Kisah di Balik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama

Kisah di Balik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama

foto: nu.or.id

Ilustrasi rapat Resolusi Jihad NU dalam film Sang Kiai

INDEPENDEN - Setelah Indonesia merdeka, bukan berarti benar-benar bebas dari penjajahan. Belanda bersama negara sekutunya, menurunkan pasukan ke tanah air untuk mendudukan kemerdekaan yang baru berumur sebulan pascadeklarasi.

Pasukan yang dikenal dengan Allied Forces Netherlands East Indies (ANFEI) tiba di Jakarta. Selain itu pula ada Nederlands Indische Civil Administration (NICA), pejabat sipil Belanda yang ingin kembali menduduki Indonesia.

Dengan kondisi ini, Presiden Soekarno pun memerintahkan seluruh rakyat bersiap untuk memukul kembali penjajah yang ingin menduduki kemerdekaan RI. Salah satu yang digandeng Soekarno adalah kelompok Nahdlatul Ulama (NU).

Atas kesadaran untuk mempertahankan kemerdekaan, pada 21-22 Oktober 1945 seluruh delegasi NU se-Jawa dan Madura berkumpul di Bubutan, Surabaya. Saat itu NU mengeluarkan fatwa tentang kewajiban mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, muncul tiga rumusan penting yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad.

Isi dari Resolusi Jihad itu adalah; Fardhu ‘ain bagi orang Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan; Syuhada bagi pejuang yang membela kemerdekaan Indonesia; dan warga pemecah belah sekaligus memihak Belanda wajib dibunuh. Selengkapnya: Spirit Nahdlatul Ulama Melawan Penjajah