Hipertensi dan Diabetes Rawan Dari Covid-19

Hipertensi dan Diabetes Rawan Dari Covid-19
Foto: sumber: http://www.p2ptm.kemkes.go.id
Batasan kadar gula, garam dan lemak untuk dikonsumsi per orang per hari

Independen -- Mereka yang positif Covid-19 di Indonesia, menurut data Satgas Covid-19 penyakit penyerta (kormobid) tertinggi adalah hipertensi. Urutan berikutnya adalah diabetes melitus. Hipertensi 50,4% dan diabetes sebanyak 35%. Total dari 2 penyakit ini sudah lebih dari 75% dari penyakit penyerta lain seperti jantung, paru dll.

Dari statistik mereka yang meninggal karena Covid-19 yang mempunyai penyakit penyerta urutan pertama dan kedua juga adalah hipertensi 10,7% dan diabetes 9,8% . Atau gabungan dari keduanya mencapai 20%. Namun data-data ini dengan catatan, hanya berdasarkan dari 2.391 orang yang datanya tersedia atau kurang dari 1% dari total penderita Covdi-19. Artinya, 99,6% yang menderita Covid-19 baik yang sembuh, sedang dirawat atau meninggal dunia tidak ada data penyakit penyertanya. Ini mencerminkan buruknya data saat penanganan penderita Covid-19 di Indonesia.

Namun mengutip pernyataan Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Endang Sri Wahyuningsih, MKM (sumber: Kompas.com) disebutkan bahwa lima penyebab kematian terbanyak di Indonesia di antaranya adalah penyakit hipertensi dan diabetes mellitus. Rinciannya adalah stroke (21,1%), jantung koroner (12,9%), diabetes mellitus (DM) dengan komplikasi (6,7%), tuberkulosis (5,7%), dan hipertensi dengan komplikasi (5,3%).

Dari sisi jumlah, penderita dua penyakit ini juga cukup tinggi. Perkiraan penderita hipetensi di Indonesia adalah 63 juta orang. Sementara penderita diabetes melitus tercatat 10,7 juta orang Indonesia mengidap penyakit ini (data tahun 2017).  Secara global, Indonesia menduduki negara no 6 dunia untuk jumlah penderita diabetes mellitus terbanyak.

Maka meskipun data yang dikumpulkan Satgas Covid-19 tentang penyakit penyerta penderita Covid-19 tidak lebih dari 1%, tetapi data Kementerian Kesehatan di atas menunjukkan bahwa masyarakat yang mempunyai penyakit hipertensi maupun diabetes perlu waspada di masa pandemi Covid-19 ini. Peluang terpapar Covid-19 maupun meninggal lebih besar.   

 

Regulasi untuk Pemicu Hipertensi dan Diabetes

Hipertensi dapat dibagi menjadi 2 kategori, primer dan sekunder. Sekitar 90% dari kasus hipertensi adalah primer. Hipertensi primer ini umumnya karena  faktor keturunan, kepribadian, stress mental atau obesitas. Meskipun tidak mudah melakukan identifikasi sebab utama dari penyakit ini. Sedangkan sekunder adalah hipertensi yang disebabkan penyakit lain, misal penyakit ginjal dan gangguan endokrin. Tekanan darah pasien akan kembali normal jika penyakit tersebut sudah disembuhkan.

Sedangkan untuk penyakit diabetes mellitus juga mempunyai 2 kategori yaitu tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 penyebabnya belum diketahui pasti, tetapi diduga disebabkan faktor keturunan atau genetik. Porsi diabetes tipe 1 tidak terlalu besar, kurang lebih 5-10%. Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling banyak terjadi sekitar 90-95%. Diabetes jenis ini disebabkan oleh sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan dengan baik (resistensi sel tubuh terhadap insulin).

Dari komposisi di atas, mayoritas penderita hipertensi maupun diabetes banyak dipicu karena pola hidup yang tidak sehat. Pola hidup tidak sehat contohnya seperti  kurang berolahraga, merokok, kurang konsumsi sayur dan buah, serta berlebihan konsumsi gula, garam dan lemak. Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa 95,5% masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah. Kemudian 33,5% masyarakat kurang aktivitas fisik, 29,3% masyarakat usia produktif merokok setiap hari, 31% mengalami obesitas sentral serta 21,8% terjadi obesitas pada dewasa.

Pola hidup yang tidak sehat ini bisa diminimalisir dengan regulasi pemerintah yang lebih ketat. Misalnya mempersempit ruang aktivitas merokok, menaikkan cukai rokok, mengatur kadar gula maupun garam di produk makanan minuman kemasan, memberi insentif pada budidaya sayuran maupun buah-buahan dll.  Ini bagian tindakan preventif serta mendorong pola hidup sehat. 

Sayangnya pemerintah belum serius melakukan tindakan prevenstif ini. Seperti usulan kenaikan cukai rokok sudah bertahun-tahun, baru direalisasikan pada tahun 2021 sebesar 12,5%. Ini ada perkecuaiannya, kenaikan cukai rokok tidak berlaku untuk sigaret kretek tangan (SKT). 

Begitu pula dengan pengaturan kadar gula, garam maupun lemak di makanan atau minuman kemasan. Peraturan Menteri Kesehatan no 30 tahun 2013 tentang pencantuman kadar gula, garam dan lemak mewajibkan semua produk pangan olahan (makanan/minuman kemasan)  mencantumkan pesan kesehatan sebagai berikut: 

"Konsumsi gula lebih dari 50 gram, Natrium lebih dari 2.000 miligram atau Lemak total lebih dari 67 gram per orang per hari berisiko hipertensi, stroke, diabetes dan serangan jantung"

Tujuannya jelas melakukan edukasi pada masyarakat agar tahu dan tidak konsumsi gula, garam dan lemak dari takaran normal. Ambil contoh minuman teh kemasan, kadar gula rata-rata 16 - 21 gram per kemasan. Jika pesan kesehatan disosialisasikan di kemasan, mungkin konsumen tahu dan bisa membatasi minum teh kemasan hanya 1 atau 2 teh per hari. . 

Tapi ketentuan ini belum dilaksanakan oleh perusahaan makanan dan minuman kemasan dan tidak ditegakkan oleh pemerintah sebagai regulator.  Maka tidak heran jika angka penderita hipertensi maupun diabetes akan terus naik di masa-masa mendatang. 

Penulis: Bayu Wardhana - Riset: Ajeng dan Chandra

Data Lainnya