Melipir di Pantai Saporkren Raja Ampat

Melipir di Pantai Saporkren Raja Ampat

foto: M. Irham

Penduduk Kampung Saporkren, Raja Ampat sedang santai di tepi pantai, Kamis (12/10)

INDEPENDEN.ID, Papua Barat - Margaretha Miom berteduh bersama dua temannya di bawah pohon kelapa, pinggir pantai Kampung Saporkren, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Hari itu, perempuan berusia setengah abad sedang tidak mencari ikan. "Kami sedang tidak melaut. Nanti malam baru keluar, kan terang bulan. Mancing malam, pulang pagi," katanya sambil sesekali mengunyah buah pinang, Kamis (12/10).

Perempuan di Kampung Saporkren hampir seluruhnya bekerja sebagai nelayan. Mereka berlayar ke tengah laut hingga 5 mil dari tepi pantai untuk mencari ikan.

"Di sini perempuan dan laki-laki sama kuat. Perempuan dan laki-laki mencari ikan sendiri-sendiri. Jadi tidak baku harap," kata Margaretha.

Ikan yang didapat dari hasil memancing di antaranya Ikan batu, gutila, bubaran, tenggiri dan cakalang. Hasil-hasil ikan tersebut nantinya dijual ke Pasar Waisai.

"Kalau laki-laki mencari ikan tidak sampai mereka jual di pasar. Kalau perempuan itu mulai dari mencari ikan sampai dijual di pasar," tambah Margaretha.

Dalam sehari seorang nelayan perempuan bisa mendapatkan ikan sebanyak 12 ekor. Seluruhnya dijual dengan harga Rp 150 ribu.

"Kalau perempuan bekerja, dapur bisa menyala terus," tambah Margaretha.

Kata Margaretha, perempuan di Kampung Saporkren juga bertani dengan hasil kebun berupa pisang, sayuran, cabai, dan sirih. Sebagian untuk dikonsumsi sendiri. "Kadang perempuan kerja buang batu, angkat pasir, pekerjaan apa saja yang bisa jadi uang, dong (kami-red) akan bekerja," katanya.

Kampung Saporkren merupakan salah satu kampung yang menjadi tujuan wisata di Pulau Waisai, Raja Ampat. Kampung ini berada di tepian pantai dengan hamparan pasir putih dan ombak yang cukup tenang. Kampung berpenduduk sekitar 100 keluarga tepat berada di bawah tebing yang diselimuti hutan belantara. Rumah-rumah kayu tertata rapi, dengan penduduk yang siap  menyapa ramah wisatawan yang datang.

Di Pulau Waisai sendiri sangat sulit untuk mengakses pantai-pantai pasir putih. Kebanyakan pantai sudah diprivatisasi oleh penginapan-penginapan komersial. Plang-plang dilarang masuk dipasang hampir di tiap tepian pantai.

"Biasanya kalau ramai di sini hari-hari besar seperti hari raya lebaran, atau akhir pekan," kata Yus Lasut salah satu warga Kampung Saporkren.

Selain keindahan pantainya, di Kampung Saporkren wisatawan juga bisa melihat keberadaan Burung Cendrawasih merah dan cendrawasih Belah Rotan di alamnya. Bagi mereka yang ingin melihat burung khas Papua ini, bisa datang di pagi buta atau sore hari.

Perjalanan

Untuk mencapai Kampung Saporkren bisa dilakukan dengan pesawat dan kapal laut. Akan tetapi, kebanyakan wisatawan mengambil jalur kapal laut dari Kota Sorong, Papua Barat.

Dari Kota Sorong, wisatawan dapat membeli tiket kapal cepat atau kapal feri untuk menuju Pulau Waisai dari Pelabuhan Sorong atau Pelabuhan Rakyat. Harganya bervariasi mulai dari Rp 80 - 260 ribu. Kapal berangkat saban hari pukul 09.00 WIT dan 14.00 WIT. Waktu perjalanan 2 - 3 jam.

Jarak dari Pelabuhan Waisai menuju Kampung Saporkren sekira 25 kilometer. Perjalanan bisa dilakukan dengan menyewa kendaraan roda dua atau roda empat. Perjalanan darat menuju Kampung Saporkren pun menjadi objek wisata tersendiri. Sebab, perjalanan melewati perbukitan dengan pemandangan hutan lindung di kanan dan kiri jalan.
 

M. Irham