Deradikalisasi Perlu Sasar Keluarga

Deradikalisasi Perlu Sasar Keluarga

foto: Anadolu Agency Indonesia

Polisi melakukan penjagaan di salah satu geraja di Surabaya yang menjadi sasaran bom, Minggu (13/5) lalu.

Independen, Jakarta -- Pascabom Surabaya ada tujuh anak dari tiga keluarga pengebom yang selamat.  Masyarakat diminta tidak mengucilkan istri dan anak-anak teroris. Karena pengucilan hanya akan menghalangi proses deradikalisasi di keluarga.  "Selama ini mereka (keluarga pelaku teror sebelumnya, red) dibully, bahkan diusir," kata Ruby Khalifah dari Asian Muslim Action Network (AMAN) dalam diskusi di Jakarta, Kamis (24/5).

Ia menduga perundungan itu terjadi karena masyarakat tidak siap dengan perbedaan. Padahal pengusiran maupun perundungan tidak akan menyelesaikan masalah.  Justru sebaliknya, keluarga-keluarga teroris tersebut akan semakin susah untuk disadarkan.

Ia mengatakan karena perundungan itu, banyak di antara anak-anak teroris mendendam, yang ketika dewasa memilih mengikuti jalan perang seperti dilakukan ayah-ayah mereka. Karena itu ia mengingatkan masyarakat untuk lebih terbuka menerima keluarga teroris.

Ruby mencatat saat ini ada 52 perempuan dan 120 anak deportan dari Suriah. Selain tiu terdapat ada 13 napiter perempuan dan 45 buruh migran perempuan Indonesia di Hong Kong yang terpengaruh kelompok radikal. "Pemerintah perlu memikirkan strategi deradikalisasi yang efekif serta tidak jangka pendek," ujarnya.

Nasir Abbas, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) mengusulkan agar pemerintah memperhatikan polisi dan petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) napiter. Menurut dia polisi dan petugas lapas dapat berperan aktif dalam deradikalisasi keluarga teroris. 

Polisi wanita (Polwan) bisa dilibatkan secara massif dalam deradikalisasi. Mereka bisa ditugaskan secara teratur mengunjungi istri dan anak-anak yang ditinggal kepala keluarganya karena sedang di penjara maupun sudah tewas. Dari pengalamannya cara itu cukup efektif menyadarkan keluarga teroris untuk tidak kembali termotivasi melakukan serangkaian teror atas nama jihad. 

"Program pendampingan istri-istri napiter sangat penting. Polwan bisa dilibatkan di situ," ujar Nasir Abbas, dalam acara diskusi di lokasi yang sama. 

Navhat Nuraniyah dari Institute For Policy Analysis of Conflict (IPAC) mengatakan sudah saatnya deradikalisasi yang dilakukan berbasiskan keluarga. Penyadaran tidak boleh lagi dilakukan hanya kepada ayah atau laki-laki teroris. 

Menurut dia munculnya keluarga teroris yang melakukan pengeboman seperti di Surabaya bukanlah ancaman baru. Hanya saja, ia mengatakan, ancaman itu terlambat disadari pemerintah, polisi, dan masyarakat.

Sejak Oktober 2017 ISIS memperbolehkan perempuan untuk terlibat dalam perang. ISIS pun telah melakukan rekrutmen tentara anak saat di Suriah.  Selain itu, penelitian yang lembaga ini lakukan menunjukkan tidak hanya laki-laki yang termotivasi pergi ke Suriah bergabung dengan ISIS.  "Perempuan juga banyak yang bersemangat pergi ke Suriah dengan mengajak anak-anak mereka," ujar Navhat. 

Agus Setiyanto I YHM