Keamanan Digital dan Kolaborasi bagi Jurnalis

Keamanan Digital dan Kolaborasi bagi Jurnalis

foto: R. Hardiansyah I Independen.id

Scilla Alecci dari International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ)

Independen, Jakarta – Sekitar 20 jurnalis dari tiga negara Malaysia, Filipina dan Malaysia berkumpul di Jakarta akhir Februari lalu. Narasumber dari berbagai organisasi media di tingkat global pun hadir. Mereka berbagi cerita tentang keamanan melakukan peliputan di masing-masing negara, berbagi pengalaman melakukan kolaborasi peliputan investigasi.

Salah satunya Scilla Alecci dari International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Ia bercerita tentang kolaborasi investigasi Panama Papers 2016 silam yang mengungkap peran perusahaan Mosack Fronseca di Panama, membantu banyak pengusaha membuat perusahaan cangkang untuk mengelabuhi pajak. Kolaborasi liputan ini melibatkan beberapa media dari berbagai negara, salah satunya Tempo.

Ia mengungkapkan tidak mudah menentukan siapa pihak yang bisa diajak kerja sama untuk satu liputan. Apalagi untuk investigasi dengan kasus besar. "Kami memilih Tempo setelah mempelajari rekam jejaknya, terlebih kami punya teman di sana," kata Scilla menjawab pertanyaan Tommy Apriando yang bertanya mengapa hanya Tempo yang dilibatkan dalam kolaborasi besar Panama Papers 2016 silam.

Scilla sengaja dihadirkan untuk memandu acara selama dua hari, sekaligus mendesain kolaborasi. Ia juga merupakan salah satu dari 400 jurnalis di 107 organisasi media dari lebih 80 negara yang terlibat dalam pembongkaran dokumen rahasia, Panama Papers.

Kolaborasi dokumen Panama dinilai sebagai salah satu kolaborasi besar dan sukses di era modern ini. Hingga kemudian lahir kembali laporan investigasi berbasis data yang disebut Paradise Papers. Keduanya sama-sama membongkar dokumen keuangan orang kaya di seluruh dunia yang sengaja menghindari kewajiban membayar pajak. 

Berbagi pengalaman ini terjadi dihari ketiga Capstone Workshop and Training yang diselenggarakan Internews. Lembaga ini sengaja mempertemukan jurnalis agar terjalin jaringan informal jurnalis investigasi di seluruh Asia Tenggara.  Selain berjejaring, workshop ini juga menekankan standar operasi yang aman selama berkolaborasi. Karena itulah, pada dua hari sebelum acara berakhir, jurnalis dari Indonesia, Malaysia dan Philiphina yang terpilih ikut kegiatan tersebut dapat informasi tambahan soal keamanan digital.

Capstone Workshop and Training sekaligus jadi ajang bertukar informasi dan pengalaman dalam menjalankan liputan. Juga saling mengenal kondisi media dan jurnalisme dari masing-masing negara peserta. Sebagai tuan rumah, Indonesia melalui Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengirimkan tujuh jurnalisnya untuk ambil bagian dalam kegiatan ini.

Rowan Reid dari Internews berharap, setelah pelatihan usai akan tercipta kolaborasi pada level regional Asia Tenggara yang baik. Itu sebabnya, dihari ketiga sekaligus dibuat simulasi kolaborasi untuk isu-isu lintas negara. Mulai dari isu perdagangan manusia hingga narkoba.

Selain membahas konsep kolaborasi yang baik, Capstone Workshop juga membicarakan lanskap perubahan media dan apa saja yang harus dilakukan ke depannya. Termasuk bagaimana jika jurnalis mengalami ancaman. Maria Ressa dari Rappler, Wahyu Dhyatmika dari Tempo dan Malou Mangahas dari PCIJ memandu diskusi ini.

Setelah mengenal lebih jauh apa saja ancaman yang bisa muncul kepada pribadi masing-masing jurnalis, Jo Clemente dari National Union of Journalists Philippines (NUJP) dan Anita Rachman dari Divisi Advokasi AJI Indonesia memandu dan berbagi konsep bagaimana meminimalkan resiko ancaman.

Seakan melengkapi informasi kepada seluruh peserta, Eni Mulia dari Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (Jaring) juga ikut memaparkan soal IndonesiaLeaks. Platform khusus whistle blower yang juga tercipta berkat kolaborasi media dan organisasi jurnalis. Termasuk AJI ada di dalamnya.

IndonesiaLeaks merupakan ruang bagi informan publik yang hendak membagi data rahasia kepada media massa. Data tersebut haruslah punya kaitan untuk kepentingan publik. Dengan teknologi enkripsi, setiap informan akan terjaga kerahasiaanya.

Tim Engage Media yang terdiri dari Andrew Lowenthal (Australia), Khairil Yusof (Malaysia), Yerry Niko Borang (Indonesia) dan Nica Dumlao (Filipina) juga memaparkan analisis keamanan digital bagi jurnalis se ASEAN. Data mereka menunjukkan masih terdapat kelemahan keamanan bagi jurnalis.

Olehnya itu, ada beberapa platform informasi aman yang mereka jabarkan. Sekaligus mengajarkan kepada setiap peserta praktik keamanan digital tingkat lanjut. Sebagai informasi tambahan, Capstone Workshop and Training ini merupakan kegiatan lanjutan dari Training Digital Security 2017 lalu.

Salah satu yang mereka rekomendarikan adalah SecureDrop. Platform ini merupakan sistem pengarsipan whistle blower serupa IndonesiaLeaks. Kelebihannya SucudeDrop bersifat open source yang dapat digunakan organisasi media manapun untuk menerima dokumen dengan aman dan berkomunikasi dengan sumber anonim. SecureDrop diciptakan oleh Aaron Swartz dan kini sepenuhnya ditangani oleh Freedom of the Press Foundation.

Tim dari Engage Media juga menyarankan beberapa alat keamanan digital bagi jurnalis ketika menjalankan liputan investigasi. Melengkapi Capstone Workshop, Greg Wiegand yang merupakan Direkrur Biro Narkotika Internasional dan Penegakan Hukum, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk Indonesia menekankan sekali lagi pentingnya berada dalam lingkaran jejaring yang baik.

Selain menjelaskan kerjasamanya dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN), Greg juga menekankan, bahwa negaranya sangat mendukung kebebasan pers. Sehingga akan terus mendorong program yang menyokong keterbukaan informasi.

Rahmat Hardiansya