Pemilu, Wartawan Jangan Terjebak Politik Identitas

Pemilu, Wartawan Jangan Terjebak Politik Identitas

foto: Agus Setiyanto I Independen.id

Piere Lefevre, jurnalis dari Prancis spesialis isu-isu lingkungan saat presentasi di 4MAsia Forum, Sabtu (7/4).

Independen, Jakarta -- Isu politik indentitas saat pemilihan umum perlu mendapat perhatian. Wartawan perlu lebih jeli ketika melakukan peliputan. 

Saat diskusi soal Journalism and Election di 4M Asia Forum, Najman Maliki dari BFM Media Sdn Bhd memaparkan upaya media-media di Malaysia menyambut pemilu  Agustus tahun ini. Antara lain bagaimana wartawan tidak terjebak pada isu-isu politik identitas atau suku, golongan, ras, dan agama.

Dia mencontohkan bagaimana hubungan antara komunitas Melayu dan non Melayu di negara itu. Komunitas-komunitas ini berhubungan erat dengan kekuatan-kekuatan politik di Malaysia. Wartawan-wartawan di Malaysia harus hati-hati dalam memberitakan setiap konflik yang terjadi di antara komunitas-komunitas itu. 

"Sulit untuk punya frekuensi radio sendiri di negara kami. Pemerintah sangat protektif dan membatasi pemberitaan, tapi wartawan harus tetap bekerja profesional, " ujarnya di Jakarta, Sabtu (7/4).

Chenda Kun dari CCIM Cambodia memaparkan tentang tanggung jawab jurnalis mempertahankan independensi selama pemilu legeslatif di negara itu yang akan digelar pada 29 Juli 2018. Dia mengatakan wartawan tetap berprinsip pada kode etik jurnalistik. 

Dandy Koswara dari Anadolu Agency Indonesia sekaligus AJI Indonesia memaparkan pengalaman pegiat media saat pemilu berlangung. Dia mengatakan tantangan demokrasi di Indonesia sekarang ini adalah menguatnya radikalisasi dan intoleransi. 

Dandy memberikan contoh terbaru, yakni saat Pilkada Jakarta tahun lalu. Dia berharap di Pilkada Juni tahun ini kejadian-kejadian seperti di Jakarta yakni menguatnya politik identitas tidak terjadi lagi. 

Berita Perubahan Iklim Masih Minim

Selain isu pemilu diskusi ini juga membahas peliputan isu lingkungan menghadirkan Piere Lefevre, jurnalis dari Prancis spesialis isu-isu lingkungan yang berpengalaman selama 20 tahun dan Paritta Wangkiat jurnalis dari Bangkok Thailand. 

Kedua pembicara menyoroti tentang minimnya liputan-liputan bertema perubahan iklim khususnya penyebab dan dampak pemanasan global di media-media. Selama ini isu-isu tersebut dianggap kurang seksi oleh banyak media maupun si jurnalis media tersebut. "Ini karena sangat sedikit wartawan yang paham dengan isu perubahan iklim, " ujar Piere Lefevre, Sabtu (7/4) di Jakarta.

Sejauh ini, kata dia, pemberitaan terkait perubahan iklim hanya muncul setelah ada forum-forum  internasional yang membahas kesepakatan mengenai target pengurangan emisi karbon.

Menurut Pierre Lefevre, perubahan iklim adalah isu kompleks. Wartawan dituntut mampu menuliskannya dengan lebih sederhana serta menarik. Selain itu isu lingkungan juga memiliki kaitan dengan budaya, sosial, ekonomi, keragaman jenis, dan politik. 

"Bisa disajikan dalam bentuk video pendek atau feature. Jangan bikin tulisan Anda seperti laporan-laporan ilmiah para peneliti lingkungan," ujar Pierre Lefevre. 

Paritta Wangkiat mengingatkan jurnalis-jurnalis di Asia Tenggara (ASEAN) perlu memberikan perhatian pada isu perubahan iklim. Dia menyesalkan isu lingkungan ini dianggap kurang penting dibanding isu korupsi dan keadilan hukum di negara-negara ASEAN. 

Menurut jurnalis yang pernah meliput Konferensi Perubahan Iklim PBB di Paris ini, negara-negara ASEAN akan mengalami dampak paling buruk dari perubahan iklim global. Negara-negara ASEAN juga akan menjadi negara penyumbang emisi karbon dioksida terbesar di dunia.  "Negara-negara ASEAN sedang berlomba-lomba jadi negara industri, bersaing membakar karbon," ujar dia. 

Paritta Wangkiat mengajak jurnlis-jurnalis membuat laporan mengenai perubahan iklim di kawasan ASEAN. Tulisan ini untuk mengingatkan pemerintah dan menyadarkan warga tentang dampak buruk pemanasan global pada kelangsungan hidup manusia di kawasan ini. 

Agus Setiyanto