Sulit Mengubah Pandangan Miring pada Penderita Kusta

Sulit Mengubah Pandangan Miring pada Penderita Kusta

foto: MG

Penderita kusta yang telah sembuh saat mendapat kunjungan dari petugas kesehatan.

Sampang -- Penanganan kusta tidak cukup hanya mencari penderita, memberikan pengobatan cuma-Cuma hinggadinyatakan sembuh. Juga memastikan mantan penderita penyakit ini bias diterima kembali di lingkungan sosialnya.

“Ini tahapan paling sulit,” kata Koordinator Program Penanganan Penyakit Menular Sampang, JawaTimur, Khairil Anwar di Sampang, beberapa bulan lalu.

Ada dua hal yang harus dikerjakan pendamping. Selain menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri penderita yang selama ini dikucilkan, juga perlu mengubah pandanga nmasyarakat yang selama ini menganggap penderita kusta menjijikkan dan menderita penyakit kutukan.

Khairil mengatakan mengubah pandangan masyarakat tidak semudah membalik telapak tangan. Keyakinan kusta adalah penyakit kutukan telah tertanam. Meskipun sudah dijelaskan, setelah diobati, penderita kusta tidak akan menularkan penyakitnya walaupun belum sembuh. “Seperti sudah menjadi ‘keyakinan’,” katanya.

Seorang penderita lepra, akan menularkan penyakitnya diantaranya melalui kontak keringat, alas tidur, pakaian dan alat mandi. Tapi itupun untuk penderita kusta basah multibasilar dan belum diobati.

Sementara untuk penderita kusta kering atau pausibasiler atau penderita yang sudah diobati meskipun belum sembuh, tidak akan menularkan penyakitnya.

“Apalagi, orang-orang yang selama ini diduga terlibat kontak langsung dengan penderita, baik keluarga maupun tetangga, dilakukan kemo atau pengobatan meskipun mereka tidak atau belum dinyatakan tertular,” jelas Khairil yang bertugas menangani kusta sejak 2010.

Pengobatan secara kemo itu, jelas dia, dilakukan setelah ditemukan satu penderita yang sudah dinyatakan terkena kusta, baik kusta kering maupun kusta basah.

“Penjelasan itu sudah kami sampaikan secara intens baik melalui kegiatan perkumpulan warga, posyandu atau kesempatan lainnya. Namun, hal itu masih sulit akibat keterbatasan pengetahuan warga dan stigma yang sudah tertanam selama ini,” jelasnya.

Karena keterbatasan pengetahuan dan stigma masyarakat itu, tidak sedikit mantan penderita kusta kesulitan membangun ekonominya karena dianggap sangat menjijikkan. Jika mereka jualan makanan, kata Khairil, pasti tidak akan laku. Makanan produksi mereka tidak ada yang membeli.

Saat ini, selain mengembalikan semangat hidup para penderita dan mantan penderita kusta, ia berupaya melakukan penyadaran lingkungan social agar para penderita dan mantan penderita penyakit yang juga dikenal dengan lepra itu bias diterima.

Ayah dua orang anak itu menggandeng lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masalah tersebut, serta sejumlah tokoh agama di desa-desa yang ditemukan penderita kusta.

Sumber data: Dinas Kesehatan Jawa Timur

Khairil yang bekerja di Puskesmas Camplong itu mengaku  juga mendekati kepala desa agar mantan penderita kusta itu juga dilibatkan di pemerintahan atau kegiatan-kegiatan di tingkat desa. Sementara untuk penderita dan mantan penderita, mereka mendapat pelatihan usaha mandiri, agar bias memulai hidup baru dengan bekerja sesuai dengan keahliannya.

“Mereka juga kami fasilitasi dengan membentuk semacam forum diskusi sesame penderita dan mantan penderita untuk meningkatkan rasa percaya diri yang selama ini luntur akibat dikucilkan,” kata pria kelahiran 1973 tersebut.

Dul Kari, 55, salah seorang mantan penderita kusta asal Desa Darma, Kecamatan Camplong, Sampang, mengaku dirinya belum sepenuhnya diterima masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Sebagian tetangganya masih membatasi diri untuk bergaul.“Saat ada hajatan, saya jarang diundang, hanya isteri saya yang diajak,” katanya saat ditemui di rumahnya, beberapa bulan lalu.

Pria yang sekarang ini menderita cacat di bagian tangan dan kakinya akibat kusta itu, kini membuka usaha membuat kursi kayu di rumahnya. Meski mengalami penolakan, ia tidak membatasi diri bergaul dengan tetangga agar kembali diterima.

Dul Kari tetap melakukan shalat berjamaah di masjid, dan berbincang dengan tetangganya. “Saya mencoba melakukan itu karena tidak tahu bagaimana cara membuktikan saya sudah sembuh,” kata Dul Kari

Ghazi Mujtaba