Pengalaman Sabine Terlalu Berharga untuk Dilewatkan

Pengalaman Sabine Terlalu Berharga untuk Dilewatkan

foto: AJI Yogyakarta

Sabine Tores memberikan materi penguatan media lokal.

Independen -- Selama dua pekan, jurnalis senior asal Perancis Sabine Torres menggelar workshop penguatan media online di lima kota di Indonesia. Diawali dari Denpasar (25 Juli 2016), Yogyakarta (29 Juli), Purwokerto (1 Agustus), Lampung (5 Agustus), dan berakhir di Malang (8 Agustus). Tak kurang dari 80 jurnalis –termasuk pegiat jurnalisme warga- dan pemilik media lokal menjadi pesertanya.

Dalam tempo dua hari pelatihan, peserta di masing-masing kota dikenalkan dengan media online dan cara pengelolaannya. Dari menyusun rencana dasar, membuat strategi editorial, dan memasarkannya. Puluhan lembar materi workshop, seluruhnya berbahasa Inggris, menjadi panduan dalam tiap diskusi.

Di Yogyakarta, panitia menyediakan dua penerjemah, Valentina Wijiyati dan Akbar Hasyemi Rafsanjani, untuk membantu peserta memahami jalannya diskusi. “Suka atau tidak, kemampuan jurnalis lokal Indonesia masih perlu ditingkatkan,” kata Wijiyati mengomentari kemampuan berbahasa Inggris kebanyakan jurnalis Indonesia.

Pernah belajar pemantauan media di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y), Wijiyati kini menjadi produser dialog mingguan “Merawat Integritas Bangsa” Pro1 Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan “Melek Media” di Radio Satunama. Beberapa kali ia menjadi narasumber dalam bidang kebebasan informasi dalam forum internasional, di antaranya RightCon di Manila pada 2015 dan di San Francisco pada 2016. Sejak setahun lalu, ia menerima amanat sebagai anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta.

Dua hari menjembatani komunikasi antara Sabine dan peserta workshop, Wijiyati dan Akbar berinisiatif menerjemahkan materi pelatihan ke bahasa Indonesia. Mereka berharap itu bisa menambah literatur media di Indonesia. “Pengalaman Sabine terlalu berharga untuk dilewatkan, sayang sekali jika karena kendala bahasa orang Indonesia menjadi terbatas aksesnya pada pengetahuan itu,” kata Wijiyati.

Senin, 8 Agustus 2016, sepekan setelah workshop berlangsung di Yogyakarta, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta Anang Zakaria kembali berbincang dengan Wijiyati tentang rencana penerjemahan itu. Berikut kutipannya.

Apa yang membuat anda berinisiatif menerjemahkan materi itu?

Yang jelas untuk memudahkan proses berbagi pengetahuan. Pengalaman Sabine terlalu berharga untuk dilewatkan, sayang sekali jika karena kendala bahasa orang Indonesia menjadi terbatas aksesnya pada pengetahuan itu.

Orang Indonesia. Termasuk jurnalis?

Ya, suka atau tidak, kemampuan jurnalis lokal Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Apa yang harus dilakukan untuk menambal kekurangan itu?

Untuk menyerap kemajuan dan perkembangan dunia media yang terbangun dan beredar secara internasional, jurnalis harus bergaul di lingkup internasional dan membangun keunggulan yang dihormati di lingkup internasional. Mau tidak mau, semua insan media perlu prasyarat minimal yaitu kemampuan berbahasa Inggris. Penguatan kapasitas melalui perusahaan media dan organisasi profesi bisa menjadi pilihan. Selain penguatan kapasitas secara mandiri.

Apa yang yang terpenting dari pelatihan itu?

Workshop ini sebenarnya menegaskan kembali ihwal tugas jurnalis. Tak peduli platform media cetak maupun daring. Mereka tetap harus menyajikan warta yang akurat dengan standar KEJ (Kode Etik Jurnalistik) dengan orientasi-empati pada audiens.

Sabine mengingatkan 70 persen warta di media daring merupakan hasil tulis ulang dan salin-tempel. Ia mengingatkan peserta untuk menjadi bagian dari 30 persen, bukan yang 70 persen itu.

Satu hal lagi yang penting yakni kualitas data dan perencanaan. Pengumpulan data yang valid dan perencanaan yang baik. Kedua hal itu menjadi kunci pengelolaan media daring, termasuk media daring lokal. Mungkin di awal tampak mahal, butuh proses lama, dan tidak mudah, namun sekali kedua hal itu dibangun secara berkelanjutan, keduanya menjadi kunci keberlanjutan media daring juga, termasuk media daring lokal.

Sejauh mana proses penerjemahan materi itu? Apa mungkin diterbitkan jadi buku?

Hehehe, tawaran penerbitan terlalu muluk. Prakarsa kami, saya dan Akbar, lebih sebagai sumbangan untuk kawan-kawan peserta.

 

Sabine : 200 Persen Saya Mendukung

Sabine mengatakan gagasan Wijiyati dan Akbar memberinya ide adanya materi workshop berbahasa Indonesia. “Gagasan mereka menarik, 200 persen saya mendukungnya,” katanya.

Menurut dia, materi workshopnya berisi persoalan teknis media, di antaranya dalam bentuk latihan dan praktik. Penerjemahan materi secara tekstual saja tak cukup. Masih banyak materi pelatihan yang harus disesuaikan dengan konteks media di Indonesia. Sehingga pembaca bisa memahami materi itu dengan konteks media di Indonesia.

Ia mengusulkan ada kerjasama antara AJI Indonesia dan CFI Media Cooperation mensponsori penerbitan e-book untuk menindaklanjuti gagasan tersebut. ***