Polisi Lakukan Kekerasan Pada Jurnalis dan Relawan Kemanusiaan

Polisi Lakukan Kekerasan Pada Jurnalis dan Relawan Kemanusiaan
Foto: sumber: Komite Keselamatan Jurnalis

Independen ---  Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) merilis ada 38 jurnalis dari seluruh Indonesia yang mengalami kekerasan dari aparat kepolisian pada beberapa demonstrasi yang menolak UU Ominibus Law Cipta Kerja. Bahkan beberapa jurnalis sempat ditahan oleh kepolisian. Data itu per hari ini 14 Oktober 2020. 

"Itu data yang dilaporkan kepada kami. Bisa jadi lebih yang belum tercatat, "kata Indira Purnamahadi, Sekjen IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia) sekaligus mewakili KKJ pada konferensi pers 14 Oktober 2020 lewat daring. Komite Keselamatan Jurnalis menuntut Kepolisian untuk menindak tegas aparat yang melakukan kekerasan. 

Sementara itu Muhammad Isnur dari YLBHI mengungkap bahwa demonstrasi awalnya berlangsung damai dan masih jauh dari batas waktu demonstrasi pukul 18.00. "Tiba-tiba saja massa dilempar gas air mata dan water canon,"ujar Isnur. Hal ini menjadi pertanyaan, mengapa polisi melakukan SOP tersebut sementara demonstrasi berjalan damai. 

Hal lain diceritakan Mona Evita dari LBH Pers. Selaku pengacara publik, Mona mengaku tugasnya dihalang-halangi kepolisian. Para pengacara publik dari LBH Pers tidak mendapatkan akses ke jurnalis atau aktivis yang ditahan di Polda. Padahal hal ini dilindungi UU. 

Tindakan kekerasan dari aparat keamanan tidak hanya dialami jurnalis. Paramedis atau relawan kesehatan yang posisinya netral dan dilindungi konvensi internasional, tetap saja mengalami kekerasan oleh polisi.

Pada demonstrasi 13 Oktober 2020, 4 orang relawan MDMC yang bertugas di depan Apartemen Fasher Menteng dengan seragam bertuliskan “Relawan Muhammadiyah”. Tiba-tiba mereka ditabrak dahulu dengan motor oleh polisi, kemudian dipukul. Setelah terjatuh diseret ke mobil sambil dipukul dengan tongkat dan ditendang. Empat relawan itu mengalami luka-luka dan saat ini dirawat di rumah sakit. 

"Kami menyesalkan terjadinya insiden dan meminta penjelasan dari Polda Metro Jaya atas terjadinya insiden tersebut ,"kata Budi Setiawan, Ketua MDMC. 

Merespon kejadian kekerasan yang dilakukan polisi, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono justru melakukan pembelaan itu tindakan polisi melindungi diri. 

"Kita seharusnya menjunjung dan melindungi wartawan, tapi karena situasinya chaos dan anarkis anggota juga melindungi dirinya sendiri. Kita saling kerja sama saja di lapangan," kata Argo di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (9/10/2020).

(D02)

 

 

Politik Lainnya