Perpustakaan Liar Pram dan Historiografi Rasis

Perpustakaan Liar Pram dan Historiografi Rasis

foto: Courtesy Jakartanicus

Independen -- Soesilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer terus merawat ingat ingatannya tentang sosok Pram, sastrawan kiri yang pernah dipenjara di Pulau Buru pascatragedi 1965. Ia mendirikan perpustakaan di rumah tempat Pram dilahirkan di Blora. Dari 500 buku saat ini berkembang menjadi 10 ribu mengisi rak-rak di "Perpustakaan Liar" ini. 

Ia menyayangkan meski telah 11 tahun berdiri di Blora, Soesilo mengatakan tak satupun tetangganya berkunjung ke perpustakaan ini. Selengkapnya di Menghadirkan Pram di Perpustakaan “Liar” Pataba.

Sementara itu Ariel Heryanto, sejarawan Monash University mengkritik historiografi Indonesia yang dinilai rasis. Ia mengkaji itu dari film-film komersial tentang 1965 yang lahir pasca 1998. Ariel menilai film-film tersebut cenderung hitam putih melihat gerakan kiri dan kelompok komunis. Ia membandingkan karakter film yang dibuat Usmar Ismail pada masa Soekarno. Selengkapnya simak Jakartanicus.