Para Pengelola Mesin Pengeruk Emas Aceh

Para Pengelola Mesin Pengeruk Emas Aceh

foto: Dok. Tim Jaring

Kerusakan lingkungan di area tambang emas ilegal di Aceh. Alat berat digunakan untuk menambang.

MEULABOH - EDI baru selesai memeriksa kerusakan mesin alat berat jenis eskavator yang rusak. Warga Medan, Sumatera Utara itu, berjalan kaki dan menunggu tumpangan untuk turun ke pemukiman penduduk. Edi adalah mekanik yang dikirim oleh pemilik alat berat dari Medan ke Pante Ceureuman untuk memeriksa kerusakan alat berat tersebut.

Setelah Edi mengetahui di mana kerusakan mesin, dia akan memperbaikinya. Jika ada suku cadang yang harus dibeli maka akan dikirim dari Medan ke Aceh. Alat-alat berat yang dia perbaiki digunakan untuk menggali lubang di dasar sungai untuk menyedot lumpur yang mengandung emas. Alat berat ditinggalkan di pinggir sungai dijaga oleh beberapa orang.

Hari itu, Edi tidak bisa memperbaiki mesin alat berat tersebut karena ada suku cadang yang harus dibeli di Medan, Sumatera Utara. Sepuluh jam untuk mengirim barang dari Sumatera Utara ke Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Jika dikirim dengan bus umum,bisa memakan waktu lebih lama. “Sudah tiga hari disini, saya bekerja di perusahaan yang menyewakan alat berat untuk pengusaha (tambang),” kata Edi kepada Tim Jaring, beberapa waktu lalu. Baca: Mereka yang Tak Tersentuh di Tambang Ilegal.

Edi mengaku, meskipun alat berat tersebut disewakan hingga beberapa bulan, tapi kerusakan tetap ditanggung oleh pemilik alat berat. Termasuk mengirimkan teknisi untuk memperbaiki. Operator alat berat juga digaji oleh pemilik alat berat.

“Perusahaan tempat saya bekerja telah beberapa bulan menyewakan alat berat untuk pengusaha disini, saya tidak tahu jumlah alat berat perusahaan kami yang beroperasi disini, karena ditempat saya bekerja ada beberapa teknisi,” katanya.

Edi mengaku telah beberapa kali dikirim oleh pemilik alat berat untuk memperbaiki alat berat yang rusak. Biasanya alat berat rusak karena terlalu lama bekerja, bahkan ada yang lembur pada malam hari.

Menurut pengakuan Edi, biaya untuk menyewa alat berat biasanya dihitung per jam, namun ada juga yang menyewa bulanan, tergantung perjanjian antara penambang dengan pemilik alat berat. “Kalau tempat saya bekerja itu dihitung Rp250.000  untuk satu jam. Dalam satu bulan bisa mencapai Rp50 juta lebih,” ujarnya.

Sementara biaya untuk mengangkut alat berat dari Medan ke lokasi pertambangan emas, itu ditanggung oleh pihak yang menyewa, termasuk bahan bakar. Kerusakan alat berat ditanggung oleh pemilik. Gaji operator alat berat juga ditanggung oleh pemilik alat berat.

Edi harus menunggu lama, karena suku cadang harus didatangkan dari Sumatera Utara. Banyak suku cadang alat berat tidak ada di Meulaboh, dan harus dibeli di Medan, jadi alat berat tidak bisa di perbaiki dalam satu hari.

Tidak hanya Edi, beberapa orang Aceh juga memilih berbisnis di penyewaan alat berat untuk tambang ilegal di Aceh. Seperti Tami, warga Banda Aceh, Provinsi Aceh yang mengelola beberapa alat berat mengatakan memiliki delapan alat berat yang beroperasi di pertambangan emas di Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya.

Ia mengaku sudah setahun menyewakan alat berat untuk pengusaha pertambangan emas di dua kabupaten tersebut. Satu alat berat disewa Rp 60 juta per bulan. Kerusakan alat berat juga harus ditanggung pemilik atau pengelola alat berat.

Sebelumya ada 12 alat berat yang dia sewakan. Empat diantaranya telah dibawa pulang karena risiko menyewakan alat berat ke pertambangan emas sangat besar. Seperti terendam air karena banjir dan disita polisi. “Meskipun saat ditangkap polisi biaya ditanggung penyewa, saya rugi karena alat berat tidak bisa bekerja dan teronggok di kantor polisi,” kata Tami.

Kalau masa sewa sudah habis, dia akan memulangkan semua alat beratnya. Termasuk dua alat yang terendam di dalam sungai karena rusak saat menyeberangi sungai dan terseret banjir. “Saya masih berusaha mengeluarkan dua alat berat tersebut, banyak habis uang,” ujarnya.  (Tim JARING)