Prostitusi Anak di Makassar Mengkhawatirkan

Prostitusi Anak di Makassar Mengkhawatirkan

foto: Rahmat Hardiansya

Dugaan sms prostitusi anak.

Independen, Makassar -- Makmur Payabo memperbaiki posisi duduknya ketika bicara masalah prostitusi anak di Makassar. Direktur Eksekutif Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Makassar itu memberi predikat sangat mengkhawatirkan untuk kasus prostitusi anak di ibukota Provinsi Sulawesi Selatan.

Ia pernah melakukan penelusuran praktek prostitusi online di kalangan anak sekolah. Salah satu yang membuatnya tercengang, ketika menemukan seorang tukang parkir mengantongi 50-an nama siswa yang siap diperdagangkan.

Tukang parkir tersebut menurut Makmur tidak bekerja sendiri. Ada orang lain yang bekerja mencari pelanggan. Ia hanya bertugas mendekati pelajar bersangkutan dan mengirimkan fotonya ke “bos”-nya. Orang itulah yang mencari pelanggan, lalu memberi komisi ke tukang parkir itu.

Ada pula yang dijual pacarnya setelah sebelumnya melakukan hubungan badan. "Biasanya anak-anak tersebut mendapat ancaman akan dipermalukan jika tidak menuruti kemauan sang pacar. Alhasil ia terjebak dalam bisnis tersebut," katanya.

Tidak sedikit pula kata dia yang dijual temannya sendiri. Bahkan beberapa kasus yang ditangani LPA Makassar bermula dari hubungan sesama jenis. "Yang memilukan sudah ada anak yang dijual bapaknya sendiri," kata Makmur.

Baca: 

Bapak anak itu sengaja membuat akun Facebook untuk anaknya yang menderita tuna rungu. Ia memanfaatkan kecantikan anaknya untuk mencari uang. Melalui promosi di sosial media, anak tersebut ditawarkan ke beberapa orang. Bahkan fotonya sering berseleweran di gadget orang-orang. "Padahal mereka dari keluarga yang berada. Namun tega melakukan itu karena anak itu menderita keterbelakangan,"  ujarnya

Anak berusia 14 tahun itu sempat beberapa lama ditampung di rumah aman LPA, sebelum akhirnya dikembalikan ke orang tuanya. Hingga sekarang keberadaan mereka tetap dalam pengawasan polisi. LPA mencatat, 95 persen dari kasus prostitusi anak baik dengan cara tradisional maupun online dilakukan  kerabat terdekatnya sendiri.

Aktivitas mereka akan meningkat apabila ada perhelatan besar di Makassar. Biasanya anak-anak tersebut terpengaruh oleh temannya. "Kalau ada konser, mereka juga mau ikut namun tidak berani meminta uang ke orang tuanya, jadilah jalan ini dipilih," kata Makmur.

Soal pola bisnis prostitusi anak, Makmur menjelaskan mirip skema multi-level marketing (MLM). Setiap jenjang akan punya komisi masing-masing, semakin besar jaringannya akan semakin banyak penghasilannya. Hal ini dibenarkan juga oleh Azis. Namun siapa orang di balik semua ini, masih sumir.

Geegee dari Global Inklusi untuk Penderita AIDS (GIPA) Makassar yang kerap bersentuhan dengan pekerja seks mengatakan, ada kekuatan besar di balik bisnis tersebut. Meski tak menyebutnya, namun jaringan prostitusi di Indonesia saling berkait satu sama lain. "Mereka yang beroperasi sendiri pun tidak begitu saja terjebak dalam pusaran prostitusi, selalu ada orang di depannya," katanya.

Memang setiap orang yang terlibat dalam bisnis prostitusi punya beragam alasan. Tingginya angka kesenjangan sosial di Sulawesi Selatan dinilai ikut memacu berjamurnya bisnis ini. Pada 2016 contohnya, rasio gini Sulawesi Selatan menjadi juara di Indonesia dengan bertengger di urutan pertama sebesar 0,43 persen.

Sedangkan pengguna internet di Pulau Sulawesi, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencapai 8,4 juta di tahun 2016. Sebagian besar ada di Sulawesi Selatan. Sedang dari 132,7 juta pengguna secara nasional, 18,4 persen diantaranya didominasi usia 10 hingga 24 tahun.

Kondisi ini tidak sejalan dengan pertumbuhan literasi masyarakat. Khususnya dalam menggunakan sosial media. “Sehingga sangat rentan, anak usia sekolah terjerumus dalam bisnis ini karena ikut-ikutan dan rasa ingin tahu yang tinggi, juga biar tidak dianggap ketinggalan jaman,” kata Makmur.

Melalui berbagai jaringan, Independen.id berhasil menemui AB. Ia merupakan pelanggan yang kerap memesan perempuan lewat online. AB mengatakan, ia memang lebih nyaman ketika bertransaksi lewat daring. Pilihannya juga banyak. Bahkan, jika tidak melalui perantara harganya relatif murah.

Pria dengan cincin di jari manis itu kerap memesan perempuan lewat jalinan pertemanan. Namun sekali dua kali ia juga mencari sendiri lewat gawai. Jika nomor telepon telah ia kantongi, komunikasi selanjutnya dilakukan di aplikasi WhatsApp. "Biasanya dikirimi 10 foto, saya bisa memilih. Harganya Rp500 ribu-an kalau lewat germo," tuturnya.

Baginya, keamanan dan kerahasiaan identitas jadi alasan dia memilih transaksi online, "Kami tidak saling mengenal, karena lebih sering komunikasi satu arah. Saya tahu mereka, mereka tidak tahu saya, ketemunya saat di lokasi saja."

Dari berbagai perempuan yang pernah dipesannya, kebanyakan mahasiswi. Namun juga pernah dengan gadis sekolahan. Harga anak sekolah yang tinggi membuatnya tidak sering-sering memesan mereka.

Kemudahan yang diberikan media sosial memang memungkinkan terjadinya banyak transaksi terselubung itu. Penyebaran prostitusi online bahkan tidak hanya pada sosial media yang lebih personal. Situs dengan domain publik atau forum, kerap pula dijadikan tempat bertransaksi. Seperti Kaskus misalnya.

Forum bertemunya banyak kepentingan itu, di salah satu postingannya mewadahi praktik prostitusi online. Bahkan lebih spesifik ke daerah, seperti Makassar. Postingan berjudul Share All About ++Makassar itu menjadi wadah bertukar informasi tentang prostitusi di Makassar.

Customer Service Officer Kaskus ketika dikonfirmasi Independen.id mengatakan, kewenangan soal postingan atau thread sepenuhnya ada di tangan moderator, regional leader atau Kaskus support. Meski begitu, pengguna bisa pula menggunakan fasilitas ‘lapor hansip’ jika menilai postingan tersebut mengandung unsur-unsur yang dilarang.

Kewenangan penuh yang diberikan ke pengguna ini menunjukkan ada kelonggaran dalam kebijakan Kaskus. Thread tentang aktivitas prostitusi di Makassar yang ada di forum itupun belum dihapus hingga kini, padahal sudah sejak tahun 2015 ditutup untuk komentar.

Selain Kaskus, adapula beberapa blog dan situs yang isinya segala hal tentang prostitusi. Mulai dari info macam gadis terapis yang paling top di Makassar, hingga tutorial bagaimana bertransaksi dengan beragam jasa tersebut. Hanya dengan kata kunci spesifik, keberadaan mereka mudah dilacak melalui laman pencari Google.

Lemah Penindakan

Jika benar yang dikatakan Makmur Payabo, bahwa prostitusi online terutama anak di Sulawesi Selatan sudah sangat mengkhawatirkan. Hal itu menjadi ironi, sebab Kepolisian baru membongkar lima kasus serupa di tahun 2016.

Sistem kepolisian yang menunggu laporan atau tidak jemput bola menjadi alasan kuat lambannya polisi mengatasi kasus prostitusi online. Hal ini dibenarkan Direktur Reskrim Khusus Polda Sulawesi Selatan Kombes Yudhiawan Wibisono kepada Independen.id. Polda Sulawesi Selatan sebenarnya sudah memiliki Cyber Crime Reskrim Khusus, namun fokus kasus yang disoroti juga beragam. Misalnya pelaporan masalah ujaran kebencian dan kasus penipuan. Sedangkan prostitusi online, masih ditangani Reskrim Umum. “Jika laporan masuk ke mereka (Reskrim Umum), kasusnya baru ditindaklanjuti Cyber Crime jika perlu analisis digital,” katanya.

Tapi Polda Sulawesi Selatan telah membentuk tim khusus berantas praktek prostitusi online. Tim ini berada dibawah Reskrim Umum dengan dikomandoi Kompol Suprianto. Kepala Subdit IV Unit Pelayanan Perempuan dan anak (PPA) Reskrim Umum Polda Sulawesi Selatan.

Sejak dibentuk awal  2017, tim ini telah menangkap tiga orang yang dianggap sebagai mucikari. Salah satu di antaranya Bayu Munsir alias Ummi Jubaedah. Dia adalah pegawai non PNS di lingkup Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar. Dua rekannya Kahar dan Muhammad Idris ditangkap berselang sehari penangkapan Bayu.

Suprianto mengatakan untuk menekan angka prostitusi online di kalangan anak sekolah, polisi sudah berulang kali melakukan sosialisasi. Termasuk mendatangi langsung sekolah-sekolah dan mengkampanyekan sosial media sehat.  “Kami memang kesulitan melacak praktik prostitusi online, kalau bukan laporan yang masuk atau dilakukan penyamaran, maka tidak mudah membongkarnya,” kata Suprianto.

Kenyataan ini membuat, internet akan terus terbuka untuk praktik prostitusi. Andi Fauziah Astrid, Pemerhati Media Sosial menitikberatkan pengawasan di tangan orangtua. Ia mengatakan, remaja putri khususnya, bisa menghabiskan 3 hingga 5 jam di akhir pekan untuk menyebarkan kegiatan pribadinya di sosial media.  “Orangtua jangan membiarkan anak remajanya bermain media sosial tanpa pengawasan. Jangan sampai mereka tergoda untuk posting hal yang sifatnya vulgar dan mengarah ke pornoaksi,” kata dia.

Yang menyedihkan kata Fauziah, karena banyak anak-anak lebih ahli menggunakan teknologi dari orangtuanya. Sehingga fungsi pengawasan ini tidak berjalan baik. Pendidikan dan peningkatan literasi media juga harus ditingkatkan. Hanya dengan begitu, anak remaja khususnya perempuan punya filter sendiri ketika bersosial media.

Kekhawatiran banyak pegiat hak anak akan prostitusi online memang beralasan. Data National Human Trafficking Resource Center di Amerika menyebut, bahwa 70 persen prostitusi di negara tersebut dilakukan melalui sarana internet. Sebagian besar korbannya pun anak-anak.

Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada 2015 juga melansir data jumlah korban prostitusi online mencapai 96 orang. Tertinggi dari jenis trafficking dan eksploitasi anak lainnya. Anak sebagai korban Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA) di tahun 2015  mencapai 61 orang. 

Kedutaan Besar dan Konsulat Amerika Serikat di Indonesia dalam laporannya di tahun 2016, tentang perdagangan orang mengatakan, Indonesia sebagai salah satu negara asal utama, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak untuk menjadi pekerja paksa dan korban perdagangan seks. Sekitar 1,9 juta dari 4,5 juta warga Indonesia yang bekerja di luar negeri dianggap rentan mengalami beragam bentuk kekerasan.

Iming-iming penghasilan besar tanpa perlu kerja berat membuat bisnis prostitusi secara daring kian populer. Ditambah pula dengan minimnya pengawasan semua pihak, arus deras bisnis ini membuatnya makin sulit dibendung.

Saat bangun pagi, Alita Karen selalu berharap tak lagi ada laporan anak-anak yang senasib dengan S. Begitupun dengan S, yang mulai menata hidup dengan kembali ke bangku sekolah. Dia berharap, tak ada lagi anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia seperti dirinya.

Karena anak juga punya hak yang sama dengan yang lainnya. Mereka barang milik orang tuanya, sehingga bebas diapakan saja. Mereka seharusnya sekolah, bukan jadi barang dagangan. “Kesempatan jadi korban perdagangan manusia bisa datang dari mana saja, teknologi satu di antara yang sering disalahgunakan, sebaiknya semua bijak menyikapi kemajuan,” tegas Alita.

Rahmat Hardiansya

Laporan ini mendapat dukungan dana dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara melalui fellowship liputan "Kekerasan terhadap Perempuan Melalui Siber".