Aktivis Serukan Stop Perkawinan Anak 

Aktivis Serukan Stop Perkawinan Anak 

foto: Foto-foto: Dokumentasi Indonesia Beragam

Aksi menolak perkawinan anak di Patung Kuda, Jakarta, Sabtu (21/4) lalu.

Independen, Jakarta -- Sehari menjelang peringatan Hari Kartini, 18 aktivis perempuan datang ke Istana Bogor. Bertatap muka dengan Presiden Joko Widodo. Menyampaikan kegelisan tentang problem perempuan yang jauh dari harapan, soal tingginya angka perkawinan anak.

Zumrotin K. Susilo, aktivis perempuan yang hadir saat itu, menyampaikan dampak buruk perkawinan anak pada anak perempuan. Missiyah, Direktur Eksekutif Kapal Perempuan, menambahkan pentingnya pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan untuk mencegah perkawinan anak yang semakin mengkhawatirkan.  Sementara Indry Oktaviani (Koalisi Perempuan Indonesia), mewakili Tim Perumus menyerahkan Draft Perppu dan Draft PP kepada Presiden Joko Widodo.

Pertemuan aktivis perempuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jumat (20/4) lalu.

Sehari setelahnya, tepat di hari kelahiran Kartini, masih mengusung isu yang sama, 50 perempuan berkumpul di Patung Kuda, Jakarta Pusat. Mereka membentangkan poster tulisan tangan yang isinya menyuarakan agar pemerintah serius menghentikan praktik perkawinan anak. Kritik terhadap praktik pemberian dispensasi perkawinan anak pun disuarakan. 

Mengutip data Badan Pusat Statistik 2013 dan 2015, menunjukkan 1 kasus perkawinan anak di setiap 5 orang. Dalam siaran pers yang diterima Independen, jika tidak disikapi serius, mereka menyampaikan perkawinan anak dapat menjadi penyebab kegagalan wajib belajar 12 tahun. 

Selain itu, tingginya angka jumlah ibu yang meninggal saat persalinan dan angka kematian bayi, salah satunya faktor penyebabnya adalah perkawinan usia anak. Dampak lainnya anak-anak yang terpaksa menikah rentan terjerat dalam kemiskinan karena tidak dapat mengakses pekerjaan layak dengan upah rendah dan rentan mengalami kekerasan. . 

Pentas membaca puisi Kartini di Desa Kesamben Kulon, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (21/4) lalu.

Aksi serupa tidak hanya dilakukan di Jakarta. Tapi juga berlangsung di Gresik, Jawa Timur. Sekitar 100 perempuan anggota Sekolah Perempuan mengikuti lomba membaca puisi surat Kartini bertema "Ketika Perempuan Menolak Perkawinan Anak". 

Lilik Indrawati, Ketua Sekolah Perempuan Gresik mengajak warga Desa Kesamben Kulon, Gresik tidak lagi melakukan praktik perkawinan anak untuk menghindari kekerasan terhadap perempuan dan pemiskinan. Mereka menggelar lomba ini secara swadaya, menyisihkan uang belanja.

 

Sedangkan di Kupang lebih dari 50 perempuan berkumpul menyerukan semangat serupa "Cegah dan Akhiri Perkawinan Anak". Pembacaan seruan yang dipimpin Mama Ina ini berlangsung di Pantai Wisata, Desa Mata Air, Kupang. 

Acara ini bagian dari dukungan Sekolah Perempuan Kota dan Kabupaten Kupang memperingati Hari Kartini serta meminta keseriusan pemerintah menghentikan praktik perkawinan anak. Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Jember dan Bali.  (YHM)