Upacara Kemerdekaan Ala Sekolah Perempuan di Beberapa Daerah

Upacara Kemerdekaan Ala Sekolah Perempuan di Beberapa Daerah

foto: Dok. Pondok Pergerakan, NTT

Sekolah Perempuan dan Kelompok Belajar Komunitas menggelar upacara memperingati Kemerdekaan ke-72 RI di kampung nelayan Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, Kamis (17/8).

Independen -- Perempuan-perempuan dari berbagai daerah, anggota Sekolah Perempuan menggelar upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia. Mereka mengenakan pakaian adat masing-masing.

Di Jakarta, misalnya, sekitar 160 anggota Sekolah Perempuan dari Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara Kaum, Rawajati bergabung dengan aktivis Institut Kapal Perempuan, dan pekerja rumah tangga berupacara di Gelanggang Remaja, Jakarta Timur, Kamis (17/8). “Uapcara ini untuk memperkuat nilai kebangsaan dan penghargaan pada kebhinekaan,” kata Misiyah, Direktur Institut Kapal Perempuan di Jakarta.

Sekolah Perempuan menggelar upacara di Gelanggang Remaja, Jakarta Timur yang dipimpin Musriyah, Ketua Sekolah Perempuan Rawajati, Kamis (17/8). Foto-foto dokumentasi jaringan Kapal Perempuan.

Selain rangkaian upacara pembacaan teks Proklamasi, Pancasila, Pembukaan UUD 1945, dan pengibaran bendera, mereka membacakan ikrar perempuan. Isinya diantaranya menentang penundukan terhadap perempuan menggunakan ajaran dan tafsir agama sepihak yang mengancam kedaulatan perempuan, menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan keluarga, masyarakat dan negara, dan melawan tindakan yang menjadikan perempuan hanya sebagai alat dan objek politik untuk mendapatkan kekuasaan.

Selain itu kegiatan yang serentak di laksanakan di berbagai daerah jaringan Sekolah Perempuan seperti Gresik (Jawa Timur), Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Pangkep (Sulawesi Selatan), Lombok Timur dan Lombok Utara (Nusa Tenggara Barat), Kupang (Nusa Tenggara Timur) dan Padang (Sumatera Barat) ini untuk mencegah menurunnya nasionalisme dan meningkatnya intoleransi. Ia khawatir penurunan nilai toleransi dan kebhinekaan akan berdampak serius pada perempuan. “Perempuan akan didiskriminasi karena jenis kelaminnya dan mungkin juga karena suku dan agamanya,” katanya.

Dalam pidatonya Misi mengingatkan anggota Sekolah Perempuan, perjuangan saat ini bukan lagi melawan kolonial. Namun, melawan penjajahan di alam pikiran. “Melawan ketakutan untuk berfikir kritis,” katanya.

Tim sepakbola Sekolah Perempuan akan bertanding usai upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI, di Kepulauan Pangkep, Kamis (17/8). 

Sementara itu di Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara, Kepulauan Pangkep, Sulawesi Selatan, upacara diikuti wakil tujuh pemerintah desa dari 18 pulau, selain anggota Sekolah Perempuan Pulau, Babinsa, dan masyarakat. Mereka mengenakan kostum putih dan Lipa Sabbe, sarung tradisional Sulawesi Selatan berwarna merah. Lomba mendayung kapal dan sepakbola perempuan juga digelar usai upacara.

Menari bersama dilakukan anggota Sekolah Perempuan dan Kelompok Belajar Komunitas Kota Kupang, usai upacara, Kamis (17/8).  

Sedangkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sekitar 80 anggota Sekolah Perempuan dan Kelompok Belajar Komunitas mengundang 20 orang perwakilan tokoh masyarakat dan pengurus RT dan RT melaksanakan upacara. Kegiatan ini berlangsung di kampung nelayan Kelurahan Lasiana, Kota Kupang.

Mengenakan kain tradisional Kupang, pengibaran bendera dilakukan anggota Sekolah Perempuan. Usai upacara, mereka pun menari bersama dan menggelar lomba.

Y. Hesthi Murthi