Seru! Mama-mama NTT Memainkan Peran Pelayanan Publik yang Lebih Baik

Seru! Mama-mama NTT Memainkan Peran Pelayanan Publik yang Lebih Baik
Foto: Dok. WVI
Peserta simulasi suara dan aksi warga negara sebagai program akuntabilitas sosial yang inklusif, Rabu (13/03)

INDEPENDEN, Jakarta - Wahana Visi Indonesia (WVI) menggelar “Simulasi Suara dan Aksi Warga Negara sebagai Program Akuntabilitas Sosial yang Inklusif”. Dalam workshop ini para peserta berbagi peran untuk menjadi penyedia layanan dan penerima layanan. Ada yang memerankan kepala desa, bidan desa, perawat, BPD. Workshop ini diselenggarakan di Hotel Ibis Tamarin, Menteng, Jakarta, Rabu (13/03). 

Sementara peserta lainnya memerankan sebagai orangtua balita atau ibu hamil dan lansia. Simulasi dibantu Mama Diana sebagai Fasilitator dan Papa Morde sebagai Co-Fasilitator.  Sehari-hari Mama Diana bekerja sebagai fasilitator di NTT untuk Suara dan Aksi Warga Negara.

Workshop ini merupakan kelanjutan dari “Festival Pembelajaran Program Akuntabilitas Sosial untuk Peningkatan Layanan Publik” yang sudah dilaksanakan pada 6 September 2018 lalu. Lokakarya ini bentuk kerjasama antara WVI dan World Bank melalui project Global Partnership for Social Accountability.

Simulasi dimulai dengan dialog antara penyedia layanan dan penerima layanan membahas pertemuan awal. Pertemuan awal berfungsi untuk menyusun isu-isu apa yang perlu dibahas dalam pertemuan selanjutnya.

Isu-isu ini biasanya meliputi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang terdiri dari 8 pokok, yaitu, waktu, tempat, kader posyandu, penggerak PKK, kehadiran tenaga kesehatan, peralatan, kegiatan utama dan kegiatan tambahan.

Simulasi selanjutnya yaitu pemantauan standar yang mana semua peserta menjadi penyedia layanan yang terdiri dari kepala desa, bidan, perawat, BPD. Pada tahap ini, semuanya berhak memberikan penilaian atas layanan yang selama ini disediakan.

Tahap berikutnya yaitu mengisi kartu penilaian. Adapun yang berhak memberikan nilai hanya penerima layanan saja yaitu masyarakat. Semua peserta berperan menjadi penerima layanan. Nilai yang diberikan berupa ikon emosi mulai dari senyum hingga cemberut. Peserta kemudian menyepakati masing-masing nilai dari ikon yang dicentang.

Tahap terakhir yaitu pertemuan tatap muka, di mana penyedia layanan maupun penerima  layanan turut hadir.

Peserta workshop dibagi menjadi dua peran. Dalam pertemuan tatap muka ini, dibahaslah rencana aksi. Rencana aksi ini berisi perbaikan dan peningkatan kualitas apa yang perlu dilakukan.

Simulasi berjalan seperti yang sudah dilakukan WVI untuk desa-desa di NTT. Mengingat kesuksesan program ini, stakeholder berharap agar Suara dan Aksi Warga Negara bisa dilakukan di berbagai tempat. Demikianlah tujuan daripada workshop ini diadakan.

Dalam workshop ini, peserta juga dikenalkan dengan Citizen Voice and Action (CVA) dan juga diputarkan video testimoni kegiatan CVA. Selama ini CVA telah dilaksanakan di 60 desa  di Kabupaten Kupang, TTU dan Sikka, NTT.

ID003

Budaya Lainnya