Minimnya Dukungan Industri Buku (5)

Minimnya Dukungan Industri Buku (5)
Foto: foto: Bayu/Independen.id
Suasana di toko buku Argosy, New York

Independen --- Tantangan menjadi penulis di Indonesia cukup banyak. Selain dukungan negara, budaya literasi menjadi salah satu pangkal masalah terbesar yang memengaruhi masa depan seorang penulis.

Direktur Borobudur Agency, Thomas Nung Atasana hanya berhasil menjual lima judul buku kepada penerbit asing pada 2020 lalu. Padahal tahun-tahun sebelumnya, ada 15-20 judul buku yang terjual hak ciptanya. Sejak 2013, Thomas jadi promotor sekaligus agen penjualan hak cipta buku, yang ditunjuk Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), pada penerbit luar negeri. “Kami umumnya dapat deal pembelian hak cipta itu dari penerbit menengah ke bawah dan butuh subsidi penerjemahan,” ujar Thomas ketika diwawancarai awal Februari 2021.

Soal penjualan hak cipta buku itu, Thomas mencatat sejak 2012-2019 ada 1.598 judul buku yang terjual. Jumlah penjualan hak cipta itu merupakan kompilasi data dari Borobudur Agency, para manajer di penerbitan asing, serta agen penerbitan atau literary agent asing yang diminta bantuan jasanya oleh penulis Indonesia.

Kehadiran Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, pasar raya buku yang sudah berlangsung selama lima abad, membuahkan pembelian hak cipta 172 judul buku. Sementara, selama 2016-2019, hak cipta 1.012 judul buku lainnya terjual berbarengan dengan berakhirnya masa tugas Komite Buku Nasional (KBN).

Penjualan hak cipta ini merupakan salah satu bentuk penambahan nilai yang berharga, tidak hanya bagi penulis dan penerbit, namun Indonesia secara keseluruhan. Buku bisa jadi jendela bagi dunia internasional mengenali potensi dan keragaman Indonesia.

Salah satu tantangannya, ungkap Thomas, minimnya penerjemahan buku-buku karya penulis Indonesia ke dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Sebelumnya, KBN mendanai atau memberi subsidi pada penerbit asing yang mau membeli hak cipta buku karya penulis Indonesia. “Itu yang membuat cukup banyak karya Indonesia diterjemahkan karena pembelinya itu penerbit kecil atau indie,” imbuh Thomas soal hibah penerjemahan yang berhenti seiring berakhirnya masa kerja KBN.

Pemimpin redaksi sekaligus pemilik penerbit Baca, Anton Kurnia membagi pengalamannya soal pembelian hak cipta buku asal Korea Selatan yang lantas dicetak dan diedarkan olehnya di Indonesia. Anton bekerjasama dengan Literature Translation Institute of Korea (LIT Korea) untuk menerbitkan lima buku fiksi, salah satunya adalah The Vegetarian, karya Han Kang yang didapuk The Man Booker Prize 2016.

LIT Korea, ungkap Anton, lembaga semacam KBN yang didanai pemerintah Korea Selatan mempromosikan buku-buku karya penulis mereka ke dunia dalam bentuk kerjasama penerjemahan dan penerbitan. Setelah mendapatkan hak ciptanya, Anton mengajukan hibah penerjemahan dan penerbitan. “Cetakan pertama dibantu semua, sifatnya reimburse. Kami keluar dana (cetak) baru kemudian mengajukan klaim,” tutur Anton.

 

Karya-karya seperti apa yang biasanya menarik perhatian penerbit asing?

Kata Thomas, buku itu harus sudah diterjemahkan dan ada secara fisik. Pengalaman berpartisipasi di berbagai pameran buku internasional jadi pembelajarannya. “Meski ada tablet atau booklet, tidak bisa. Harus menunjukkan buku aslinya,” imbuh pria yang terjun ke dunia penerbitan pada 1981 di Gramedia Pustaka Utama ini.

Pertanyaan lanjutannya, tutur Thomas, berkaitan dengan penjualan karya itu di Indonesia. “Lakunya seperti apa? Mereka pokoknya kalau sudah best seller, 5.000 (eksemplar) ke atas, biasa dianggap OK. Tapi ya ini tergantung penerbitnya juga, saat sudah tertarik, tidak menanyakan itu lagi,” paparnya seraya menambahkan penerjemahan yang dincar calon pembeli itu sudah dicek penutur asli bahasa Inggris.

Zaky Yamani, penulis novel Pusaran Amuk sangat berharap ada bukunya yang bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris. Dia membayangkan bukunya bisa beredar luas hingga ke luar negeri seperti novel Cantik itu Luka atau Man Tiger, karya Eka Kurniawan. “Mungkin belum dapat momennya. Mahal biaya menerjemahkan,” kata Zaky yang sempat mendapat program residensi penulis ke Portugal dari KBN pada 2017 lalu.

Alih-alih ganti profesi, Zaky mencoba konsisten menulis. Entah itu cerpen, puisi, atau novel. Kecintaannya akan dunia menulis tidak bisa ditinggalkannya. Soal penjualan biar waktu yang menjawabnya.

Daya tarik karya penulis Indonesia ini juga bisa ditemukan pada karya-karya yang ditulis dalam bahasa ibu atau bahasa daerah. Yayasan Kebudayaan Rancagé setiap tahun selalu memberikan penghargaan pada karya sastra berbahasa ibu. Tidak pernah putus selama 33 tahun sejak diluncurkan pertama kali pada 1989 oleh Ajip Rosidi, jurnalis, penulis, sekaligus budayawan yang meninggal 29 Juli 2020 lalu.

Salah satu juri Anugerah Sastera Rancagé, Hawe Setiawan melihat karya-karya sastra berbahasa ibu tidak kalah menariknya dengan karya berbahasa Indonesia. Salah satunya novel Sasalad: Sempalan Epidemi di Tatar Garut karya Dadan Sutisna.

“Dadan ini penulis bilingual. Novelnya yang berbahasa Indonesia berturut-turut jadi perhatian juri pada sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 dan 2019. Ini kasus menarik untuk (potensi) Indonesia,” kata Hawe.

Jika pemerintah serius hendak mengembangkan kesusasteraan dan budaya Indonesia, ada baiknya karya-karya berbahasa ibu turut dipikirkan. Karena bahasa daerah itu ikut mendorong kemajuan bahasa Indonesia. “Sementara bahasa Indonesia menjembatani hubungan antar budaya yang ditandai oleh bahasa ibu. Keduanya harus beriringan,” tutur Hawe.

Semangat keberagaman ini juga yang berkali-kali digaungkan Indonesia dalam pameran buku internasional. Setidaknya tema 17.000 Islands of Imagination sudah diperkenalkan sejak keikutsertaan Indonesia pada Frankfurt Book Fair 2015 hingga London Book Fair 2019 lalu.

Gambaran di atas tidak bisa dilepaskan dari indeks aktivasi literasi membaca (Alibaca) di Indonesia. Pengalaman Thomas menggambarkan sebuah buku jadi menarik bagi dunia luar jika penerimaan atau serapan pasarnya di dalam negeri cukup baik. Salah satu faktor pendorongnya adalah aktivitas literasi membaca.

Penyusunan indeks Alibaca oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019 memperlihatkan hal itu. Ada empat dimensi yang dinilai, kecakapan (75,29), akses (23,09), alternatif (40,49), dan budaya (28,5).

 

Menonjolnya indeks dimensi kecakapan memperlihatkan adanya pemerataan pendidikan dan pemberantasan buta aksara yang cukup baik. Namun dimensi akses yang rendah itu memperlihatkan minimnya sarana dan prasarana perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan komunitas, serta rendahnya rumah tangga yang membeli surat kabar atau majalah.

Senada dengan itu, indeks dimensi budaya menggambarkan kebiasaan masyarakat dalam mengakses bahan-bahan literasi seperti buku cetak, koran, majalah, berita di internet, serta kunjungan ke perpustakaan masih rendah.

Ketua Umum Ikapi 2020-2025, Arys Hilman Nugraha menilai masalah kultur literasi ini lebih besar dibandingkan disrupsi digital bagi industri perbukuan Indonesia ke depan. Sayangnya, kata dia, bangsa yang belum cukup terdidik dalam dunia baca ini lebih menyukai budaya tontonan yang kini melimpah dalam format video. “Ini pula yang pangkal menjadi persoalan ketika pandemi datang pada 2020,” tutur Arys.

Dia membandingkan dengan industri perbukuan di negara maju yang mengalami berkah karena penjualan bukunya meningkat saat pandemi. “Masyarakat membeli lebih banyak buku saat harus berdiam atau bekerja di rumah, di Indonesia pasar perbukuan mengalami kemerosotan,” urai Arys yang sehari-hari menjadi Direktur Utama Penerbit Republika ini.

Penulis: Adi Marsiela/D02

Lihat sebelumnya: Menjajal Hak Cipta Buku (4)

Data Lainnya