Siswa Difabel Kesulitan Belajar dari Rumah

Siswa Difabel  Kesulitan Belajar dari Rumah
Foto: sumber : Harian Jogja/Bhekti Suryani
Irvana Nesti, 31, duduk di kursi roda sambil memangku anaknya Muhammad Falhan Wijanarko, 6, di kediaman mereka di Rusunawa Projotamansari III, Banguntapan, Bantul, akhir Agustus lalu

Independen --- Sistem belajar di rumah membuat potensi kesenjangan pendidikan siswa difabel makin melebar. Karena banyak kasus, belajar dari rumah sulit diterapkan bagi siswa-siswi difabel. Apalagi jika orang tua siswa juga penyandang difabel. 

Mengajar anak tentang pelajaran sekolah tentu bukan keahlian para orang tua. Tetapi dengan sistem belajar dari rumah, orang tua terpaksa mendadak menjadi guru. Kesulitan tinggi dialami orang tua yang anaknya difabel. Karena selain memberikan pelajaran, juga mesti mengerti bagaimana mengajar anak difabel. 

Di provinsi Yogyakarta, tercatat ada 5.000 siswa difabel. Sebanyak 2.400 anak masuk dalam sekolah inklusi atau sekolah campur. Sementara ada 1.000 anak difabel yang tidak sekolah. Sisanya belajar di sekolah khusus. Ketika pandemi Covid-19, pemerintah daerah menginisiasi guru datang ke rumah. Tetapi nampaknya program ini belum berjalan merata. Tidak semua orang tua yang anaknya difabel mendapatkan program guru berkunjung ke rumah.

Bagaimana detil masalah pendidikan anak difabel saat pandemi, simak liputan Bhekti Suryani di Potret Buram Pendidikan Siswa Difabel di Tengah Pandemi

 

Data Lainnya