Sawit Abaikan Hukum Adat Dayak Hibun

Independen --- Konflik perusahaan perkebunan sawit dengan masyarakat adat sering terjadi. Salah satu akar masalah adalah ketidaksetaraan kuasa antara perusahaan dengan masyarakat. Kuasa ini termasuk informasi, uang maupun keberpihakan aparat keamanan.

Pada kasus masyarakat adat Dayak Hibun di Sanggau, Kalimantan Barat, hukum adat dan hukum negara tidak berjalan seiring. PT Mitra Austral Sejahtera (MAS), perusahaan sawit, melakukan penjanjian adat (Derasa) dengan masyarakat untuk menyewa lahan adat selama 25 tahun. Jika sejak tahun 1995, maka berakhir tahun 2020 yang lalu. Lahan yang disewa seluas 1.462 ha yang berada di Desa Kerunang dan Entapang.

Sementara itu PT MAS yang berasal dari Malaysia,  juga mengajukan  HGU (Hak Guna Usaha) lahan negara kepada pemerintah seluas 8.741 ha. Perusahaan mendapat konsesi pemanfaatan lahan sampai 2030 atau 35 tahun.

Lahan negara ini tumpeng tindih dengan lahan masyarakat adat. Sehingga ketika masyarakat adat meminta kembali lahannya, perusahaan menolak. Perusahaan merasa bisa menggunakan lahan sampai 2030 berdasarkan HGU.

Masyarakat pun protes dengan berdemo. Alih-alih suara mereka didengar, justru 5 orang ditangkap aparat kepolisian dan mendapat hukuman 2 tahun. Sebagian masyarakat Desa Kerunang dan Entapang ketakutan dan sempat lari ke hutan, karena takut ditangkap.

Perusahaan pun melakukan intimidasi dengan mengancam dan mengeluarkan pekerjanya yang orang tuanya terkait dengan protes masyarakat. Hukuman garis keturunan seperti eks tapok PKI diterapkan di Sanggau. Orang tua yang tidak ingin anaknya di-PHK, akhirnya surut perlawanannya.

Pemerintah yang semestinya mengambil posisi melindungi masyarakatnya, justru membiarkan dan bahkan berpihak pada perusahaan. Ini tercermin bagaimana keterlibatan aparat keamanan menangkap masyarakat. Tumpang tindihnya lahan negara dan lahan masyarakat adat pun tidak segera diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau atau Badan Pertanahan Nasional.

Carut marut konflik lahan Perkebunan dengan masyarakat adat Dayak Hibun dapat dibaca pada laporan jurnalis Khairiyah Fitri pada: Hilang Tanah Adat Dayak Hibun Tergerus Sawit

kali dilihat