Tes Antigen Diakui Efektif Tapi Jarang Digunakan

Tes Antigen Diakui Efektif Tapi Jarang Digunakan
Foto: sumber: bahan tayang M. Yusuf ; Unpad

Independen --- Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia diluncurkan bertepatan dengan Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober lalu. Kegiatan ini dipelopori oleh organisasi GITA (Gerakan Indonesia Kita). Gerakan ini terinspirasi WHO yang membagikan gratis 120 juta alat tes antigen kepada 133 negara.

Indonesia saat ini masih belum bisa memenuhi standar WHO yaitu 1 tes banding 1.000 penduduk setiap minggu, untuk menganalisa tingkat persebaran Covid-19. Saat ini tes mingguan Indonesia baru terpenuhi 70% dari standar minimal WHO 1 : 1.000. Akibatnya data-data Covid-19 di Indonesia sulit dianalisa karena belum terpenuhi standar minimal. Memang ada beberapa provinsi yang sudah memenuhi standar 1: 1.000 yaitu DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua.

“Ini masih jauh dari angka standar minimal WHO, “kata Natalia Soebagjo, salah satu inisiator Gerakan Solidaritas ini.

Kendala yang sering muncul adalah biaya dan jarak. WHO tidak merekomendasikan penggunaan rapid test antibodi, dan menyarankan penggunaan tes usap atau PCR. Biaya tes usap 900 ribu ke atas dan harus diperiksa di laboratorium. Padahal tidak semua kota kabupaten memiliki laboratorium PCR. Maka di beberapa kabupaten, jika dilaksanakan tes usap maka kemudian spesimennya harus dibawa ratusan kilometer untuk sampai di kota yang ada laboratorium. Bahkan antar pulau. Selain biaya, juga waktu yang lama untuk menunggu hasil.

Tes antigen ini berbeda dengan tes antibodi atau biasa disebut rapid test yang sudah banyak dipakai di Indonesia. Jika tes antibodi yang diambil ada darah seseorang dan mendeteksi tingkat antibodi seseorang yang naik jika ada virus. Maka tes antigen ini sama seperti tes usap/swab test yaitu mengambil lendir dari kerongkongan atau hidung seseorang. Bedanya dengan tes usap yang harus diperiksa di laboratorium,sementara  tes antigen bisa ditunggu kurang lebih 30 menit sudah keluar hasilnya. Maka biasanya tes antigen ini juga disebut rapid test antigen.

“Cara pemeriksaan tes antigen ini sama dengan PCR, tes swab  yang diambil dari nosafaring, kemudian dicampur cairan dan dalam 20 menit sudah terlihat hasilnya. Jika sampel positif dia akan menujukkan dua garis, jika negatif  hanya ada satu garis," kata Sekretaris Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bio-informatika Universitas Padjadjaran, Muhammad Yusuf

Kelebihan tes antigen dibandingkan tes antibodi adalah tingkat keakuratannya. Tes antibodi karena mengukur imunitas maka baru bisa mendeteksi gejala Covid-19 jika pasien sudah terpapar lebih dari 7 hari. Dan tingkat keakuratannya pun di bawah 50%. Sedangkan tes antigen mencapai 90% sedikit di bawah tes usap. Kelebihan tes antigen dibandingkan tes usap adalah lebih cepat dan harganya lebih murah. Tes antigen ini jika periksa di klinik kurang lebih 300 ribu rupiah. Bandingkan dengan tes usap yang saat ini berkisar 900 ribu sampai lebih dari 1 juta rupiah.

Epidemiolog UI Pandu Riono mendukung penggunaan tes antigen ini untuk mengendalikan persebaran virus Covid-19.

“Dalam pengertian mengendalikan adalah jumlah kasus yang menular setiap hari itu bisa kita tekan dengan baik. Hanya saja kita masih banyak kendala, mungkin kapasitas untuk mengendalikan belum optimal, tapi dalam perjalanan waktu banyak hal-hal inovatif yang sudah kita lakukan” ungkap Pandu Riono.

Tes antigen ini sebenarnya sudah ada di Indonesia di bulan Mei. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pernah mempromosikan antigen buatan Universitas Padjajaran.  Namun gaungnya kurang terdengar lagi di Indonesia. Pemerintah masih membiarkan penggunaan rapid test antibodi digunakan untuk pelacakan maupun sebagai tes Covid-19 ketika hendak perjalanan menggunakan kereta, pesawat terbang.

Sementara itu di negara tetangga Malaysia dan Korea Selatan kebijakannya adalah menggunakan tes antigen ini. Karena itulah Korea Selatan dapat melakukan tes massal pada warganya dan akhirnya Covid-19 terkendali. Begitu juga dengan Malaysia berhasil menekan lajunya pasien Covid-19. Bahkan Korea Selatan dikenal sebagai satu-satunya produsen alat tes antigen yang mendapat rekomendasi WHO.

Tes antigen ini bergaung kembali di Indonesia, ketika WHO merilis pernyataan bahwa tes antigen ini cukup efektif untuk menggantikan tes usap (PCR) pada bulan September 2020. Terlebih lagi kemudian WHO membagikan 120 juta alat tes antigen ke negara-negara dan Satgas Penanganan Covid-19 Indonesia mengajukan permohonan bantuan ke perwakilan WHO di Jakarta.

 

 

Data Lainnya