Buruh Migran Perempuan Kombatan ISIS

Embed from Getty Images

foto: Andrew Regam I Getty Images

Ilustrasi

Independen, Jakarta -- Islam State of Irak Suriah (ISIS) makin massif merekrut perempuan Indonesia untuk tampil sebagai kombatan. Kelompok yang paling rentan disasar adalah buruh migran perempuan. Anehnya bukan mereka yang bekerja di Timur Tengah. Tapi buruh migran yang bekerja Asia Timur. "Seperti Hongkong dan Taiwan," ujar Navhat Nuraniyah di Jakarta, Selasa (20/2).

Saat diskusi bertema Dari JI ke ISIS: Perubahan Peta Jaringan Teroris Global dan Kaitannya dengan Ekstremisme di Indonesia, Analis Institute For Policy Analysis Of Conflict (IPAC) ini mengatakan buruh yang terpapar paham radikal ISIS ini bukanlah buruh biasa. Mereka berpendidikan, pandai berbahasa Inggris, memiliki media sosial dan melek internet. Sosial media inilah, kata Navhat, yang memberikan memberi pengaruh dominan ideologi radikal.

Karena kemampuan bahasa dan jaringan medsos membuat mereka mampu berkomunikasi dengan banyak jihadis di Suriah. Bahkan ada yang memilih menikah dengan jihadis melalui video call dan selanjutnya menyusul "suami" mereka ke Suriah. Ini menunjukkan radikalisasi buruh migran melalui media sosial lebih cepat dan instan. Bahkan hanya membutuhkan waktu hitungan bulan. "Lewat pengajian sudah tidak lagi efektif," ujarnya. 

IPAC sendiri melakukan penelitian ini dengan mewawancarai 25 perempuan Indonesia yang pernah bergabung dengan ISIS. Mereka terdiri dari buruh migran dan bukan buruh migra. Hasil penelitian menunjukkan hanya tiga orang yang memiliki motivasi untuk memilih ISIS tanpa melewati pergulatan ideologi. Sebagian besar sebelumnya berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Negara Islam Indonesia (NII). 

Ia pun mendorong polisi lebih waspada meski saat ini polisi dipusingkan dengan keberadaan 350 deportan yang gagal berganung ke Suriah atau dan returni pro ISIS orang yang sudah sampai Suriah dan bergabung dengan ISIS tapi kecewa dengan keadaan di sana.

Navhat mengatakan saat ini ISIS mengubah strategi terkait anggota perempuan. Mereka merekut perempuan tidak lagi untuk mengurusi masalah logistik, bendahara, dan rekruitmen. Peran perempuan di ISIS sebagai ibu rumah tangga diubah. Perempuan-perempuan ISIS awalnya bisa jadi tidak radikal. "Tapi mereka sudah akrab dengan senjata," ujarnya "ISIS menempatkan mereka sebagai bomber."

Emansipasi perempuan ala ISIS yang ditunjang doktrin baru ini terjadi setelah kalah di Suriah. Kepada Independen.id Navhat tidak menyebut jumlah nubuh migran pro ISIS yang tersebar di negara-negara Asia Timur. Tapi dalam sebuah wawancara dengan wartawan asing Juli tahun lalu, dia pernah mengatakan 100 dari 155 ribu buruh migran di Hongkong memiliki paham radikal.

Taufik Andrie, Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian mengatakan fenomena massifnya rekruitmen dan radikalisasi perempuan ISIS tidak lepas dari frustasi sosial dan tekanan politik. Frustasi karena ketidakadilan, motivasi bertobat memperbaiki diri, dan balas dendam, membuat perempuan ISIS berani tampil ke depan menggantikan tugas-tugas suami mereka sebagi jihadis.

Agus Setiyanto