Institusi Pendidikan Perlu Deteksi Dini Doktrin Radikal 

Institusi Pendidikan Perlu Deteksi Dini Doktrin Radikal 

foto: Anadolu Agency Indonesia

Salah satu korban selamat dari aksi bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Minggu (13/5).

Independen, Jakarta -- Sekitar 60 persen responden, pelajar yang aktif di lembaga Kerohanian Islam (Rohis) di sekolah menyatakan ingin ke Suriah untuk bergabung dengan Islam State of Iraq and Syria (ISIS). Data tersebut merupakan hasil survei Wahid Foundation saat kegiatan perkemahan nasional Rohis yang digelar Kementerian Agama tahun 2016 lalu. 

Meski demikian Yenny Zannuba Wahid, Direktur Wahid Foundation mengingatkan agar masyarakat tidak menghakimi anggota Rohis dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Dia menyebut beberapa indikator lain dari survei itu juga menyatakan aktivis Rohis bukanlah bibit-bibit radikal. Yenny meyakinkan masih banyak aktivis Rohis yang cinta kepada bangsa dan negara. "Buktinya ada 48 persen responden mengatakan perbuatan menghormat bendera Merah Putih tidaklah masalah atau salah dalam agama," katanya, Selasa (15/3). 

Keberadaan lembaga itu di sekolah-sekolah negeri dan perguruan tingggi mengemuka dalam diskusi di Rumah Pergerakan Griya Gus Dur Jakarta hari ini. Media massa memberitakan latar belakang Dita Supriyanto, salah satu pelaku bom gereja di Surabaya adalah aktif di Rohis SMA 5 Surabaya dan LDK Universitas Airlangga. Rohis dan LDK diduga menjadi tempat efektif menyemai paham radikal. "Rohis ini harus dirangkul. Jangan biarkan mereka lari ke pelukan kelompok-kelompok radikal," ujar Yenny menambahkan. 

Salah seorang teman pelaku bom Surabaya, Ahmad Faiz yang hadir dalam diskusi itu menyebut 30 tahun lalu Dita merupakan bekas Ketua Rohis. Ia pun mengajak orangtua, guru, dosen, dan masyarakat tidak abai dalam soal bibit-bibit radikalisme di dua lembaga ini. 

Pihak sekolah dan kampus perlu lebih aktif memantau kehadiran penceramah, yang biasanya berasal dari jaringan alumni Rohis dan LDK itu sendiri. Dia juga meminta aktivis Rohis dan LDK tidak lagi menyangkal adanya potensi radikalisasi di kegiatan-kegiatan berbasis agama Islam itu. "Harus diwaspadai masuknya para perekrut calon pengebom bunuh diri di Rohis dan LDK," ujar Faiz. 

Abdul Moqsith Ghozali, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengatakan rendahnya kualtitas guru agama di sekolah-sekolah memberi andil merebaknya paham radikal di Rohis dan LDK. Ia mengatakan sebagian besar guru agama tidak memiliki latar pendidikan agama yang cukup, lantaran tidak pernah belajar di pondok pesantren. Rata-rata guru agama hanya belajar di kampus dan bangku sekolah.

Karena itu, Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini juga mengajak orangtua murid selektif memilih figur guru ngaji sebagai panutan. "Jangan asal panggil guru agama ataupun buru-buru menggemari ustaz yang terkenal atau viral di media sosial maupun televisi," ujarnya.

Sementara itu, di tempat terpisah Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengingatkan sekolah dan guru perlu melakukan deteksi dini indoktrinasi jaringan teror yang masuk ke sekolah melalui Rohis. Ia menyampaikan gerakan radikalisasi dengan sasaran anak-anak sekolah biasanya tidak langsung mendorong korbannya melakukan kekerasan langsung (direct violence) atau terlibat dalam aksi bom. 

Namun pada tahap tertentu anak diarahkan untuk terlibat menebarkan ekspresi kebencian kepada pemerintah, aparat negara, sistem negara, serta kelompok lain yang tidak sepaham. Pola penyebarannya secara personal dan massif sehingga pola gerakkannya sulit dilacak. "Deteksi dini harus dilakukan berbagai pihak, sekolah, keluarga, guru ngaji, dan masyarakat," ujar Susanto. 

Agus Setiyanto