MALAM GANJIL

foto: Blanscape I GettyImages

ilustrasi

ROHMAH
Probolinggo, 2 Oktober 2016

 

Tiap helai daun pisang diseka hingga bersih. Hanya terkesan. Kelihatannya
Untuk setelah piring alas makan rawon
Membantu Sariyeh ibunya pembantu warung
Siang, Rohmah sekolah. Kelas tiga

Tak banyak berucap
Lebih hening ketimbang helaian daun pisang
Tak murung lupa ceria. Dendam
Pada hidupnya pada matahari pada rembulan yang kian berganti tiap hari
Luka pada cerita yang ditoreh dalam di nadi darahnya
Pada sejarah yang dipaksa masuk dalam nafasnya

Siang bagi Rohmah, neraka
Petang adalah nista
Betapa kini hidupnya mimpi bahagia bersama ibu bapaknya

Sariyeh dipalu waktu menimang adiknya
Adik jatuh badannya remuk tak pantas kugambarkan
Sariyeh sedikit lebih baik meski telinganya hancur dipopor batu
Kala itu Rohmah hanya yang menyaksikan
Menjerit sudah pasti lari mendekat hendak menolong, tendangan guntur menghempas badan kurusnya
Lunglai ketiganya di tanah dalam rumah

Amarah itu masih
Meski ditutup hening tapi darah tetap mendidih
Kelak harus mencari dan bertemu
Lalu melesakkan daun-daun pisang ke dalam mulut hingga kerongkongan.
Juga ke dalam anus hingga usus sampai sekarat dibantai maut
Akan menikmati pembalasan itu
Jengkal nafas pembalasan akan jadi basuhan kalbu

Sambil menyeka helai daun pisang
Rohmah menghitung
Siaplah, Kau!

 

TIDUR DI?
Surabaya, 30 September 2016

Atap seng kosan kami copot
Disapu angin ribut sore tadi
Kasur bantal sprei basah kuyup dimuntahi hujan
Buku-buku anak kami hancur dimakan air
Baju celana dalam hem kaos jadi karpet kumal dilantak angin

Malam ini kami harus tidur alas terpal plastik beku di kelurahan

Pakaian anakku masih basah di badan
Bibirnya putih rambutnya lepek gemetaran
Kehujanan.
Belum makan belum bikin PR besok ada ulangan

Istriku ditangkap polisi. Disangka bawa narkotika

Aku sedang pimpin pemogokan di pabrik
Baru pagi ini mulai, tak mungkin esok pupus

Malam ini kami harus tidur alas terpal plastik beku di kelurahan

 

GUGUR KEMBANG SONO
Surabaya, 27September 2016

 

Jalanan jadi kuning semu abu-abu
Aromanya harum langu semilir di hidung
Dahan sono menaburi kotaku dengan kembangnya.
Ini karpet kuning selamat datang hujan
Melantun aroma tanah diantar angin
Senandung gerimis

Guguran kembang sono membungkusku ngeri
Seram jadi kejam yang kelam
Mimpi buruk yang datang saat aku sadar
Gergasi bertaring yang membuatku ciut

Guguran kembang sono mengulang lagi bacokan-bacokan pada leher dan dada ayah
Taburan kembang sono menyuguh lagi gemuruh darah dari kerongkongan ayah
Langu kembang sono mengantar seruan terakhir ayah. Enyah!

Ayah, kala dibantai saat membela sawahnya waktu dicaplok pabrik

 

LASMI, "NERAKA!"
Surabaya, 23 September 2016

Riyadi, suami Lasmi, sudah mati dua minggu lalu
Babak belur ditumbuk preman pabrik
Karena mogok minta pesangon PHK

Lasmi sekarang jadi buruh cuci
Anaknya masih orok
Banyak nangis karena tak banyak ASI
Karena Lasmi tak banyak gizi

Sewa kos sudah nunggak tiga bulan
Induk semangnya pak RW ganjen
Punya uang banyak mobil lima istri dua. Ngacengan

Pak RW gemes lihat Lasmi yang ngucek baju
Pak RW birahi lihat Lasmi pakai daster
Pak RW ngiler lihat Lasmi murung
Pak RW labrak Lasmi yang tiga bulan nunggak sewa kosan
Pak RW naik pitam
Pak RW naikin Lasmi. Memaksa. Binatang

Lasmi, "Neraka!"

 

5 x 3
Surabaya, 23 September 2016

Siapa mau hidup di kotak 5x3?
Ketika nafas harus bercampur kentut?
Makan bersila sambil tikus lalu lalang?
Sawang bergelayut bercampur pengap?
Kala lemari plastik desak-desakan dengan bantal?
Tikar plastik diinjak kaki dekil ditiduri peluh?
Buku sekolah berhamburan berserakan pensil penggaris tas sekolah?
Waktu kipas angin menghambur angin panas dan debu kumal?
Ketika keringat bertarung bau apek baju kotor?

Mardi sekeluarga mau
Hestik mau
Agus dan anak istrinya mau
Wawan dan adiknya mau
Tinik dan suami dan 3 anaknya mau

...Terpaksa

 

MALAM GANJIL
Jakarta, 19 Januari 2015

rasa hampa ini masih merangkul kencang menyesakkan paru
jelaga mesiu merasuk tandas dalam hirup nafasku
lembab malam Medaeng membuat malam jadi sepi dalam hiruk pikuk lalu lalang
riuh kabar di antara kami, dering telepon, obrolan malah membuat malam makin mencekam
rasa hampa ini masih merangkul kencang memburai hati

aroma teras otopsi semakin kelam menanjak
selasar kamar mayat makin mengumbar anyir sang ajal
timbunan brankar ricuh berderit menyoraki datangnya kejam

seluruh malam jadi pilu
suluh rembulan teriakan neraka
angin malam maut mendengus liar

ngeri menerkamku menyeringai mencabik masuk dalam asa
budi akalku gontai dalam dingin malam ganjil

ketika Astini ketika Sumiarsih ketika Sugeng
aku tahu tepat harinya, detik jamnya, cara merenggutnya
aku harus menanti orang dibunuh

 

SEGENGGAM MELATI
Surabaya, 4 Februari 2009

Ini malam ingatkan bertahun ayah bunda menikah.
Kami yang masih segelintiran ingin juga sekali berikan kado meski mungil saja.
Aku dan adik rencana mulai pagi siang sehingga malam mau sebentar sajalah.

Ini segenggam rencana dan beberapa lembaran rupiah
sudah sejak beberapa lama lalu kami siap-siapkan.
Tentunya untuk pesta sedikit malam ini makan agak sesuatu yang spesial.

Bunda bilang agar selalu hati-hati di jalan
ayah pula bawakan payung buat halau hujan
karena ini mendung sudah berteriak meraung hingar.
Gemawan gelap hampir menjejak ke bumi.
Sesekali kilat melesat terang sekaligus erangan garangnya.

Kami berpelukan erat sepanjang di perjalanan ke bakul martabak.
Di sana ternyatanya sudah berjajar-deretan mengular pembeli dari semua penjuru.
Ini bakul sangat pintar aku pikir membuat bumbu dan menggoreng martabaknya.
Sehingga rasa cinta tanah air bisa mungkin kalah sama rasanya.

Hitam di awan semakin menyalak gelegar hasrat mengintimi bumi.
Angin kencang terus memacu pepohon menari jingkrak
dinginnya ngilu di gigi dan lutut,
terutama bagi seumuran kami yang anak masih.
Sesekali mendung meludahi penduduk.

Tiba giliran kami,
Gerimis sudah semakin garang
ia berganti sosok dan wujudnya makin menyeramkan.
Beberapa terop warung beterbangan menyusul awan,
kebasahan melanda yang membuat kepanikan dasyat.

Payung yang di kami hampir diterpanya,
jika kubuka terus terbalik akan dan pastinya rusak.
Kututup sajalah biar sedikit basah tak apa

Selesai juga pesanan kami
Martabak 2 lembar,
masing seribu
masing 4 irisan
biarlah agak makannya puas,
seorang 2

Ditemani badai
Ini kami langsung melesat ke rumah pulang.
Apa daya kaki kecil tubuh mungil
Tak bisa menghindar hempas air cipratan kendaraan
Tiada mungkin mengelak kubangan,
terperosok masuk berdua kehilangan sandal
kaki lecet tangan luka di sana-sini

Untung saja cukup cekatan menyelamat martabak
Tak sampai jatuh
Tanpa basah
Bajulah kuyup, badan pastipun basah

Ini sudah di depan pintu rumah
Itu ayah bunda kami menyambut pelukan
pada kedua kami
galau mereka tersurat perih air mukanya kalut
guncang bahagia karena kami masih hidup rupanya

Bunda ayah mengheran pada apa kami bawa
Tubuh adik masih menggigil
rambutnya lautan air hujan
senyum kami menyingkap
menghaturkan martabak.

Bulir air itu mengerling dari mata wajah ayah dan bunda
Bangganya dan haru memeluk
Menciumi kami berdua
hangatkan basah hujan
musnahkan neraka jahanam
gelegar pesona ayah merasuk jiwa kami
selimut cintanya bunda seperti diang pada hati

ini dari kami kado nikah
ayah dan bunda
martabak untuk pesta

 

Andreas Nikolaus Wicaksono adalah photo journalis alias kameramen di CNN Indonesia TV. Lama menggeluti dua jurnalistik sebagai kontributor daerah Surabaya dan sekitarnya untuk beberapa stasiun televisi swasta. Pernah bekerja mencicipi profesi lain sebagai manajer marketing sebuah restoran di Surabaya, tapi akhirnya kembali bekerja sebagai jurnalis. Karya ini sebelumnya diunggah di dinding facebook. Puisi lain dapat dinikmati di http://puisilombok.blogspot.co.id.