Bencana Alam dan Pembodohan Umat

Embed from Getty Images

foto: ilustrasi I Getty Images

Independen--  Getaran gempa berkekuatan M=6,1 yang berpusat di Samudra Hindia, tepatnya 43 km selatan Kabupaten Cilangkahan, Propinsi Banten dirasakan hingga Jakarta dan sekitarnya pada Selasa (23/1) lalu. Kantor Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjuk titik pusat gempa pada kedalaman 61 km bawat laut disebabkan adanya pergerakan lempeng (subduksi) Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. 

Goncangan pada tengah hari itu terasa di Jakarta, Lebak, Tangerang, Sukabumi, Bogor bahkan sampai Bandung dan Lampung. Ribuan karyawan gedung bertingkat dan warga berhamburan keluar begitu tempatnya berpijak berayun selama 5-10 detik. "Saya panik jadi langsung keluar agar selamat," ujar Arus, 25, karyawan sebuah kantor organisasi jurnalis di Jakarta Pusat.

Arul rupanya trauma dengan “gempa”, karena dialah saksi korban robohnya Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) di Malingping, Kabupaten Lebak, pada 2009 lalu. Bukan kebetulan, gempa gempa 23 Januari yang itu pun tak jauh dari KabupatenLebak,Propinsi Banten. Sehari setelah gempa, Harian Kompas menulis headline "Zona Tektonik Selatan Jawa Semakin aktif". Sembari mengutip ahli gempa tentang meningkatnya aktivitas kegempaan di zona tektonik pantai selatan Jawa.

Data BMKG menunjukkan, gempa tektonik serupa berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Desember 2017. Sebelumnya, 2009, wilayah yang sama diguncang gempa berkekuatan 7,3 SR hingga merenggut jiwa sejumlah warga.

Hampir semua media mengutip BMKG sebagai sumber utama pemberitaan sambil mengutip pakar ilmu bumi dari perguruan tinggi terkemuka. Sayangnya, di luar informasi faktual dari media, berseliweran kabar bohong (hoax), termasuk propaganda bernuansa agama tentang gempa dan bencana lainnya melalui media sosial dan grup Whatsapp.  

Hoax dari Teks Sampai Video

Kabar bohong berupa teks misalnya "Awaaas Gempa Susulan Mencapai 8 SR" atau "Gempa di Lebak berpotensi Tsunami, warga harap bersiap mengungsi', yang tersebar melalui Whatsapp atau Facebook Massenger. Akibat hoax tersebut, BMKG kelas I Tangerang harus mengeluarkan rilis bantahan resmi, diikuti keterangan bahwa hingga saat ini gempa bumi tektonik belum dapat diprediksi dengan pasti kapan, di mana dan berapa besar kekuatannya. 

Hoax lain berupa foto muncul hanya 2 jam seusai gempa. Salah satunya, foto jalan raya yang retak terbelah, diklaim sebagai akibat dari gempa di Cilangkaha, Banten. Padahal itu foto jalan raya Yogya-Wonosari yang kebetulan rusak nyaris amblas sehingga dipasangi police line.

Foto hoax yang beredar di media sosial setelah gempa 23 Januari. 

Ada juga video berdurasi 15 detik tentang truk pengangkut barang yang berayun-ayun nyaris terguling di atas kapal, diklaim akibat gempa di Lebak. Setelah ditelusuri, itu adalah video truk yang bergoyang akibat badai di atas kapal penyeberangan Gilimanuk yang diunggah dari YouTube sejak Juni 2017.

Selain hoax, warga juga menerima pesan bernada ancaman terkait gempa bumi. Misalnya teks yang mengutip ayat suci berbunyi "Mereka mendapat siksaan dalam kehidupan dunia, dan azab akhirat pasti lebih keras. Tidak ada seorangpun yang melindungi mereka dari azab Allah".

Senada dengan itu, propaganda berbau agama beredar lewat medsos menyasar kelompok LGBT atau Lesbian Gay Biseksual Transgender. Salah satu komentar berbunyi "Ada gempa Makanya LGBT jangan dilegalkan dong!!!". Atau lainnya berbunyi "LGBT marak, Jakarta diguncang gempa." Padahal sangat jelas, tidak ada hubungan kausalitas antara gempa bumi dengan keberadaan LGBT atau kelompok minoritas lainnya.

Perlu Pengetahuan Kebencanaan Bukan Dogma

Gempa bumi atau gunung meletus, banjir, longsor, badai, dan sejenisnya, adalah fenomena alam biasa yang mudah dijelaskan. Tidak perlu menyebar kabar bohong atau dogma agama yang berlebihan untuk menjelaskan perilaku alam yang terjadi. Secara bijak, harus diakui sebagian bencana alam itu disebabkan eksploitasi berlebihan manusia terhadap alam. 

Tapi mengkaitkan setiap gempa atau bencana alam dengan keyakinan agama itu seperti membodohi umat.

Dibutuhkan pendidikan kebencanaan yang sistematis dan merata agar sikap warga terhadap bencana alam lebih rasional dan antisipatif. 

Gempa bumi adalah fenomena umum yang ada di seluruh dunia. Jepang, Iran, India, Cina, bahkan Amerika adalah negara-negara yang hidup di bawah ancaman gempa setiap saat, dan faktanya mereka berhasil menjadi negara maju. 

Skala Getaran Gempa  (sumber @infoBMKG)

Anak-anak Indonesia layak diberi pengetahuan tentang kondisi geografis negara yang dikelilingi Samudera Hindia dan Laut Arafuru di sebelah selatan, juga Laut Sulawesi, Laut Cina Selatan, dan Samudra Pasifik di utara Indonesia. Jauh di bawah laut terdapat patahan atau lempengan besar berbagai ukuran seperti Lempengan Eurasia, Lempengan Pasifik, Lempengan Australia. Ketika lempengan di bawah bumi itu bergesekan atau bergerak, itulah namanya gempa tektonik.

Negara kita juga dikenal sebagai ring of fire karena dikelilingi gunung api aktif yang tersebar hampir di semua propinsi. Saat gunung api meletus, seperti Gunung Agung di Bali dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara, biasanya diikuti gempa vulkanik. Berbeda dengan gempa tektonik, gempa vulkanik acap ditandai keluarnya lahar dan debu vulkanik dari mulut gunung api. 

Gempa bumi, baik tektonik maupun vulkanik, adalah peristiwa alam agar manusia mau berpikir dan mempelajari alam semesta. Bisa saja itu bagian dari kehendak Tuhan, tapi gempa bumi tak ada hubungannya dengan azab dari Tuhan atau kutukan Dewa agama manapun.

Eko Maryadi, CEO Independen.id