Lobi Menteri Susi di Negeri Sakura

Lobi Menteri Susi di Negeri Sakura

foto: doc: KKP

Pertemuan Menteri Susi Pudjiastuti dengan Kadin Jepang, Jumat (14/04)

INDEPENDEN – Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti melawat ke negeri Sakura dalam sepekan ini. Dalam salah satu lawatan, ia menemui Ketua Keindaren (Kamar Dagang dan Industri Jepang) Shigeo Chiyagi, Menteri Pertahanan Jepang Tomomi Inada, dan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Nobuo Kishi serta Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang Yuji Yamamoto, Jumat (14/04).

Dalam pertemuannya dengan Ketua Keindaren Shigeo Chiyagi di Kantor Keindaren, Tokyo, Menteri Susi mengajak Jepang untuk memperkuat investasi di sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Menteri Susi mengucapkan terima kasih atas investasi para pengusaha Jepang selama ini. Ia juga meminta maaf atas kebijakan dan aturan yang diterapkannya yang mungkin membuat takut para pengusaha.

Menurut Susi, pihaknya harus bertindak tegas dan keras dengan menenggelamkan ratusan kapal asing yang mencuri ikan di Indonesia, untuk menjaga kedaulatan laut Indonesia dari praktik pencurian ikan. Untuk itu, ia meminta para pengusaha Jepang untuk tidak takut berinvestasi di Indonesia sebab tindakan keras tersebut hanya dilakukan terhadap mereka yang melakukan kejahatan atau tindakan ilegal. “Saya yakin, pengusaha Jepang adalah pengusaha yang taat aturan,” ungkap Menteri Susi dalam keterangan Persnya.

Menteri Susi menjelaskan, kebijakannya ini dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan  yang berlaku di Indonesia. Menurutnya, berkat kebijakan tersebut, sumber daya perikanan Indonesia terus mengalami peningkatan.

"Kita melihat Jepang berkeinginan kuat untuk revitalisasi kerja sama dalam segala bidang. Jepang juga sangat serius menangani isu perlindungan sumber daya ikan sebagaimana prioritas Indonesia," tutur Menteri Susi. Oleh karena itu, Menteri Susi menawarkan kesempatan investasi pengolahan perikanan hingga 100% bagi asing kepada Jepang. "Saya tunggu Jepang untuk berinvestasi di Indonesia," ujar Menteri Susi.

Chiyagi menyambut baik tawaran investasi dari Menteri Susi tersebut. Chiyagi bahkan sempat melontarkan pujian. “Ini adalah salah satu pertemuan yang luar biasa dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia. Tidak hanya berani, dia juga punya passion yang kuat, dan pengetahuan yang mendalam tentang aturan kelautan. Sungguh luar biasa,” tutur dia.

Menurut Chiyagi, tawaran investasi dari Menteri Susi tak hanya di bidang pembangunan infrastruktur yang terpusat di Jakarta, tetapi juga pembangunan infrastruktur di pantai laut (seashore) dan daerah terpencil. “Dia (Menteri Susi), mengulang kembali bahwa Indonesia membuka peluang investasi untuk Jepang. Bukan hanya terkait produk kelautan, seperti pengolahan ikan, tetapi juga seaplane (pesawat terbang air) untuk ekspor dari Indonesia ke Jepang,” terang Chiyagi.

Adapun pada pertemuan Menteri Susi dengan Menteri Pertahanan Jepang Tomomi Inada di Kantor Kementerian Pertahanan Jepang, keduanya membicarakan kemitraan strategis Indonesia dan Jepang di sektor kemaritiman. Keduanya sepakat, kerjasama kedua negara akan saling menguntungkan mengingat keduanya merupakan negara kepulauan yang memiliki beberapa persamaan.

Tak kalah menarik, dalam pertemuan tersebut Inada mengungkapkan bahwa dirinya telah lama memperhatikan gerak-gerik Menteri Susi karena tindakan tegasnya memberantas illegal fishing di Indonesia. "Sebelum saya menjabat sebagai Menteri Pertahanan saya menjabat sebagai pengambilan kebijakan politik, dari saat itu kami sudah memperhatikan gerak-gerik Menteri Susi," aku Inada.

Pada pertemuannya dengan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Nobuo Kishi, Menteri Susi juga mendapat deklarasi dukungan Jepang agar Indonesia menjadi anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). "Tadi Jepang menyatakan sudah memutuskan mendukung Indonesia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB," ujar Menteri Susi usai pertemuannya dengan Kishi.

Sebagai informasi, pada pertengahan 2017, Dewan Keamanan PBB akan memilih 5 negara anggota Dewan Keamanan PBB berstatus non permanen di New York. Kelimanya akan dipilih mewakili kategori area, yaitu 1 Asia Pasifik, 1 kawasan Eropa Timur, 1 Amerika Latin, dan 2 negara Afrika.

Jepang saat ini merupakan anggota Dewan Keamanan PBB non permanen yang mewakili Asia Pasifik. Untuk itu, dukungan dari Jepang akan sangat dibutuhkan Indonesia yang mencalonkan diri untuk menjadi anggota Dewan Keamanan PBB non permanen periode 2019-2020.

Di hari yang sama, Menteri Susi juga mengunjungi Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang Yuji Yamamoto dan Direktur Jenderal Perikanan Jepang guna menjajaki potensi kerjasama lainnya di bidang perikanan.