Cukong Sawit Riau Ancam Taman Nasional Tesso Nillo

Cukong Sawit Riau Ancam Taman Nasional Tesso Nillo

foto: pixabay.com

ilustrasi

Independen, Jakarta -- Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) menemukan 15 pemodal perorangan pelaku perambahan kawasan hutan dan penerima titipan hasil perkebunan kelapa sawit yang berada di kawasan hutan di Provinsi Riau. Warga setempat menyebut mereka sebagai cukong sawit.

Okto Yugo Setiyo, Juru Kampanye Jikalahari, mengatakan, para cukong sawit ini tak kalah agresif dibanding perusahaan kelapa sawit bermodal besar. Mereka juga menguasai ratusan hingga ribuan hektare hutan sawit. “Paling kecil satu cokong menguasai 200 hektare, paling besar 1.800 hektare hutan sawit,” ujar Okto, melalui pesan singkat, Senin (5/3).

Sebelumnya, di Jakarta, akhir pekan kemarin, Okto menjelaskan sepak terjang para cukong dalam perambahan hutan di Provinsi Riau, termasuk di wilayah Taman Nasioanal Tesso Nillo. Mereka biasanya menjalin kongkalikong dengan elit pemerintah daerah dan pandai mengorganisir para pendatang untuk membabat hutan. Banyak di antaranya mendatangkan orang-orang dari Sumatera Utara.

Para cukong sawit ini juga punya latar belakang beragam. Dari  pengawai negeri sipil, aparat, anggota dewan, tokoh masyarakat, pengusaha, bahkan wartawan. Berdasarkan data yang organisasi ini miliki, cukong-cukong tersebut menguasai 12.389 hektare hutan sawit. “Kehadiran cukong-cukong ini mengancam kelestarian Taman Nasional Tesso Nilo,” ujarnya.

Taman Nasional Tesso Nilo merupakan hutan yang memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi. Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2003 lalu mendata 360 jenis flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilian, dan 18 jenis amfibia di kawasan hutan hujan dataran rendah sub das aliran Sungai Tesso dan Nilo ini. Tesso Nillo juga disebut sebagai sisa hutan dataran rendah yang menjadi habitat bagi satwa gajah sumatera dan harimau sumatera.

Soelthon Gussetya Nanggara, Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia (FWI) mendesak pemerintah segera turun tangan menertibkan cukong-cukong tersebut. Menurut dia nama-nama 15 cukong temuan Jikalahari itu sudah dilaporkan ke polisi, pemerintah daerah, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dia mengeluhkan selama ini pemerintah kurang tanggap dalam menertibkan cukong-cukong sawit.

Menurut FWI sendiri hingga 2015 izin pelepasan kawasan hutan di Provinsi Riau sudah mencapai 1,55 juta hektare sedangkan izin perkebunan yang berada dalam kawasan hutan di provinsi tersebut mencapai 460 ribu hektare. Dalam kerja-kerja pengawasan di lapangan, dia mengaku selama  ini banyak bersinggungan dengan cukung-cukong sawit. “Jika pemerintah lambat menangani cukong-cukong ini, kebakaran hutan akan tetap terjadi di Riau,” ujar Soelthon, di Jakarta, Jumat (2/3).

 

Agus Setiyanto I YHM