Presiden Diminta Tak Keluarkan Perppu Antiterorisme

Presiden Diminta Tak Keluarkan Perppu Antiterorisme

foto: Anadolu Agency Indonesia

Ibu dari Vincensius Eva (11) korban meninggal bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Minggu (13/5).

Independen, Jakarta --- Aksi kelompok teroris Jamaah Asharut Daulah (JAD) dengan melakukan bom bunuh diri di gereja dan Markas Kepolisian Resort Wilayah Kota Besar (Mapolrestabes) Surabaya dua hari terakhir membuat Presiden Joko Widodo mengingatkan agar DPR RI segera menyelesaikan Revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. RUU ini telah dibahas sejak dua tahun lalu di Senayan. 

Lambatnya proses legislasi RUU ini mengundang pertanyaan dari sejumlah pihak. Al Araf, Direktur Eksekutif Imparsial mengkritik DPR dan pemerintah masih berkutat dalam soal definisi terorisme dibanding menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Anti Terorisme. Selain itu ia mengkritik pola pembahasan yang tidak terbuka. 

Al Araf meminta agar anggota DPR RI membuka proses pembahasan untuk publik agar mendapat masukan dari publik. "Jangan tertutup," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (14/5).  

Terorisme adalah kejahatan yang kompleks dan susah dideteksi karena itu ia meminta Panitia Khusus DPR RI tidak berbelit-belit membahas soal definisi. Sementara itu Risa Mariska, Anggota Pansus dari Partai PDI Perjuangan yang hadir dalam diskusi yang sama mengatakan perbedaan definisi terorisme karena perbedaan pandangan, ideologi, dan potensi ancaman negara ke dalam RUU ini. 

Risa menyampaikan anggota DPR berpendapat definisi terorisme harus dijelaskan detail agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Sehingga, "Definisi terorisme masih simpang siur," ujarnya.

Selain terkait definisi, perbedaan pandangan itu juga terjadi dalam hal judul UU dan boleh tidaknya pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Meski demikian, ia pengatakan perbedaan pendapat pelibatan TNI ini telah disepakati dalam pasal 43 j. 

Karena itu jika RUU ini disahkan, pelibatan TNI ini perlu Perpres khusus untuk mengatur secara teknis implementasi di lapangan. "TNI akan dilibatkan dalam melaksanakan operasi militer saat perang," kata dia. 

Solahudin, pengamat terorisme mengatakan tidak sepakat jika TNI harus dilibatkan dalam penangananan terorisme di Indonesia. Ia menegaskan polisi telah menangkap 1500-1600 pelaku teror. Dari jumlah itu, hanya satu yang bebas melalui pengadilan. Selain itu, hanya satu kejadian bom yang tidak mampu diungkap polisi yakni bom ITC Depok. "Itu artinya polisi sudah optimal," ujar dia. 

Karena itu Al Araf menekankan Presiden tidak perlu mengeluarkan Perppu. "Nanti menimbulkan masalah baru seperti halnya Perppu Ormas," ujarnya. 

Nasir Abbas, bekas anggota Jamaah Islamiah, mengatakan para pelaku teror memanfaatkan kelambanan sikap DPR dan pemerintah. Mereka senang pemerintah dan anggota dewan sibuk berdiskusi dibanding menyiapkan strategi menghancurkan kelompok teror. 

Korban Capai 77 Orang


 

Melansir dari Anadolu Agency Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia akan memeriksa database sel-sel jaringan teroris. Tindakan ini dilakukan setelah serangan teroris kembali terjadi, mulai dari kerusuhan di Lapas Salemba cabang Markas Komando Brigader Mobil, Depok, Jawa Barat dan serangan susulan di tempat ini, pekan lalu. Hingga serangan bom bunuh diri di Surabaya yang terjadi dua hari terakhir. 

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto kepada wartawan di Jakarta mengatakan kebangkitan sel-sel teroris Jamaah Asharut Daulah (JAD) perlu kembali diwaspadai.  

Polisi mengidentifikasi jaringan ini tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Selain itu sel mereka juga terindentifikasi berada di Bima (Nusa Tenggara Barat) dan Poso (Sulawesi Tengah). 

Aksi teror teroris di Mako Brimob, ledakan di tiga gereja di Surabaya yang menelan korban jiwa masyarakat sipil dan polisi. Pelaku serang bom bunuh diri di Surabaya adalah satu keluarga. Aksi teror tidak hanya menjadikan perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri, tapi juga mengorbankan anak-anak.

 

Agus Setiyanto I YHM