Indonesia dalam Lingkaran Bencana Gempa dan Tsunami

Indonesia dalam Lingkaran Bencana Gempa dan Tsunami

foto: Ilustrasi Ring of Fire

Peta Ring of Fire Indonesiaadmin/content/46/35/update

INDEPENDEN, Jakarta – Jumat, 28 September 2018 pukul 18:02 WITA gempa 7,1M yang disusul dengan tsunami mendera Sulawesi Tengah. Indonesia kembali berkabung, setelah bencana serupa terjadi di Lombok-Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Juli - Agustus 2018 lalu. Dua bencana ini tak sedikit menelan korban jiwa dan kerugian material.

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa di Sulawesi Tengah membuat 2.081 orang meninggal dunia dan korban hilang mencapai 1.309 jiwa (per 25 Oktober). Total kerusakan dan kerugian mencapai Rp15,29 triliun. Gempa yang berdampak langsung di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Sigi juga menyebabkan 66.926 unit rumah rusak serta 214 ribu orang mengungsi.

Sementara itu, di NTB gempa telah menelan korban 564 jiwa dan merusak 204 ribu unit bangunan. Kerugian gempa di Lombok-Sumbawa ini ditaksir mencapai Rp12,2 triliun.

Gempa disusul tsunami di Sulawesi Tengah dan gempa NTB tercatat menjadi bencana besar selama 2018. Berdasarkan catatan BNPB, bencana alam di Indonesia mengalami tren kenaikan dalam 10 tahun terakhir. Bencana alam terbagi menjadi bencana geologi yang meliputi gempabumi, tsunami, letusan gunung api, dan tanah longsor. Sementara bencana hidrometeorologi meliputi banjir, gelombang ekstrem, kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Indonesia merupakan negeri yang cukup ringkih dengan bencana alam. Pasalnya, wilayah pulau-pulau di negeri garuda ini merupakan bagian dari hasil proses pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik.

Zona pertemuan antara lempeng Indo Australia dengan lempeng Eurasia terdapat di lepas pantai barat Sumatera, selatan Jawa dan Nusa Tenggara. Zona pertemuan dengan lempeng Pasifik di bagian utara pulau Papua dan Halmahera.

Efek dari aktivitas tektonik ini adalah pembentukan patahan atau sesar. Sejumlah patahan yang cukup besar adalah patahan semangko di Sumatera, patahan Sorong di Papua dan Maluku, dan patahan Palukoro di Sulawesi. Gempabumi dan tsunami yang terjadi banyak dipengaruhi oleh aktivitas patahan tektonik ini.

Keterangan Gambar:

  1. Peta tektonik kepulauan Indonesia dan sekitarnya (Bock dkk, 2003)
  2. Peta sebaran jalur gunungapi Asia-Pasifik (ring of fire)

2016 lalu, BNPB merilis buku Risiko Bencana Indonesia (RBI). Dalam penelitian, BNPB mencatat jumlah masyarakat yang memiliki risiko terdampak gempa karena aktivitas patahan ini mencapai 86,2 juta jiwa dengan potensi risiko kerugian ekonomi Rp649,18 Triliun. Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah paling besar berisiko terhadap bencana gempa.

Sementara itu, Indonesia juga tak luput dari risiko bencana tsunami. Berdasarkan data dari RBI, sebanyak 3,3 juta jiwa di Indonesia berisiko terdampak bencana tsunami dengan potensi risiko kerugian ekonomi Rp131,6  Triliun. Provinsi Sulawesi Selatan menjadi wilayah dengan jumlah penduduk paling besar yang berisiko terdampak tsunami dengan potensi kerugian ekonomi sebesar Rp5,2 Triliun.

Pemetaan data dan peta bencana gempa dan tsunami ini merupakan langkah awal untuk mengurangi risiko timbulnya korban jiwa dan kerugian ekonomi. Peta diperlukan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah dengan risiko gempa dan tsunami yang tinggi. Sedangkan data untuk mengidentifikasi keberadaan masyarakat, termasuk dengan infrastruktur di lingkungannya. Dengan diketahui wilayah-wilayah dengan risiko gempa dan tsunami yang tinggi antisipasi untuk mengurangi dampak bencana yang mungkin timbul di lokasi tersebut bisa diantisipasi sedini mungkin.

Irham