Kisah Mereka, Korban Konflik Maluku

Embed from Getty Images

foto: Agus Sutedjo I Getty Images

Konflik Maluku yang terjadi pada 1999-2002 merenggut banyak korban. Tidak hanya nyawa orang dewasa tapi juga masa depan anak-anak.

Independen, Jakarta -- Saat konflik Maluku meletus sepanjang 1999-2002, Jacklevyn Frits Manuputty adalah seorang pendeta di Ambon. Meski tidak pernah memegang senjata dan maju ke medan perang, dia mengakui banyak memberikan pemberkatan serta doa kepada “pasukan” Kristen yang hendak berangkat “perang”. “Dulu saya memahami perang melawan warga Islam adalah perang suci membela agama dan Tuhan,” ujarnya saat bedah buku “Keluar dari Ekstremisme: Delapan Kisah ‘Hijrah’ dari Kekerasan Menuju Binadamai”, di Perpustakaan Nasional Jakarta, Selasa (27/2).

Jacklevyn Frits Manuputty adalah saksi mata konflik Maluku. Ia menyumbang satu bab tulisan di berjudul Dari Tarian Perang ke Tarian Damai. Tulisan itu bercerita tentang pengalaman bekas komandan tentara anak Kristen bernama Ronal Regang, yang saat itu masih berusia 10 tahun ketika konflik terjadi.

Ronal adalah anak korban konflik yang terpaksa hidup dari satu tempat pengungsian ke tempat pengungsian yang lain untuk mencari keluarganya. Dia mengalami trauma dan menyimpan dendam karena mendengar kabar ayahnya telah dibunuh. “Ronal pun terlibat sebagai tentara anak," ujar Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban itu.

Menurut Jaclevyn ada ratusan anak, baik dari pihak Kristen maupun Islam yang bernasib sama dengan Ronal. Mereka dilatih dan dipersenjatai. Tentara-tentara anak ini bertugas membeli peluru, memata-matai, merazia pengungsi, dan merakit bom.

Ia menegaskan konflik Maluku tidak hanya merenggut pria dewasa dari kedua belah pihak yang berperang. Kerusuhan ini juga menghancurkan masa depan anak-anak dari kelompok Kristen dan Islam yang terlibat dalam konfik itu. Karena pascakonflik ratusan tentara anak ini bernasib sama seperti kombatan dewasa.

Mereka dikucilkan, dicurigai, dan tidak mendapat tempat di masyarakat. Jaclevyn mengatakan pemerintah, saat itu, tidak memiliki cara untuk mengembalikan mereka ke keluarga maupun masyarakat. Ia mengatakan setelah konflik berakhir, "Banyak anak yang hilang.” Sebagian mantan kombatan anak itu ke Jakarta bekerja sebagai tukang tagih utang (dept collector).

Sedangkan Ronal mendapatkan pendampingan Jaclevy. Butuh proses yang lama agar Ronal bisa menjalani hidup secara normal. Setelah bertahun-tahun melewati pendampingan, dialog, pertemuan dengan pihak-pihak yang pernah bernasib sama dengannya, akhirnya Ronal kembali pulih. Tak lagi mendendam kepada bekas lawan-lawannya di medan perang. Bahkan, ujar tokoh yang pernah menerima Maarif Award itu, Ronal terlibat dalam kegiatan-kegiatan komunitas lintas agama untuk menyuarakan perdamaian di Maluku.

Sidney Jones, Direktur Institute For Policy Analysis of Conflict (IPAC), yang hadir sebagai pembedah buku sangat antusias dengan cerita Jacklevyn tentang Ronal. Dia berharap model pendampingan yang dilakukan Jacklevyn kepada kombatan anak konflik Maluku itu juga bisa diterapkan kepada kelompok berbeda.

Ia memaparkan tiga faktor yang mempengaruhi proses keberhasilan penyembuhkan atau deradikalisasi pihak-pihak yang pernah terlibat dalam konflik. Yaitu kesadaran dari keluarga si pelaku atau korban, kehadiran mentor atau pendamping dan pemahaman konteks peristiwa hari ini dan masa lalu. “Perubahan konteks sangat penting untuk meyakinkan mereka yang terlibat dalam konflik keluar dari kekerasan,” ujar Sidney.

Karena itu Sydnei mengatakan Pemerintah Indonesia perlu serius memikirkan nasib 100 anak Indonesia deportan ISIS. Meski dia tidak yakin model pendampingan yang dilakukan kepada bekas tentara anak korban sekaligus pelaku konflik Maluku bisa diterapkan kepada anak-anak yang pernah dan hendak pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS itu. "Sekarang ini kita memasuki periode demokrasi yang agak berbeda. Akar konflik di periode ini adalah campuran antara agama dan opurtunisme (kemunafikan) politik," ujar Jones.

Selain bedah buku, juga digelar nonton bareng film Jalan Pulang. Film ini disutradarai Arifuddin Lako seorang mantan narapidana terorisme Poso. Film ini pun menjadi alat rekonsiliasi korban konflik di daerah Sulawesi Tengah tersebut.

 

Agus Setiyanto I ID001