Buruh Migran, dari Pemodal hingga Calon Pengantin Bom Bunuh Diri ISIS

Embed from Getty Images

foto: Jasmin Merdan (Getty Images)

Ilustrasi

Independen, Jakarta --- Fenomena perempuan buruh migran di Asia Timur menjadi incaran kelompok teroris ISIS untuk direkrut sebagai bomber terjadi karena akses pada internet. Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care mengakui buruh migran di Hongkong dan wilayah Asia Timur lainnya memiliki keleluasaan mengakses internet, sehingga mudah disusupi ajaran ekstrem melalui media sosial.

Selain itu buruh migran di Asia Timur seperti Hongkong dan Taiwan mempunyai hak libur yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pengajian. "Media sosial maupun pengajian sangat efektif digunakan ekstremis menyebarkan ajaran radikal di kalangan buruh migran," ujarnya ketika dihubungi lewat telepon, Rabu (21/2).

Sayangnya kondisi ini, kata Wahyu, belum mendapat perhatian serius dari perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Berdasarkan pengamatannya pejabat KBRI jarang menyapa buruh migran baik secara langsung maupun melalui medsos.

Ditambah para penyebar ajaran radikal juga mampu memanfaatkan keleluasaan dan kurangnya pengetahuan keislaman aparat keamanan di dua negara tersebut. Ia membandingkan dengan aparat keamanan di negara Timur Tengah dan Asia Tenggara yang telah familiar dengan konten-konten radikal. "Kalau aparat di Asia Timur tidak demikian,” ujar Wahyu.

Baca: Buruh Migran Perempuan Kombatan ISIS

Karena itu, ujar Wahyu, pemerintah tidak boleh kecolongan lagi. Satu hal yang bisa dilakukan adalah memproduksi berita pembanding untuk melawan informasi hoaks yang berkembang di sana. Ia juga mendesak perwakilan Republik Indonesia aktif menjangkau komunitas-komunitas pengajian buruh migran di luar negeri. Karena pemerintah mempunyai tugas memperkuat nilai-nilai kebangsaan. "Serta memastikan hilangnya ajaran kebencian dan kekerasan pada buruh migran," ujarnya.

Wahyu mengatakan, saat ini, Migrant Care belum memiliki data pasti jumlah buruh perempuan yang diduga terpengaruh paham ISIS. Tapi Wahyu meyakini data-data yang disampaikan IPAC hanyalah fenomena gunung es. “Senyatanya buruh migran yang terpapar radikalisme jumlahnya lebih besar dari itu (lebih dari ratusan, red),” ujar Wahyu.

Institute For Policy Analysis Of Conflict (IPAC) lembaga yang memberi perhatian pada isu terorisme ini mengidentifikasi setidaknya 50 hingga kurang dari 100 orang perempuan buruh migran di Asia Timur mengambil bagian dalam berbagai kelompok diskusi radikal. Di antara mereka, 43 telah bekerja atau sedang bekerja di Hong Kong, tiga di Taiwan, dan empat di Singapura. Dari jumlah itu, empat perempuan diketahui bergabung dengan ISIS di Suriah.

Sedangkan belasan perempuan buruh migran lainnya, dalam catatan IPAC, telah menikahi teroris secara online. Beberapa di antaranya berupaya bertemu dengan pasangannya, tapi dideportasi pemerintah Turki saat mencoba menyeberang ke Suriah.

Dihubungi terpisah, Dwi Rubiyanti Kholifah dari Asian Muslim Action Network (AMAN) menjelaskan akar dari persoalan ini adalah perasaan kesepian dari lingkungan yang membuat mereka rentan. "Biasanya perasaan kesepian itu akan mengarahkan seseorang mencari jalan di agama," ujar Rubi.

Sehingga dunia maya merupakan tempat bagi mereka mencari informasi seputar agama. Celakanya, kata Rubi, mereka mendapat sambutan dari kelompok ISIS. Fenomena ini bagi Rubi tidak mengejutkan karena kelompok radikal cukup agresif di dunia maya. "Dakwah kelompok radikal sangat gencar dan lebih mudah diakses," ujarnya.

Sementara itu Navhat Nuraniyah, Analis Institute For Policy Analysis Of Conflict (IPAC) mengatakan munculnya perempuan buruh migran yang radikal harus dipahami dalam konteks pertumbuhan dramatis masyarakat Indonesia di luar negeri dan munculnya kelompok keagamaan di sana. Saat ini karena gaji dan perlindungan hak-hak buruh yang relatif baik, Hong Kong menjadi tujuan paling populer bagi pekerja migran Indonesia setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Taiwan.

Jumlah buruh migran di Hong Kong pada tahun 1990 hanya 1.000 orang. Jumlah ini menjadi 55.000 pada tahun 2000 dan lebih dari 153.000 orang pada 2016. Kehadiran mereka telah melahirkan berbagai bisnis, layanan dan asosiasi dengan segala macam dasar hobi, mulai dari mode hingga olahraga. Namun sektor yang paling cepat berkembang adalah dakwah Islam. 

Data IPAC menunjukkan saat ini terdapat lebih dari 100 kelompok pengajian. Mereka berkumpul saat hari llibur yaitu hari Minggu. "Banyak kegiatan pengajian digelar di Taman Victoria dan tempat umum lainnya,” ujar Navhat saat diskusi bertema Dari JI ke ISIS: Perubahan Peta Jaringan Teroris Global dan Kaitannya dengan Ekstremisme di Indonesia, di Jakarta, Selasa (20/2).

Calon Pembom Hingga Pemodal ISIS 

IPAC juga mencatat salah satu alasan yang kuat ISIS menarik buruh migran dalam lingkaran mereka adalah alasan ekonomi. "Pacar online mereka lebih tertarik pada uang buruh migran," ujar Navhat, "Bukan ideologi."

Upaya yang dilakukan ISIS untuk mendapatkan keuntungan ekonomi ini dengan membangun relasi pribadi. Dalam perjalanan waktu, beberapa buruh migran tertarik mengabil peran yang lebih aktif, menjadi pemodal, petugas penghubung. "Akhirnya calon pembom bunuh diri,” kata Navhat menambahkan.

Karena itu Rubi menambahkan pemerintah perlu melakukan sejumlah terobosan dalam menangani isu teroris dengan mengubah paradigma dari pendekatan keamanan menjadi pendekatan pencegahan. Pada kasus buruh migran perempuan, pemerintah perlu memastikan proses perekrutan buruh di dalam negeri dan memberikan pendidikan berperspektif anti radikalisme agar buruh migran waspada sejak dini. 

Rendahnya pengetahuan, menurut Rubi, memudahkan ISIS memutar balik makna jihad untuk perempuan. Dari jihad dalam peran reproduksinya menjadi jihad ke medan perang. Pengetahuan yang rendah ini menjadi pintu masuk ISIS, kata Rubi, nampak seolah berupaya mendobrak tatanan di masyarakat patriakal dengan memberi peran perempuan buruh migran dari perekrut, pendidik, pemodal hingga melakukan bom bunuh diri.

Ia menegaskan ISIS tidak mengenal konsep pemberdayan perempuan, sehingga buruh migran perempuan yang diberi peran di luar peran domestik itu, " Tetap dalam posisi sebagai alat." Dengan posisi tersebut apakah buruh migran perempuan yang bergabung ISIS berdaya? "Sama sekali tidak," ujarnya. Ia melihat ISIS hanya menggunakan perempuan sebagai instrumen seolah mendobrak tatanan gender yang sudah ada.

Selain itu pemerintah perlu melakukan pemberdayaan perempuan dan membangun kesetaraan gender (gender equality) untuk sebagai salah srategi pencegahan ekstrimisme.  "Logikanya jika perempuan berdaya tidak mudah 'dikadalin' atau dibodohin ISIS," kata Rubi.

Pemerintah, ujar Rubi, juga perlu memberi perhatian pada ketidakadilan (injustice) dan ketimpangan (inequality) pembangunan yang dirasakan perempuan buruh migran.  Karena dua hal itu adalah salah satu akar masalah keterlibatan perempuan buruh migran dalam kegiatan radikal.

Sementara itu Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara meyayangkan penanganan kelompok radikal pro kekerasan dan non kekerasan ini dilakukan masih lebih sebagai respon tanggap darurat. Pemerintah baru bertindak setelah terjadinya suatu kasus atau peristiwa. "Aspek pencegahannya masih belum menjadi prioritas," ujarnya ketika ditemui dalam diskusi serupa awal pekan ini.

Kehadiran UU Terorisme pada 2003 merupakan satu contoh hasil respon tanggap darurat pasca Bom Bali 12 Oktober 2002. “Selain itu, sampai saat ini, pemerintah Indonesia belum memiliki regulasi untuk menangani gerakan terorisme global seperti ISIS yang menyisakan persoalan teroris yang beroperasi di negara lain (terrorist foreign fighter), teroris lokal (homegrown terrorism), dan teroris yang bekerja sendiri (lonewolf terroristm).

Agus Setiyanto

 

Catatan Redaksi: Tulisan ini mengalami perubahan judul dari "Buruh Migran Perempuan Incaran ISIS" menjadi "Buruh Migran, dari Pemodal Hingga Calon Pengantin Bom Bunuh Diri ISIS" dan mengalami edit ulang struktur tulisan dan kesalahan penulisan, Kamis (22/2) pukul 09.41 WIB.