Pandangan Takmir Masjid Yogyakarta soal Pro-kontra Toa Masjid

Pandangan Takmir Masjid Yogyakarta soal Pro-kontra Toa Masjid

foto: ilustrasi/kabarkota.com

pengeras suara masjid

INDEPENDEN - Pro dan kontra tentang keberadaan pengeras suara musala atau masjid kembali menjadi perbincangan pasca vonis terhadap Meilana warga Tanjung Balai. Meiliana dilaporkan karena protes volume suara adzan yang berkumandang di lingkungannya. Ia divonis dengan pasal penistaan agama.

Pengeras suara musala atau masjid sebenarnya sudah diatur sejak 1978. Hal ini diatur dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di masjid, langgar, dan musala. Salah satunya adalah perlu dipenuhinya syarat di mana orang yang mendengarkan dalam keadaan siap untuk mendengarnya, bukan dalam keadaan tidur, istirahat, sedang beribadah atau dalam sedang upacara. Sebab, dalam keadaan demikian kecuali azan, tidak akan menimbulkan kecintaan orang, melainkan sebaliknya.

Menanggapi hal tersebut, pengurus takmir masjid Pathok Negoro Mlangi, Sleman, Abdul Jalil mengungkapkan bahwa selama ini, di lingkungannya tidak pernah terjadi masalah karena penggunaan pengeras suara untuk azan, pembacaan Alquran maupun kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.

“Warga di sini justru protesnya karena pengeras suaranya kurang tinggi volumenya,” kata Jalil saat ditemui kabarkota.com, di kediamannya, Senin (3/9/2018).

Mlangi merupakan wilayah di kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DIY yang menjadi pusat pendidikan agama Islam, khususnya persantren, sehingga masyarakat di sini sepenuhnya sadar tentang pentingnya penggunaan pengeras suara di masjid dan mushalla sebagai pendukung syiar agama Islam. ID003

Selengkapnya: Takmir Masjid di Yogyakarta Angkat Bicara Tentang Pembatasan Pengeras Suara di Masjid