Peluang ISIS Membuka Jaringan Baru di Indonesia

Embed from Getty Images

INDEPENDEN.ID, Jakarta - Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencatat sedikitnya 25.000 militan asing dari 100 negara di dunia bergabung dengan ISIS di Suriah. Setelah basis ISIS di Mosul dan Raqqa dibombardir Juli 2017 silam, puluhan ribu sel-sel jaringan teroris ini diyakini tak sepenuhnya mati. Mereka kemungkinan akan membuat jaringan baru di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebab, dalam catatan PBB setidaknya terdapat 700 warga Indonesia yang pernah bergabung dengan ISIS dan berpotensi membuat jaringan baru setelah kembali dari Suriah.

"Mereka akan pergi secara underground. Sebagian akan menjadi sleeping cell, dan sebagian akan mencari daerah operasi untuk mendirikan sistem khilafah. Mencari daerah-daerah yang punya kelompok untuk mendirikan negara Islam. Hal ini yang terjadi di Marawi, Filipina," kata anggota Tim ASEAN Research Group, Riefqi Muna dalam seminar 'Jejaring ISIS: Tantangan Regional dan Global' di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Senin (11/09).

Riefqi melanjutkan, kelompok yang rentan disusupi ISIS adalah mereka yang mengeksploitasi jargon-jargon ketidakadilan di suatu wilayah. Lalu, menawarkan solusi mengganti sistem pemerintahan dengan sistem khilafah. "Kelompok ini akan memanfaatkan potensi konflik di daerah tertentu yang sudah panas. Dulu di Poso itu sudah ada," katanya.

Selain itu, iming-iming yang selalu dijual jaringan ISIS kepada kader-kader barunya adalah surga setelah kematian. Mereka akan mencari orang-orang yang putus asa dengan kehidupan dan punya motivasi bahagia abadi.

"Teroris itu kan orang yang mau mati. Mereka menawarkan langkah keabadian yang membahagiakan," kata Refqi.

Direktur Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), Ryantori menilai pasca ISIS terdesak di Suriah, jaringan mereka akan lebih militan dan beringas. Menurutnya, sel-sel ISIS tak akan memikirkan jumlah orang yang mereka rekrut, yang penting militan dan siap mati. "Tak perlu banyak orang untuk direkrut, mereka membuat terbatas. Tapi fenomena saat ini teroris sudah tak ragu lagi membunuh warga sipil. Mereka meledakkan diri di tempat umum. Jadi yang bukan bagian dari mereka tak persoalan untuk dibunuh," katanya.

Ryantori juga menilai persoalan utama kemunculan jaringan baru dari ISIS atau teroris adalah ketidakadilan di suatu wilayah atau negara. Persoalan ini yang menjadi tantangan dalam pencegahan tumbuhnya jaringan baru dari ISIS.

Perlu Kerjasama Lintas Batas

Wilayah yang perlu diwaspadai Indonesia terkait jaringan ISIS di ASEAN adalah Filipina. Sebab, secara geografis jarak Indonesia-Filipina berdekatan atau hanya butuh waktu 3 jam dengan menggunakan perahu bermesin 1 PK.

"Lalu-lintas orang, barang, bahkan senjata untuk masuk ke Indonesia peluangnya sangat besar. Ini tak bisa dilakukan hanya satu negara, jadi perlu kerjasama lintas batas dalam hal ini Indonsia, Filipina dan Malaysia," kata Peneliti Politik Internasional LIPI, Sandy Nur Ikfal Rahardjo.

Sandy memetakan letak negara Filipina yang berdekatan dengan Indonesia juga dengan Malaysia. Umumnya warga-warga di perbatasan ketiga negara ini hidup dengan pendapatan ekonomi di bawah rata-rata. Dengan persoalan ekonomi ini, sangat rentan bagi mereka disusupi jaringan ISIS Filipina. "Pendidikan yang minim, kemiskinan warga perbatasan ini membuka lintas batas dan kegiatan terorisme. Ini senjata-senjata kan sudah pernah ada yang masuk ke Poso," katanya.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah pernah melakukan kerjasama lintas batas dengan patroli bersama dengan Filipina dan Malaysia. Kerjasama ini dilakukan pada Juni 2016 silam menyusul maraknya penculikan terhadap anak buah kapal oleh kelompok teroris di Filipina.

"Persoalan patroli bersama ini perlu dievaluasi lagi. Seperti apa mekanismenya itu harus jelas. Dan satu lagi, sumber daya kita kan terbatas, jadi perlu melibatkan masyarakat lokal atau masyarakat di perbatasan untuk menjaga wilayah masing-masing," kata Sandy.

M. Irham