Menelusuri Prostitusi Anak di Sosial Media

Menelusuri Prostitusi Anak di Sosial Media

foto: Rahmat Hardiansya

Forum chat online.

Independen, Makassar-- Dari jauh ia berjalan sembari matanya sibuk mencari orang yang hendak menemuinya. Maklum, sebagai tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Makassar, kedatangan pengunjung jadi sesuatu yang menggembirakan.

Setelah melempar senyum dan mengangkat tangan sebagai tanda. Ia berjalan mendekat dalam balutan baju tahanan berwarna oranye. Azis nampak berbeda dengan tahanan lain yang berbaju biru, yang hari itu dapat giliran kedatangan penjenguk.

Pekerjaan Azis di dunia hiburan membuka jalan mulus untuk mengembangkan bisnis prostitusi. Ia banyak dikenal orang. Juga sering berganti-ganti profesi, termasuk jadi penyelenggara acara di tempat hiburan malam. Kiprahnya kian tersamarkan setelah ia menjadi penyalur sales promotion girl (SPG) untuk beragam kebutuhan.    

Baca: Menelisik Prostitusi Online Anak 

Foto-foto SPG itulah yang dikumpulkan dalam group BBM. Dia senang menjual orang dengan dalih mendatangkan banyak uang dalam waktu yang singkat. "Saya bahkan saat itu punya dua PIN BBM karena jumlah pertemanan yang sangat banyak," aku Aziz dengan santai.

Dengan rata-rata komisi Rp500 ribu rupiah per pesanan, Azis menjual perempuan dengan harga beragam. Mulai dari kisaran  Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta untuk waktu singkat atau short time. Namun tidak jarang ada yang harganya sampai Rp10 juta untuk kencan semalaman.

Dia mengklaim para pelanggannya adalah kalangan menengah ke atas.  Dari pekerjaan ini, dalam sebulan Azis bisa mengantongi penghasilan Rp15 hingga ratusan juta. Memang pendapatannya tidak menentu, namun jika pesanan sedang ramai,  Aziz mengatakan penghasilannya juga kian besar. “Soal penghasilan, intinya semua barang branded sudah saya miliki, rumah, mobil dan barang-barang lainnya," kata lelaki yang mengaku sudah tiga tahun melakoni bisnis itu.

Kepada Independen.id dia juga mengaku tidak mencari korban dengan sengaja. "Mereka yang datang suka rela untuk dipromosikan, bahkan mengirim fotonya tanpa saya minta," katanya tegas sembari memperbaiki posisi badan.

Menurut Azis, modusnya kala itu tergolong lawas dalam dunia prostitusi. Sebab saat ini penyebaran dan cara pemasaran praktik prostitusi kian beragam, seiring bertumbuhnya aplikasi media sosial. Yang tak banyak berubah hanyalah pelaku, sekaligus penyedia jasanya. "Kadang yang terlihat mereka bekerja sendiri, kenyataannya mereka tetap punya jaringan," tutur pria berkawat gigi itu.

Aziz akhirnya tertangkap polisi saat berada di Kabupaten Bulukumba yang 187 kilometer dari Makassar. Di Sulawesi Selatan, Bulukumba termasuk daerah tujuan wisata. Yang membuatnya kaget, orang yang menangkapnya adalah bekingnya selama ini. "Dia (polisi) juga kaget, karena menganggap yang ditangkap bukan saya. Saat itu, saya memang mengganti semua kontak karena telah dapat info sedang diburu," katanya.

Padahal, kata Azis, orang yang selama ini menjadi “pelindung”-nya itu juga sering memesan perempuan jika kedatangan tamu. "Saya tahu beberapa pejabat, aparat hingga pengusaha yang sering memesan, karena pelanggan saya memang banyak dari kalangan itu."

Sejak tertangkap, banyak aset atau harta miliknya yang lepas. Termasuk uang suap untuk jaksa sebesar seratus juta rupiah yang dibawa kabur kerabatnya. Dalam persidangan, hakim memvonis dia hukuman penjara tiga tahun dari 10 tahun tuntutan jaksa.

Kini,ia hidup di balik jeruji, tetapi bukan berarti putus dari jejaring media sosial lantaran bebas membawa handphone. Meski begitu, ia mengaku tidak lagi menjalankan profesinya. “Hanya memantau saja,” ujarnya.

Keterangan Azis tentang modus prostitusi online melibatkan anak-anak mirip dengan cerita Amiruddin alias Amir Aco. Terpidana mati kasus narkoba ini kedapatan melakukan hubungan seks dengan seorang remaja berseragam sekolah di Lembaga Pemasyarakatan Makassar pada 2016 lalu. Semua komunikasi saat itu dilakukan melalui gadget dan remaja bersangkutan dengan mudah melenggang masuk.

Guna membuktikan beragam modus yang digunakan pelaku prostitusi online, Independen.id melakukan penelusuran melalui Facebook dan Twitter. Dengan bermodalkan kata kunci khusus, seperti open booking (BO) atau bispak (bisa pakai), keberadaan prostitusi online dengan mudah ditemui.

Ada grup terbuka dan tertutup dengan verifikasi yang ribet agar bisa bergabung. Bahkan lebih spesifik, beberapa group ada yang khusus menyediakan anak usia sekolah. Lewat penelusuran pula diketahui, tak semua grup benar-benar menyediakan teman kencan. Ada juga yang merupakan jaringan penipuan berkedok prostitusi.

Di Twitter beberapa akun germo berdalih hanya sebagai alat promosi akun perseorangan yang menyediakan jasa. Seperti akun milik @DaengSexMKS. Hanya saja setelah ditelusui lebih jauh, akun-akun ini masih saling berkaitan.

Independen.id menganalisis akun-akun tersebut menggunakan Tweetreach. Khusus @DaengSexMKS, akun germo ini, memiliki 22 kontributor tetap. Akun @LittleBitBite_3 yang merupakan akun germo dengan pengikut 31.400 orang, adalah akin paling aktif bekomunikasi dengan @DaengSexMKS. Sedangkan akun @athalia_nelly2 (Avail Makassar), paling sering melakukan retweet.  Mereka juga terhubung dengan akun lain di kota berbeda, seperti Jakarta, Palembang, Bandung dan lain-lain.

Akun atas nama Yunitha Oching di Facebook bahkan lebih canggih modus operandinya. Di beberapa grup ia terlihat sangat aktif mempromosikan gadis perawan dan masih sekolah. Namun pada linimasanya, dia merupakan pemilik konter pengisian pulsa.

Setelah dikontak melalui pesan pribadi, akun itu menyatakan bisa menyediakan beberapa perempuan. Admin akun itu mengaku tidak sedang berada di Makassar. Mereka hanya meminta janjian dengan timnya yang kemudian melakukan transaksi langsung. Memang belum bisa dipastikan, apa yang dilakukan Yunitha Oching ada kaitan dengan gandrungnya pengguna telepon seluler menerima pesan singkat jasa chat sex.

Masih ada banyak lagi modus yang digunakan pelaku prostitusi online. Tidak sedikit yang menggabungkan cara konvensional seperti yang menimpa S.  Independen.id berhasil mengajak bertemu seorang remaja putri dengan perantaran aplikasi Beetalk.

Remaja yang mengaku masih sekolah itu, dengan mudah diajak bertatap muka di sebuah hotel meski sudah malam. Selain Beetalk, ia juga menggunakan beberapa aplikasi lainnya. "Saya pakai Wechat, karena punya kemampuan mencari orang terdekat," katanya.

Beberapa aplikasi sosial media yang ia gunakan merupakan rekomendasi teman-temannya. Katanya, biar terlihat gaul. Walau ia mengaku bukan pekerja seks. Ia tetap mau diajak bertemu. Bahkan dengan orang yang tak dikenalnya.

 

Rahmat Hardiansya

Laporan ini mendapat dukungan dana dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara melalui fellowship liputan "Kekerasan terhadap Perempuan Melalui Siber".