Fake News Meningkat Jelang Pilkada

Fake News Meningkat Jelang Pilkada

foto: Agus Setiyanto I Independen.id

Setiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menjelaskan perkembangan fake news saat diskusi "Fighting Fake News in Campaign and Election" di @america, Kamis (23/2) di Jakarta

Independen, Jakarta -- Jelang pemilihan kepala daerah, media sosial (medsos) saat ini tidak lagi menjadi alat edukasi dan pertemuan masyarakat. Tapi menjadi alat politik. Ironisnya cenderung dijadikan wahana penyebaran berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian untuk kepentingan politik tertentu.

Demikian dipaparkan Wahyu Setiawan, Komisioner Komisi Pemilihan Umum Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Pengembangan SDM dalam Diskusi Publik AJI Indonesia dan Kedutaan Besar Amerika Serikat, di @amerika Jakarta, Kamis (22/3) kemarin. 

Ia memaparkan KPU Provinsi, KPU kabupaten/kota, bersama Bawaslu dan badan adhoc penyelenggara pemilu hingga tingkat kecamatan dan desa sedang memantau berita-berita pilkada di medsos. Ia mengatakan KPU memerintah anggota badan adhoc yang jumlahnya mencapai puluhan ribu itu kami perintahkan untuk mengklarifikasi isu SARA saat pilkada. "KPU sedang dalam proses memerangi berita bohong di medsos," ujar Wahyu.

KPU meminta peserta pilkada mendaftarkan akun resmi media sosial yang digunakan untuk kampanye. Sedangkan mengantisipasi kampanye hitam menggunakan akun-akun yang tidak terdaftar, ia mengatakan KPU telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menangani hal ini. 

Setiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menyatakan produksi berita hoaks ini semakin meningkat jelang Pilkada. Karena itu bekerja sama dengan Bawaslu, jelang pilkada, lemabag ini bangun hoaks crisis centre di beberapa daerah dan undang relawan untuk melawan berita-berita bohong di internet. "Kami sudah punya 300 relawan dan 20 media online yang siap gabung untuk memerangi berita fitnah," ujar Setiaji.

Diskusi publik yang bertajuk "Fighting Fake News in Campaign and Election" juga melibatkan peserta dari Universitas Tanjung Pura Pontianak di Kalimantan Barat. Wakil peserta diskusi Dian Lestari, Ketua AJI Pontianak mengatakan pertumbuhan fake news menjelang pilkada mencapai 300 persen dan telah berdampak di masyarakat. 

Berita-berita hoaks itu didominasi soal politik, isu SARA, dan kesehatan. Berita-berita hoaks ini paling banyak dikonsumsi ibu-ibu rumah tangga dan generasi muda usia SMP dan mahasiswa. "Setelah kami telusuri berita-berita hoaks ini ternyata diproduksi di Jakarta, Bandung, dan Makassar," ujar Edo Sinaga, Sekretaris AJI Pontianak menambahkan.

Dandy Koswaraputra, Kepala Biro Anadolu Agency Indonesia, memberikan tips dasar agar masyarakat tidak jadi korban berita bohong. Sebagai wartawan atau penulis yang utama adalah memperkuat data dan memilih narasumber yang kredibel. Sedangkan sebagai pembaca harus skeptis atau tidak langsung percaya ketika mendapati berita di media sosial. "Kita harus rajin melalukan kroscek atau verifikasi," ujar Dandy.


Agus Setiyanto I YHM