Tingkat Kekecewaan Anggota NII, Gafatar, dan ISIS Diteliti

Embed from Getty Images

Independen, Jakarta -- Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) menelliti sikap mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII), Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), dan Islam State of Irak Suriah (ISIS). Robi Sugara, Direktur Eksekutif IMCC, menjelaskan, NII, Gafatar, dan ISIS dipilih karena beberapa faktor.

Studi mengenai NII sangat penting karena organisasi ini berperan signifikan dalam gerakan terorisme di Indonesia. Imam Samudra dan Mukhlas, misalnya, keduanya adalah aktivis yang berasal dari NII dan kemudian menjadi pelaku utama Bom Bali I pada 12 Oktober 2002. "Iwan Darmawan pelaku bom di Kedutaan Australia pada 2004 yang dihukum seumur hidup juga berasal dari aktivis NII wilayah Banten," ujar Robi di Jakarta Selatan, Senin (19/2).

Sedangkan Gafatar menjadi menarik karena menimbulkan respons dari kelompok mainstream Islam yang kemudian diperkuat dengan keluarnya fatwa sesat oleh MUI pada 2016. Setelah fatwa ini keluar, Gafatar kemudian terusir dari wilayah “hijrahnya” di Kalimantan. Selain dilarang, beberapa pimpinan organisasi ini juga dipenjara karena melakukan penistaan pada agama Islam.

Kemudian deportan atau returni pro ISIS. Deportan adalah orang yang hendak “hijrah” ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Namun belum sampai ke Suriah mereka dideportasi oleh otoritas setempat. Sementara returni adalah orang yang sudah sampai ke Suriah dan bergabung dengan ISIS, tapi kecewa dengan keadaan di sana dan akhirnya kembali ke Indonesia.

“Pada 2007 NII Crisis Center mencatat ada 70 ribu orang keluar dari NII. Satu faktor mereka keluar adalah karena kecewa dengan perilaku pemimpinnya dan penyelewengan syariat agama,” ujar Robi.

Untuk kasus Gafatar, rata-rata mereka tidak ada yang menyatakan kecewa kepada Gafatar. Justru secara umum mantan Gafatar kecewa kepada kebijakan pemerintah yang mengevakuasi mereka dari Kalimantan. Para mantan Gafatar kebanyakan masih percaya kegiatan-kegiatannya di Kalimantan merupakan bakti nyata kepada negara.

Selanjutnya, untuk kasus deportan yang belum pernah sampai ke tempat tujuan, tidak ada yang menyatakan kecewa terhadap kelompok ISIS. Bahkan mereka masih punya keinginan untuk hijrah dan hidup di bawah naungan Islam. Sementara returni yang sudah merasakan dan sampai di Suriah menyatakan kecewa terhadap ISIS karena apa yang disebarkan lewat media ternyata tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

“Dalam strategi penanganan kelompok radikal pro kekerasan dan non kekerasan, penting sekali untuk diketahui apakah mereka kecewa atau tidak terhadap kelompoknya,” ujar Robi. Riset tersebut membuktikan orang-orang yang mengalami kekecewaan kepada kelompoknya jauh lebih mudah mengikuti program deradikalisasi.

Jefri, bekas anggota Gafatar Jawa Barat, yang pernah “hijrah” ke Kalimantan, menyatakan hingga hari ini stigma buruk masih menimpa bekas anggota Gafatar dan keluarganya. Setelah terusir dari Kalimantan sampai hari ini mereka masih dianggap pelaku makar yang anti kepada Pancasila.

Menurut Jefri di Kalimantan 8.000 orang anggota Gafatar rela berjuang membangun lahan gambut menjadi lahan produktif. Tanpa bantuan pemerintah mereka bergotong-royong meningkatkan hasil pertanian dan upaya ketahanan pangan. Tapi kemudian setelah berhasil mereka kemudian diusir dengan dituduh hendak memberontak kepada pemerintahan yang sah.

“Janji pemerintah kepada kami sampai hari ini tetaplah janji. Kami sekeluarga tetap terstigma sebagai pelaku makar dan sesat,” ujar Jefri menanggapi hasil penelitian IMCC itu.

Sebagai informasi. Riset ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara terstruktur. Responden yang diwawancarai berjumlah 46 orang, yaitu 20 bekas NII, 16 mantan Gafatar, dan 10 keluarga deportan dan returni ISIS. Wawancara dilakukan selama tiga minggu pada Oktober 2017.

Agus Setiyanto