonesia agar bisa masuk dalam sebuah pengalaman,” ujarnya.

Pasangan suami-istri, Airlangga dan Nurhidayati bersama anaknya, Tika mengunjungi museum ini pada liburan akhir tahun 2017. Keluarga dari Palangkaraya ini mendorong anaknya menggambar bersama Pak Tino Sidin lewat video rekaman.

 “Ini jauh lebih bagus (menggambar) dari pada anak-anak bermain smartphone, sebab membuat pikiran menjadi lebih terbuka,” ujar Nurhidayati.

Tino Sidin memang tidak memiliki karya lukis yang “spektakuler” seperti maestro Affandi, Basuki Abdullah atau Sujodjono. Tetapi ia telah menggunakan seni  untuk  mendidik jutaan anak di Indonesia agar mempunyai sikap berani berkreasi!

Ia pantas menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah seni rupa Indonesia!

Bambang Muryanto