Kamp Coconet, Wadah Berbagi Pengalaman Aktivis se-Asia Tenggara

Kamp Coconet, Wadah Berbagi Pengalaman Aktivis se-Asia Tenggara

foto: engage media

ilustrasi Coconet Camp

INDEPENDEN.ID, Yogyakarta - Seratusan aktivis pro-demokrasi dari pelbagai belahan dunia berkumpul di Yogyakarta untuk membicarakan kerentanan serangan yang terkait dengan dunia digital, Minggu, 22 Oktober 2017. 

Para aktivis berasal dari Belanda, Korea Selatan, Taiwan, Amerika Serikat, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Myanmar, Timor Leste, Indonesia, Australia, Pakistan, India, Bangladesh, Laos, dan Nepal. Konsen mereka antara lain; kebebasan pers, LGBT, gerakan keamanan digital, pemilu demokratis, dan gerakan kebebasan berpendapat. Pertemuan ini bertajuk "Coconet Camp", berlangsung selama 5 hari mulai 22 - 26 Oktober 2017. 

Di sejumlah negara, aktivis sangat rentan menjadi sasaran peretasan atau tuduhan pencemaran nama baik atau penghinaan. Di Indonesia, salah satu contohnya adalah kasus jurnalis senior, Dhandy Laksono yang dilaporkan ke Polisi lantaran menulis opini berbasis data mengenai perbandingan bekas Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dengan aktivis HAM asal Myanmar, Aung San Suu Kyi. Opini tersebut ia tulis di dalam akun Facebook pribadinya.

Kasus peretasan dan tuduhan pencemaran nama baik dan penghinaan melalui media sosial ini pun tak hanya terjadi di Indonesia. Salah satu peserta dari Myanmar, Maung Seungkha pernah dipenjara 7 bulan karena membuat puisi kritik atas kondisi politik di akun Facebooknya. Ia merasa beruntung bisa ikut dalam pertemuan internasional ini, "Melalui camp ini, kita bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman dari negara lain, khususnya tentang keamanan menggunakan aplikasi di
dunia maya," katanya.

Seungkha menambahkan, kebebasan berekspersi di negara masih dikekang. "Tapi melalui kamp ini, saya akan mempromosikan kebebasan berekspresi," katanya.

Peserta lainnya, Benyamin Andreanus berasal dari Timor Leste. Di negaranya sendiri kebebasan bereskpresi sudah dijamin melalui aturan pemerintah. "Tapi di Timor Leste belum ada pelatihan digital security. Melalui kamp ini saya bisa berpartisipasi dan mendapatkan referensi untuk saya sebarkan ke teman-teman," katanya.

Persoalan digital yang terjadi di Timor leste, kata dia, adalah berita palsu atau hoax yang masih beredar dan dipercaya sebagian
masyarakat. "Jadi memang perlu melakukan penyaringan dalam menerima informasi yang tersebar di dunia maya," tambahnya.

Sementara itu, Lut Latt Soe, peserta asal Myanmar lainnya melalui kamp Coconet dirinya mendapat pengetahuan yang diberikan dari peserta lain. "Gunanya untuk membangun situasi yang lebih baik di negara saya," katanya.

M. Irham