Jurnalis Dunia Deklarasi Dukung Perdamaian Korea

Jurnalis Dunia Deklarasi Dukung Perdamaian Korea

foto: Abdul Manan I AJI

Presiden Persatuan Wartawan Korea Jung Kyu-sung dalam Konferensi Jurnalis Dunia 2018.

Independen, Seoul - Jurnalis dari 50 negara yang mengikuti Konferensi Jurnalis Dunia 2018 memberikan dukungan kuat bagi upaya perdamaian dan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Pernyataan dukungan ini disampaikan melalui deklarasi yang disampaikan dalam acara hari terakhir konferensi di Kota Incheon, Korea Selatan, Jumat malam, 10 Maret 2018.

Dalam deklarasinya, jurnalis berbagai negara itu menyatakan memiliki kesamaan pandangan bahwa pelucutan nuklir (denuklirisasi) dan perdamaian di Semenanjung Korea berdampak langsung terhadap perdamaian dunia. "Kami sangat mendukung perkembangan proses dialog antara dua Korea dan dan menyerukan seluruh negara dunia, termasuk Amerika Serikat, Cina, Jepang dan Rusia, berusaha bersama melalui upaya diplomatik untuk terciptanya keamanan dan perdamaian di semenanjung Korea," tulis deklarasi itu.

Saat menutup acara Konferensi Jurnalis Dunia 2018, Presiden Persatuan Wartawan Korea (Journalists Association of Korea) Jung Kyu-sung menyatakan bahwa perkembangan dari perundingan damai Korea dalam beberapa hari ini sangat menggembirakan. Wakil dua Korea dijadwalkan bertemu pada April mendatang. Pertemuan antara wakil Korea Utara dan Amerika Serikat direncanakan Mei. "Ini akan menjadi pertemuan bersejarah dalam 50 tahun sejak terjadinya gencatan senjata," kata Jung. 

Perang Korea yang dimulai tahun 1950 berakhir dengan gencatan senjata pada 27 Juli 1953. Perang selama tiga tahun itu hanya berakhir dengan gencatan senjata, yang artinya tidak ada pihak yang bisa mengklaim sebagai pemenang. Dengan status seperti itu, maka sejatinya kedua negara masih dalam status perang karena tidak ada perjanjian damai yang ditandatangani. 

Konferensi Jurnalis Dunia 5-10 Maret 2018 itu diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Korea dengan dukungan dari pemerintah Korea. Dalam konferensi ini panitia mengundang sekitar 70 jurnalis, termasuk Indonesia. Selain membahas soal peran jurnalis dan media dalam perdamaian di Semenanjung Korea, para peserta konferensi juga diajak berkeliling ke sejumlah kota untuk lebih mengenal kultur dan ekonomi 'Negeri Ginseng' ini.

Upaya perdamaian di Semenanjung Korea dilakukan setelah adanya krisis nuklir yang dipicu oleh uji coba peluncuran rudal Korea Utara, yang diikuti dengan latihan militer bersama Korea Selatan dan Amerika Serikat, serta adu gertak Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal tombol nuklir. Upaya membuka pembicaraan antara dua negara itu kemudian berujung pada ikut sertanya Korea Utara dalam Olimpiade Musim Dingin PyeongChang, yang kemudian diikuti oleh pembicaran tingkat tinggi dua negara.

Sinyal baik dari Korea Utara itu ditindaklanjuti Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dengan mengirim dua wakilnya ke Pyongyang, yaitu Chung Eui-yong, penasihat keamanan nasional Presiden, dan Suh Hoon, kepada Badan Intelijen Nasional, 9 Maret lalu. Kunjungan dua hari itu membuahkan hasil. Korea Utara sepakat untuk menjadwalkan pertemuan wakil dua negara yang dijadwalkan akhir April. 

Korea Utara juga menyatakan keinginannya untuk membicarakan soal nuklir dan melakukan normalisasi hubungannya dengan Amerika Serikat yang putus setelah Perang Korea 1950-1953. Donald Trump mengapresiasi sikap Kim Jong-un dan menerima ajakannya untuk bertemu. Waktu dan tempat pertemuan antara dua kepala negara ini masih belum ditentukan.  

 

Abdul Manan (Seoul)