Menelisik Cengkraman Prostitusi Online Anak

Embed from Getty Images

foto: Getty Images

Ilustrasi

Independen, Makassar -- Berbaju merah selutut dan berjilbab hitam, S (16), berjalan memasuki kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Selatan, Rabu (5/10) sore itu. Ia menjinjing tas cokelat. Bersamanya, tiga perempuan lain turut serta.

Ia baru saja tiba dari Ambon, Maluku dan langsung digiring ke kantor P2TP2A. S korban perdagangan manusia yang pelakunya tak lain kerabatnya sendiri. Remaja itu diselamatkan setelah berhasil melarikan diri dan melapor ke pihak berwajib di Maluku.

Alita Karen dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sulawesi Selatan yang mendampingi S mengatakan korban beruntung karena belum sempat dijadikan pekerja seks. Selama dua bulan di Maluku, S selalu mencari cara melarikan diri dengan menghubungi keluarganya. Berkat bantuan banyak pihak, rencana S pulang terlaksana juga. Kini ia dikembalikan ke keluarganya dan akan kembali melanjutkan sekolah. 

Kasus yang menimpa S jadi bukti praktik perdagangan manusia ada di sekitar kita. Pun kebanyakan para korban masih berusia anak-anak. Modus penjualan S, memadukan cara konvensional dan bantuan teknologi informasi.

Kerabat yang menjual S mendekatinya lalu menjanjikan pekerjaan di sebuah cafe di Ambon. Fotonya lalu dikirim menggunakan aplikasi pengirim pesan WhatsApp ke seseorang yang siap menerimanya di sana. Setelah sepakat, proses keberangkatan pun dilakukan.

Tapi di  cafe itu, pekerjaan yang dibebankan ke S tak seperti yang dijanjikan. Di sana tempat kerja S tidak menyediakan kopi, kecuali minuman beralkohol. Ia pun bekerja dengan pakaian seksi. Beberapa kali dia dipaksa menemani tamu, sampai diajak untuk meladeni syahwat pelanggan. Tapi S, selalu mencari alasan untuk menghindar. 

Per April 2016 lalu, KPI juga mencatat, sebanyak tujuh orang berhasil dipulangkan dari Maluku ke Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka berada di Maluku sejak 2015 dan terjaring operasi rutin Polda Maluku. Ketujuh orang itu masih berstatus anak dengan usia antara 15 hingga 17 tahun. Modus perekrutan mereka sama dengan “S”, via media sosial.

Menurut Alita Karen, Makassar kini menjadi zona merah perdagangan manusia. Dengan letak geografis yang strategis, Makassar tak hanya menjadi daerah tujuan, tapi juga tempat transit dan pemasok korban perdagangan manusia. “Alur penyelundupan biasanya melalui pelabuhan umum yang ada di Makassar dan Kota Parepare,” tegasnya.

Data KPI Makassar sejalan dengan data kepolisian. Menurut Kepolisian jumlah kasus perdagangan manusia terus meningkat. Jumlah kasus yang semula empat pada 2015, terus naik menjadi lima kasus pada 2016. Jumlah korban saat itu mencapai 475 orang.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak juga mencatat, kasus kekerasan perempuan dan anak sepanjang 2016 terjadi 297 kali, naik signifikan di tahun 2017 menjadi 770 kasus per Oktober. Data T2TP2A memang belum dipilah antara kasus perdagangan manusia atau kekerasan lainnya. Tapi kebanyakan korban adalah anak-anak dan perempuan.

Berbeda dengan modus sebelumnya, kasus perdagangan manusia di Sulawesi Selatan kini tak lagi berlangsung dengan cara getok tular atau lewat mulut ke mulut dan menggunakan percakapan via telepon. Di provinsi selatan pulau Celebes ini, praktik perdagangan manusia berbentuk sajian prostitusi yang berlangsung dengan menggunakan aplikasi teknologi informasi atau daring. Aplikasi media sosial seperti yang juga berlangsung di Jawa, Bali dan Sumatera.

Di Makassar dan sekitarnya, media sosial menjadi salah satu medium yang masif digunakan pelaku bisnis perdagangan manusia. Kasus pertama yang berhasil dibongkar terjadi pada 2015 dengan pelaku utama bernama Azis alias Azizah atau Cizza. Dua bulan kemudian Wahyu Bongka, pelaku lain juga ditangkap. Keduanya saling mengenal, namun menolak disebut satu jaringan.

Modus yang digunakan Azis dan Wahyu kala itu dengan mengirimkan foto perempuan ke aplikasi BlackBerry Messenger (BBM) pelanggannya. Jika si pemesan merasa cocok, transaksi kemudian dilanjutkan dengan bertemu langsung di sebuah hotel.

Pembayaran akan diterima tunai, bisa pula melalui transfer bank. Lalu Azis dan Wahyu akan menerima komisi setiap transaksi yang berhasil dilakukan. Keduanya juga memasarkan beberapa anak di bawah umur. Namun khusus Azis, ada ratusan orang yang dijualnya.

Rahmat Hardiansya

Laporan ini mendapat dukungan dana dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara melalui fellowship liputan "Kekerasan terhadap Perempuan Melalui Siber".