Mendorong Pencegahan Bunuh Diri Remaja

 Mendorong Pencegahan Bunuh Diri Remaja

Independen, Jakarta – Malam itu, AB (26 tahun) duduk terkulai di pojok sebuah café di Bilangan Depok, Jawa Barat, Minggu (25/11). Sesekali ia menaikkan kembali pundak yang telah melorot pada sandaran sofa. Komputer jinjing masih menyala, di kelilingi botol air mineral dan gelas-gelas kopi yang sudah kosong. 

“Ini baru saja selesai ketemu dan bantuin tugas kuliah teman,” katanya.

Teman yang baru saja ditemui AB belakangan ini intensif ingin melakukan bunuh diri. Salah satu persoalannya, seabrek tugas kuliah dengan tuntutan nilai yang tinggi. Sebab teman AB ini mendapat beasiswa unggulan. 

Berhenti kuliah tak mungkin, karena ia harus mengembalikan seluruh uang beasiswa yang pernah didapatkannya. Akhirnya, AB pun meluangkan waktu akhir pekannya sedari pagi hingga malam untuk membantu mengerjakan tugas kuliah temannya itu. “Karena dia borderline. Jadi sensitif banget. Kalau kita tolak itu langsung nge-drop banget,” kata AB.

Borderline Personality Disorder (BPD) merupakan persoalan kejiwaan yang ditandai dengan perasaan, suasana hati dan dan perilaku yang tidak menentu. Orang dengan BPD cenderung berusaha keras untuk melawan penolakan dari lingkungan atau orang sekitar.

AB sedang berusaha untuk mencegah temannya melakukan percobaan bunuh diri. Hampir tiap saat ia mendengarkan cerita-cerita untuk meringankan beban. “Habis pulang kerja. Bisa sampai jam 1 malam,” kata AB. 

Di sisi lain, belakangan ini AB juga sedang dalam kondisi ingin kembali melakukan bunuh diri (relapse). Lelaki asal Tangerang, Banten memang sedang banyak kerjaan, dan kurang istirahat. Hal ini yang membuatnya tertekan dan beberapa kali ingin melakukan percobaan bunuh diri. 

AB sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia bersungut tentang masa silamnya, “Jadi menurut orangtua saya itu kakak saya lebih pintar, sementara saya males-malesan. Jadi mereka mengharapkan saya seperti kakak saya. Jadi dari kecil sampai kuliah itu harus sekolah yang sama dengan kakak saya.”
Percobaan bunuh diri yang dilakukan AB tak berhenti sampai SMP. Hal itu berulang-ulang terjadi hingga kuliah. “SMP, SMA. Paling sering kuliah,” katanya.

Persoalan ini sudah AB sampaikan pada orangtuanya. Tapi orangtua justu menghakiminya sebagai anak yang kurang taat beribadah. “Ini kan bukan masalah agama. Tapi diri gue kayak gini. Mereka melihatnya wajarlah, ini kenakalan remaja,” ungkap AB.

Sekarang AB bekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor di daerah Serang, Banten. Ia sudah mencari tempat tinggal baru di dekat kantornya dan berusaha memisahkan diri dari keluarga. “Ya, namanya orangtua kolot ya. Tahun ini sudah beli rumah dekat kantor. Sekarang lagi tahap pembangunan,” katanya.

Untuk menjadi penyintas, AB melakukan kampanye pencegahan bunuh diri pada orang-orang yang berniat bunuh diri. Tiap kali ia berpikir untuk bunuh diri, selalu diingatkan aktivitas yang ia jalani mengkampanyekan efek buruk dari bunuh diri. “Kalau mereka kehilangan saya, pasti mereka down banget. Dan yang pasti akan kehilangan. Saya nggak mau ada teman saya lagi yang bunuh diri,” katanya.

Remaja dan Bunuh Diri

Remaja merupakan usia yang rentan terhadap percobaan bunuh diri. Hal ini seperti yang terjadi pada AB ketika pertama kali melakukan percobaan bunuh diri saat duduk di bangku SMP.

Berdasarkan survei dari Kementerian Kesehatan, sebanyak 5,14 persen siswa SMP dan SMA pernah memikirkan untuk bunuh diri dalam satu tahun terakhir. Berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan, jumlah populasi siswa SMP dan SMP pada 2015 mencapai 14.352.684 siswa. Artinya, dari survei tersebut hasilnya menunjukkan sebanyak 737.728 siswa di Indonesia pernah memikirkan untuk bunuh diri dalam satu tahun terakhir.

Survei tersebut juga menunjukkan siswa perempuan lebih besar memikirkan untuk bunuh diri (5,9 persen) dibandingkan dengan siswa laki-laki (4,33 persen). 

Dari survei yang dirilis 2015 silam ini juga sebanyak 2,39 persen siswa SMP dan SMA di Indonesia pernah melakukan percobaan bunuh diri dalam satu tahun terakhir. Survei ini dilakukan di 75 sekolah dari 68 kabupaten/kota dengan melibatkan 11.110 siswa laki-laki dan perempuan.

Angka rencana dan percobaan bunuh diri pada siswa ini hanyalah fenomena gunung es. Pendiri Into The Light, Benny Prawira Siauw menilai jumlah itu bisa berkembang lagi. Kata dia, remaja yang pernah berencana dan mencoba bunuh diri ketika dewasa akan semakin kuat hasratnya untuk melakukan bunuh diri. “Jadi kecendrungan riset bunuh diri pada remaja semakin tua usia remajanya, semakin tinggi,” katanya beberapa waktu lalu.

Faktor yang memengaruhinya adalah dukungan dari lingkungan sekitar. Ketika seseorang memiliki riwayat percobaan bunuh diri, maka dia dengan sendirinya akan mencari cara supaya keinginan itu tidak menguat. Untuk mencapai pada tahapan seperti ini, dukungan dari lingkungan sosial sangat berperan penting di dalamnya.

“Ini yang harus kita lakukan; dengan tidak menasehati mereka, dengan tidak menghakimi mereka, dengarkan saja kalau mereka cerita,” lanjut Benny.

Tanda-tanda yang biasanya ditunjukkan oleh seseorang ketika berkeinginan bunuh diri antara lain lelah menghadapi hidup atau ucapan tidak ingin dilahirkan. 

“Yang kayak gitu itu tanda, dan seharusnya kita merespon mereka langsung dan tanyain, kamu sudah berapa lama mikir kayak gitu? Itu nggak akan mensugesti mereka untuk bunuh diri lagi. Tapi memberi kesempatan mereka bicara lebih lanjut supaya lebih lega,” kata Benny.

Tantangan yang paling berat dihadapi adalah stigma. Stigma itu datang mulai dari orang curhat yang dianggap lemah, pergi ke psikolog dianggap gila, sampai mereka yang pernah melakukan percobaan bunuh diri dianggap tak kuat iman. 
“Ini yang harus kita hapus stigma ini,” lanjut Benny.

Benny juga mencatat, peran pemerintah sangat penting dalam kasus kecendrungan bunuh diri pada remaja. Sistem konseling di sekolah saat ini menurutnya belum mendukung solusi depresi pada siswa. Untuk itu, dia meminta pemerintah untuk meninjau kembali sistem konseling di sekolah. “Lalu, bagaimana kesiapan sekolah seperti apa, sistemnya seperti apa? Ini yang harus diperbaiki lagi,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti layanan hotline Kementerian Kesehatan terkait dengan layanan konsultasi/konseling masalah mental dan kejiwaan termasuk pencegahan bunuh diri. “Karena remaja dalam kondisi kalut ingin bunuh diri, nggak tahu harus ngomong ke siapa, nggak punya uang, terutama mereka ya harus langsung kontak dong, ada sesuatu yang bisa dikontak. Dan ini harus dilayani dengan baik, bukan malah dinasehati, nanti nggak bakal berpengaruh,” tambahnya.

Ketika Independen.id menghubungi layanan kesehatan Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567 terkait konsultasi percobaan bunuh diri, operator mengarahkan untuk menelpon kepolisian. “Kalau itu bisa langsung menghubungi pihak yang berwajib,” kata operator saat dihubungi, Senin (26/11).

Operator juga mengatakan terdapat layanan konsultasi mental dan kejiwaan dari Kementerian Kesehatan akan tetapi tidak tersedia 24 jam.

Sejauh ini Kementerian Kesehatan tidak memiliki program khusus terkait persoalan bunuh diri pada remaja. Isu ini sudah masuk dalam paket program yang dimiliki pemerintah untuk kalangan remaja. 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan, Fidianjah mengatakan saat ini pemerintah membuat paket program ketahanan remaja. Dalam paket program tersebut remaja-remaja diberikan edukasi untuk pandai mengambil keputusan, dan penyesuaian terhadap globalisasi. 

“Kami tidak melakukan ekslusivitas program khusus tapi paket-paket yang kami buat untuk ketahanan remaja dalam artian mencegah bunuh diri,” katanya.

Penulis : Irham Duilah