Dari Inklusif Menjadi Eksklusif

Dari Inklusif Menjadi Eksklusif

foto: pixabay.com

Ilustrasi

Independen --- Mencermati kondisi hari ini, tantangan yang harus dijawab pemerintah adalah sekolah yang semakin terkotak-kotak lantaran identitas keagamaan yang dianut siswanya. Sekolah akan semakin sulit menjadi ruang dialog karena tingkat keragaman latar belakang siswanya yang rendah, dan semakin eksklusif.

Radikalisme peserta didik bisa meliputi semua agama, bukan hanya Islam. Kini sekolah-sekolah telah tersekat-sekat oleh agama. Sekolah-sekolah negeri yang menggunakan  embel-embel agama semula menerapkan sistem inklusif menjadi ekslusif. Sekolah sudah terkena sindrom mayoritas, penganut agama terbanyak akan resisten terhadap penganut minoritas. “Fenomena seperti ini belakangan sangat kuat. Jadi tak ada lagi ruang publik yang mempertemukan keberagaman dari siswa ini,” jelas aktivis pendidikan dari Walagri Aksara, Aripin Ali kepada independen.id, Sabtu, 26 Agustus 2017.

Menurut Aripin, persoalan radikalisme agama yang semakin kuat di kalangan pelajar juga disebabkan sistem pendidikan di sekolah yang tak terhubung dengan persoalan di dunia luar. Siswa kehilangan daya kritis dalam menangkap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di lingkungan mereka, seperti konten-konten radikalisme agama yang mudah diakses melalui internet. “Jika dunia pendidikan menerapkan pendidikan kritis, intelektualitas, persoalan artikel garis keras tak akan mudah berpengaruh terhadap siswa,” katanya.

Baca: Sekolah dan Benih Radikalisme

Persoalan utamanya dalam dunia pendidikan, kata Aripin, adalah tarik ulur kepentingan politik di dalamnya. Tiap kali ganti menteri pendidikan akan mengubah arah kebijakan pendidikan. Ia menilai tidak ada perubahan signifikan. “Pendidikan hanya tambal sulam saja seperti ini,” katanya.

Belum lagi ada kepentingan-kepentingan politik seperti misalnya mengubah kurikulum, melibatkan penerbit-penerbit buku untuk bagi-bagi jatah projek percetakan buku sekolah. “Jadi sangat naif kalau menyalahkan pendidikan agama sebagai akar persoalan radikalisme,” kata Aripin.

Berbagai survei menunjukkan kondisi sekolah yang tidak “kondusif” menumbuhkan sikap toleransi, dilihat dari karakter siswa. Meski perkembangan dunia informasi digital memberi pengaruh terhadap akses informasi siswa, sekolah sebagai ruang pendidikan seharusnya merespon kondisi ini. Bukan sebaliknya mengabaikan atau bahkan memperkuat pandangan tersebut dalam beragam praktik, yang secara tidak langsung memperkuat sikap radikal siswa dan melemahkan sikap toleransi.

Berikut beberapa riset yang berhasil dikumpulkan Independen.

  1. Centre for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta melakukan survei terhadap tiga SMU negeri favorit di kota  berjuluk City of Tolerance ini. Menggunakan metodologi etnografi, suvei ini menelusuri praktik “Islamisasi” kultur sekolah dan dampaknya terhadap ruang publik siswa di sekolah. Serta bagaimana dominasi ruang publik oleh satu golongan ini ditanggapi dan diinterpretasikan para siswa.
  2. Survey yang dilakukan Setara Institute terhadap siswa dari 114 SMA di Jakarta dan Bandung pada 2015 terdapat 16,9 persen siswa menyatakan ISIS adalah pejuang mendirikan agama Islam. Survei ini juga menunjukkan siswa SMA cukup aktif mengakses informasi melalui internet, satu sisi adalah berita baik. Di sisi lain  mencemaskan jika pemilihan informasi tidak tepat.
  3. Sedangkan Survei Wahid Foundation dan Kementerian Agama pada 2016 pada anggota kerohanian Islam, dari 1.600 responden, 60 persen di antaranya siap menyatakan siap berjihad di daerah konflik agama, seperti Poso dan Suriah. Angka ini menjadi naik, ketika ditanyakan kesiapan itu dilakukan di masa mendatang. Sekitar 33 persen menilai tokoh radikal adalah muslim sejati.
  4. Peneliti dari Pusat Penelitian Pendidikan dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag RI  melakukan riset terkait keterlibatan alumni Organisasi Kerohanian Islam salah satu SMKN di Klaten terhadap aksi terorisme. Pendidikan keagamaan yang mereka akses di luar sekolah mempunyai pengaruh cukup besar pada pandangan radikal siswa SMA. Selaras dengan survei yang dilakukan Setara Institute, sumber pengetahuan agama siswa SMA tidak hanya dari sekolah tapi juga kegiatan di luar sekolah, melalui jejaring alumni atau kelompok pengajian.
  5. Survei terbaru dilakukan salah seorang mahasiswa Universitas Paramadina menunjukkan konten radikal dan media sosial memberi andil pembentukan sikap radikal siswa SMA. Sehingga muncul Lone Wolf Self Radicalization pada pelajar SMA. Ini terjadi ketika insititusi pendidikan tidak bergerak cepat mengantisipasi perkembangan teknologi, atau bahkan permisif dengan perubahan yang terjadi.
  6. IPAC melakukan riset aktivitas online dan pemanfaatan sosial media pada kelompok teroris Indonesia. Riset ini juga  mengungkap kelompok muda sebagai sebagai target kelompok radikal baru melalui sosmed dan diharapkan muncul  gerakan lone wolf dari kelompok ini.

 

Muhammad Irham I Riset Independen