Jalan Pedang Penulis Buku (2)

Jalan Pedang Penulis Buku (2)
Foto: foto: Adi Marsiela/Independen.id
Deni Rahman, 41 tahun menyelesaikan administrasi pemesanan buku yang masuk lewat aplikasi media sosialnya di rumahnya, Rabu, 23 Desember 2020. Deni melakoni bisnis perbukuan sejak awal 2000 sebagai pelapak, distributor, hingga sekarang menjual buku lawas lewat Lawang Buku dan menerbitkan buku lewat penerbitan Propublic.

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mencatat setidaknya ada 30 ribu judul buku diterbitkan setiap tahunnya. Namun, hanya sedikit penulis yang bisa memenuhi kebutuhannya dari pekerjaan menulis semata.

Independen ---- Kepala Suku Mojok.co cum penulis, Puthut EA mengaku royalti atas karya-karyanya tidak bisa menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Paling hanya sepertiga dari pengeluarannya. Sisanya, dia tutupi dengan kerja sebagai peneliti dan usaha penerbitannya. “Kerja di Mojok kan dapat gaji,” ujar Puthut pertengahan Januari 2021 lalu.

Dalam industri penerbitan buku, penulis lazimnya mendapat pemasukan dari royalti penjualan bukunya. Jika harga jual buku Rp100 ribu, maka setiap satu buku, penulis dapat pemasukan Rp10 ribu atau 10% dari harga jualnya. “Kecil sekali yang benar-benar bisa hidup dari royalti buku, persentasenya mungkin di bawah lima persen” kata Puthut tanpa memerinci berapa total penulis yang dia jadikan ukuran itu.

Pengarang ‘Buku Latihan untuk Calon Penulis’ ini juga tidak mencantumkan profesi sebagai penulis tatkala mengakses kredit untuk membeli rumah dan mobil. “Nggak bisa pakai identitas penulis. Saya meminjam ke bank sebagai pebisnis kecil-kecilan,” ujar Puthut.

Soal royalti menulis, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie membagikan pengalaman via cuitan di akun @JimlyAs pada 24 Oktober 2020 lalu. Dia memajang raihan royalti Rp5.950.800 untuk 10 buku dari Penerbit Bumi Aksara sepanjang 2020. Jimly mencatat setidaknya sudah ada 70 buku yang dibuatnya, mayoritas berkaitan dengan ilmu hukum.

“Kasihan para penulis serius dan kasihan budaya baca kita sebagai modal untuk kemajuan peradaban bangsa. Terima kasih penerbit,” begitu cuit Jimly.

 

https://twitter.com/JimlyAs/status/1319898464503803904

 

Cerita yang sama disampaikan Kenti Prahmanti, 50 tahun. Penulis buku pelajaran kimia farmasi mengungkapkan, royalti dari penerbit penerbit buku kedokteran EGC sejak 2013 tidak pernah putus. Namun pada 2020 lalu, dia belum dapat laporannya. “Penerbitnya bilang penjualan turun,” ujar Kenti yang sehari-hari jadi apoteker pendamping pada salah satu apotik di Bandung.

Dia sempat mendapat bayaran dua kali dalam setahun, tapi belakangan jadi sekali setahun. Nilainya yang paling besar pernah belasan juta dalam setahun. Semua dibayarkan saat buku sudah dicetak dan laku terjual. Baginya, pendapatan dari menulis buku adalah passive income. “Kami juga jadi harus belajar terus, update lagi informasi,” kata salah satu penulis buku Perundang-Undangan Kesehatan Kelas X ini.

Penulis lainnya, Zaky Yamani juga tak lagi menerima royalti setelah pencetakan 1.000 eksemplar pertama. Penulis novel “Bandar” ini mendapatkan royalti dari Gramedia Pustaka Utama (GPU) untuk 1.000 eksemplar pertama saat bukunya terbit pada 2014 silam. Nilainya 10% dari harga jual. “Dapat uang dari royalti yang didahulukan itu tidak sampai Rp3 juta dan sampai sekarang belum dapat lagi,” ungkap Zaky yang menghabiskan waktu 10 tahun untuk menulis novel tersebut.

GPU kembali menerbitkan novel Zaky pada 2016. Judulnya, Pusaran Amuk. Cetakan pertamanya, 3.000 eksemplar. “Sama saja, pemasukannya dari royalti yang didahulukan juga,” kata Zaky yang memerlukan waktu tujuh tahun buat menyelesaikan novel keduanya.

Pria yang bercita-cita mau jadi penulis sejak masih kuliah ini akhirnya berkesimpulan menjadi penulis memang tidak semanis bayangannya. “Ekonominya, pendapatannya tidak seperti yang dibayangkan,” ujar Zaky yang sempat membuat penerbitan SvaTantra pada 2013 silam.

Lantas apakah menaikkan besaran royalti bagi penulis bisa menyelesaikan masalah ini?

Puthut mengungkapkan, menambah royalti penulis berarti menambah beban bagi penerbit. Ada banyak faktor dalam model bisnis industri ini. Puthut “Kalau menaikkan royalti, penerbitnya juga pasti berisiko. Menerbitkan buku itu risikonya besar. Modal besar kalau tidak laku, langsung tekor besar,” imbuhnya.

Dia juga sempat memberikan ilustrasi sederhana di akun media sosialnya. Dalam tata niaga perbukuan, penjualan pada toko buku fisik, penerbit hanya dapat 45% sementara distributornya 55%. Untuk penjualan daring, penerbit bisa dapat 60%, sementara distributor 40%. “Kelihatannya penerbit dapat besar ya?” tutur Puthut.

Mari kita bedah. Pemasukan 60% untuk penerbit itu terbagi atas royalti 10% untuk penulis dan sisanya untuk menutupi biaya produksi. Biaya cetak yang paling besar, editing, proof reading, tata letak mencapai 25%. Sisanya, penerbit mesti membayar gaji karyawan seperti tenaga pemasaran, penerjemah, pajak, sewa kantor, dan pengeluaran rutin lainnya.

Menurut Puthut, jika buku itu laku maka penerbit dapat untung bersih 10% saja sudah bagus mengingat proses kerjanya yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Biar bisa untung besar, mau tidak mau, penjualan buku haruslah tinggi. “Kalau gagal, ya rugi,” terang Puthut seperti dalam akun Facebook-nya pada 10 Desember 2020 lalu.

Dia membagi pengalamannya bersama Buku Mojok yang pernah dalam setahun tak ada laba karena keuntungannya dipakai mencetak buku eksklusif berbiaya tinggi. Ternyata tidak laku. Padahal, distributor, toko buku, dan reseller optimis buku itu bakal laku. Saat pasar tidak merespon, kerugian terbesar ditanggung penerbit.

Berkaca dari kondisi itu, penerbit sangat rentan gulung tikar, terutama penerbit kelas kecil. Sebagian besar anggota Ikapi tergolong kelompok usaha kecil dan menengah.

Ketua Umum Ikapi, Arys Hilman mendefinisikan golongan usaha kecil ini jika jumlah karyawan tetap kurang dari 10 orang. Ketua Komite Buku Nasional 2016-2019, Laura Bangun Prinsloo mengategorikannya tanpa melihat omzet dan jumlah karyawan. “Kalau dia menerbitkan kurang dari 15 judul per tahun, terbilang penerbit kecil,” kata Laura.

Balik ke penulis. Puthut memandang, profesi yang satu ini sama dengan profesi seni lain. “Yang buku-bukunya laris, ya kaya raya. Tapi sebagian besar hidupnya di bawah rata-rata,” kata Puthut.

Mereka harus berjibaku untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Ada yang menyambi sebagai editor, jualan luring, menerima pekerjaan-pekerjaan lain yang masih berhubungan dengan dunia literasi, dan pekerjaan lainnya. Tinggal bagaimana penulis itu memilih jalan hidupnya ke depan.

Gambaran itu memperlihatkan tata niaga perbukuan yang kurang sehat. Padahal, ungkap Puthut, penulis yang menjadi inti. “Karya mereka yang dijual tapi sekaligus paling rentan. Pihak kedua yang juga rentan tapi sering tertuduh sebagai pengambil manfaat terbesar, penerbit,” tambah Puthut.

Penulis: Adi Marsiela/D02

 

Lihat sebelumnya: Industri Buku, Kian Lapuk di Tengah Pagebluk (1)

Data Lainnya