Ketika Jurnalis Tersandung Bisnis Senjata 

foto: Bloomberg I Getty Images

* Debora Blandina Sinambela, reporter Jaring.id.

 

INDEPENDEN -- Apa yang sedang dialami Jay Solomon, jurnalis desk keamanan nasional Wall Street Journal jadi preseden buruk sepanjang sejarah karir jurnalistiknya. Jay dipecat media tempatnya bernaung selama dua dekade terakhir karena terlibat bisnis dengan Farhad Azima, agen penjualan senjata asal Iran.

Terungkapnya hubungan Jay dengan Azima, berawal dari Investigasi Associated Press (AP) dalam kasus dugaan penyuapan yang dilakukan Azima terhadap mantan pejabat Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan hotel di Tbilisi, Georgia. Reporter yang sedang meliput kasus ini, tidak sengaja menemukan email berisi percakapan Jay dan Azima.

Menurut Investigasi AP, Jay mendapat tawaran saham sepuluh persen dari Azima di perusahaan bernama Denx LLC. Jay menghabiskan lebih dari satu tahun membahas usaha bisnis dengan Azima, meskipun tidak jelas dari pesannya bahwa Jaymenerima tawaran itu. Salah satu pesan yang diretas termasuk yang diucapkan Jay, "Peluang bisnis kami sangat menjanjikan," tulisnya pada Oktober 2014.

Email lain di bulan April 2015, Azima menulis surat kepada Jay tentang kontrak proposal senilai US$ 725 juta dengan UEA. Kontrak itu berisi akan diizinkannya pesawat untuk memata-matai aktivitas Iran dari dekat. Menurut email tersebut, Jay diharapkan bisa mengarahkan proposal ke perwakilan pemerintah dari UEA pada saat makan siang keesokan harinya.
"Kami semua berharap semoga sukses Jay dalam penjualan pertahanan pertamanya,” tulis Azima dalam email lainnya.

Tidak perlu waktu lama bagi Journal memberi sanksi pemecatan terhadap Jay. Dalam sebuah pernyataan tanggal 21 Juni 2017,  Journal mengatakan bahwa Jay kehilangan kepercayaan surat kabar tersebut. "Tuduhan yang diajukan laporan ini serius. Sementara penyelidikan kami berlanjut, kami menyimpulkan bahwa Solomon telah melanggar kewajiban etisnya sebagai reporter, dan juga standar kami. Dia belum pernah berbicara dengan kami mengenai tindakannya atau praktik pelaporannya dan dia telah kehilangan kepercayaan kami.”

The Journal pernah mengajukan beberapa karyanya bertajuk keamanan nasional dan urusan luar negeri untuk dipertimbangkan mendapat Pulitzer. Dia juga menulis sebuah buku tentang Iran berjudul The Iran Wars: Spy Games, Bank Battles, and the Secret Deals That Reshaped the Middle East. 

Wilayah liputan Jay di Journal termasuk diplomasi internasional, proliferasi senjata nuklir, kontra-terorisme dan urusan Timur Tengah dan Asia. Dia sempat menjadi koresponden Asia dan Afrika, termasuk bertugas di Jakarta. Sementara di Washington, dia menulis tema sosial luar negeri. Dia dikenal memiliki hubungan kerja yang erat dengan Yousef al-Otaiba, duta besar UEA untuk Amerika Serikat.

Independensi Jurnalis 
Karir Jay yang malang melintang sebagai jurnalis khususnya dalam bidang keamanan dan luar negeri bisa jadi mengantarnya berkenalan dengan banyak pihak, termasuk Azima. Namun dengan siapapun dia berkenalan, mestinya Jay menjaga independensinya sebagai jurnalis. Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme menyebut salah satu prinsip penting jurnalisme adalah independensi. Wartawan harus tetap independen dari pihak yang mereka liput. 

Beberapa pihak beranggapan bahwa wartawan bisa melaporkan sekaligus menjadi peserta dalam sebuah peristiwa. Namun realitasnya, menjadi peserta akan mengaburkan semua tugas lain yang harus dilakukannya seperti akan semakin sulit melihat perspektif lain dan mendapat kepercayaan pihak lawan. ”Malah mungkin mustahil, untuk selanjutnya meyakinkan audiens Anda bahwa Anda mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentingan tim tempat Anda bekerja di dalamnya. Dengan kata lain, Anda bisa saja menjadi penasihat bayangan, penulis pidato, atau menerima uang dari mereka yang Anda tulis beritanya. Namun adalah sebuah arogansi, dan mungkin naif serta khayali, bahwa hal ini tidak berpengaruh pada pekerjaan Anda sebagai wartawan,” tulis Bill dan Tom.

Menjaga jarak personal tertentu sangatlah penting untuk bisa melihat dengan jelas dan membuat penilaian yang independen. Redaktur Eksekutif Times Abe Rosenthal pernah membuat pernyataan terkenal ketika mengetahui reporternya terlibat hubungan asmara dengan politisi korup yang ia liput.  “Saya tak peduli jika kau tidur dengan gajah sekalipun, asalkan kau tidak meliput sirkus,” kata Abe. 

Dalam pernyataan ke AP, Jay membantah terlibat bisnis dengan Azima. Namun Jay menyadari bahwa ia jelas-jelas membuat kesalahan dalam liputannya dan memasuki dunia yang tidak dipahaminya. “Tapi saya mengerti mengapa email-email itu dan percakapan saya dengan Azima terlihat seperti saya terlibat dalam masalah serius. Saya meminta maaf kepada bos dan rekan-rekan saya di Journal,” kata Jay. ***