Petani Pemulia Benih Tanpa Tanda Jasa

Petani Pemulia Benih Tanpa Tanda Jasa

Independen, Indramayu – Darmin (58) menyodorkan buku tamu di antara kopi panas dan gorengan di atas meja depan rumahnya. Pada lembar pertama, tercatat tamu yang datang pertama kali tahun 2006. 

Lalu pada halaman-halaman berikutnya, sampai saat ini tamu yang pernah berdatangan ke rumahnya beragam. Mulai dari kalangan mahasiswa S1 dan S2, dosen, camat, perwakilan perusahaan, PNS, kelompok tani sampai jurnalis. Keperluannya rata-rata ingin mewawancarai lelaki yang akrab disapa Wa Darmin terkait dengan persilangan benih padi. 

“Kalau tamu-tamu itu sebenarnya sudah dari tahun 90an. Tapi buku tamu ini baru saya catat tahun 2006,” kata Wa Darmin saat ditemui di kediamannya di Desa Sekar Mulya, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, Selasa (11/12).

Wa Darmin cukup dikenal di dunia pertanian sebagai petani pemulia benih. Kakek 4 cucu ini sudah mendapat sederet penghargaan. November lalu, Ia baru saja mendapat penghargaan atas dedikasi dan pengabdiannya terhadap pendidikan petani kecil dari Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI). Tahun sebelumnya, lelaki yang murah senyum ini juga mendapat apresiasi Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) kategori Petani Pemulia di Universitas Brawijaya. 

Penghargaan ini merupakan hasil kerjanya selama puluhan tahun dalam menciptakan benih-benih padi unggulan. Orang-orang mulai mengenal Wa Darmin sejak era 90an. Di desanya, Ia dikenal sebagai buruh tani yang aktif dalam mengkampanyekan penggunaan pupuk organik hingga persilangan benih padi.  Dengan konsistensinya berkegiatan tersebut, Wa Darmin perlahan-lahan dikenal di kalangan masyarakat, akademisi hingga pemerintahan daerah sebagai petani pemulia benih.

Hasil persilangan padi karya Wa Darmin sudah sampai 150 benih unggulan. Yang paling terkenal adalah benih padi Inpari 44 Agritan. Benih padi ini direkomendasikan Kementerian Pertanian khusus untuk lahan dengan pengairan irigasi.

Selain itu, karya persilangan benih padi lain yang diciptakan Wa Darmin adalah Pemuda Idaman dan Gadis Indramayu. Pemberian nama ini, kata Wa Darmin, karena Pemuda Idaman adalah salah satu judul lagu kesukaannya dan Gadis Indramayu digunakan untuk mengangkat citra daerahnya. 

“Supaya Kabupaten-nya Wa Darmin terkenal, makanya dikasih nama Gadis Indramayu,” katanya sambil tertawa.

Keunggulan dari varietas Pemuda Idaman dan Gadis Indramayu adalah hasil lebih banyak dan ketahanan padi dari serangan virus. Jika hasil normal panen dengan padi biasa rata-rata 4,5 – 5 ton/hektar, benih padi unggulan dari buah tangan Wa Darmin bisa menghasilkan 11 – 11,5 ton/hektar. Wa Darmin masih punya ambisi untuk mendapatkan benih padi unggul yang bisa menghasilkan lebih banyak lagi.

“Kira-kira, 15 ton/hektar impiannya tuh, supaya masyarakat Indonesia itu jangan kelaparan. Jangan ribut tentang masalah makan gitu,” katanya.

Keunggulan lainnya, sebagian benih yang diciptakan Wa Darmin menggunakan perlakuan organik atau tak perlu banyak pakai pupuk kimia. Tapi sayangnya, belum semua petani di Indramayu menggunakan benih dari Wa Darmin karena keterbatasan produksi bibit yang tidak didukung pemerintah setempat.

Wa Darmin juga mengaku tak pernah mendapat royalti dari karyanya; Inpari 44 Agritan. Begitu pula dengan penghargaan PVT kategori Petani Pemulia di Universitas Brawijaya yang diselenggarakan Kementerian Pertanian. “Penghargaannya itu bentuknya tour ke Asia Tenggara. Tapi Wa Darmin tidak mau. Wa Darmin butuhnya lahan pertanian untuk percobaan penyilangan benih,” katanya. 

Tak Lulus SD, Hanya Buruh Tani

Wa Darmin tak punya lahan pertanian sendiri. Selama ini, Ia melakukan percobaan penyilangan benih padi dengan menggunakan medium ember yang diisi tanah. 

“Jadi, inginnya Wa Darmin itu dimodalin pemerintah. Intinya itu untuk nyewa lahan, untuk bikin benih. Tapi sampai sekarang nggak punya lahan. Tapi ya sudah, Wa Darmin tetap saja menyilangkan padi terus menerus,” katanya.

Wa Darmin berasal dari keluarga kurang mampu. Ia putus sekolah saat duduk di bangku kelas II Sekolah Dasar. Saat itu, Wa Darmin memilih bekerja sebagai buruh tani untuk menopang kehidupan keluarga. 

“Kalau ada wilayah tetangga sedang panen, kita ikut panen ke sana. Migrasi jadi buruh tani. Jadi dapat makan. Makanya ditinggal sekolahannya,” kenang Wa Darmin.

Ketertarikannya di bidang persilangan benih dimulai akhir 1980. Pertama kalinya ia mendapat pelatihan penyilangan benih dari petugas penyuluh lapangan (PPL) Kementerian Pertanian. Tapi hasil yang didapat: nol. 

“Awalnya tanya-tanya ke PPL, katanya gampang. Gampangnya gimana? Contoh satu baris padi A, satu baris padi B, terus dibilang nanti muncul varietas baru. Lalu dicoba sama saya tuh, nggak ada hasilnya. PPL menunjukkkan caranya begini, ya salah,” cerita Wa Darmin.

Kesalahan itu baru disadari Wa Darmin ketika terus menerus melakukan penyilangan benih. Bukan sekali dua kali ia gagal melakukan persilangan benih, sampai ilmunya bertambah karena terus menerus melakukan percobaan.

Kini, ratusan karya benih unggulan dari Wa Darmin telah tersebar luas ke seluruh Indonesia melalui seminar dan pelatihan petani dari pelbagai daerah. Benih-benih tersebut diberikan secara cuma-cuma untuk membantu para petani mendongkrak hasil panen.

“Misalnya waktu ada seminar di Garut, dibawa tuh persilangannya. Pesertanya kan macam-macam dari Indonesia. Mereka ngambil benih-benihnya Wa Darmin,” kata lelaki asli Indramayu ini, sambil melanjutkan, “Sukanya dari kecil itu memang menjadi petani pencipta padi, gitu aja. Nggak memikirkan dana-dananya, ekonominya.”

Di usia senja, Wa Darmin sudah tidak lagi jadi buruh tani. Untuk menopang hidup sehari-hari, Ia bersama isteri membuka warung kelontong di rumah. Sesekali Wa Darmin mendapat undangan untuk menjadi pelatih petani menyilang benih padi atau pernah menjadi dosen tamu di kampus.

“Kalau masih ada umur panjang. Supaya lancar memandunya. Waktu tahun berapa itu di Indramayu, jadi dosen di Universitas Wiralodra Indramayu. Ngajarin tentang pertanian, pemuliaan tanaman, tentang organik,” kata Wa Darmin.

Reti (46) sedang belajar menyilang benih padi dari Wa Darmin. Menurutnya, persilangan benih padi pada akhirnya bisa mendongkrak kesejahteraan petani. “Masyarakat biar tumbuh makmur. Jangan sampai masa depan bagi anak-anak kami kurang makan,” katanya.

Reti juga berharap ilmu menyilang padi yang diberikan Wa Darmin bisa terus diturunkan ke generasi-generasi muda. “Kita manusia harus bekerja, lalu menghasilkan padi benih yang bagus. Kalau bisa hasil dari kita sendiri. Juga untuk ngajarin ke anak-anak kami,” katanya.

Bukan hanya menurunkan ilmunya, tapi hasil karya Wa Darmin juga langsung dirasakan manfaatnya oleh petani. 

Rustiah baru saja memanen padi. Ia mengakui benih padi karya Wa Darmin punya banyak keunggulan. “Kelebihan benih dari Wa Darmin itu, pohonnya agak tinggi. Bijinya agak besar. Agak panjang. Anak padinya juga banyak. Tahan dari penyakit. Kemarin baru saja panen, tidak sampai satu hektar tapi hasilnya mencapai 11 ton lebih,” katanya.

Menurut Jenal, Petani Indramayu lainnya, benih padi unggul karya Wa Darmin saat ini hanya didistribusikan di kalangan petani saja. Bakat dan potensi Wa Darmin sebagai petani pemulia benih padi belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah. 

“Terutama kita lihat petani kecil pemulia padi ini harapannya pemerintah merekrut mereka, karena selama ini hasil persilangan mereka bisa sesuai dengan lokasi. Kedua, benih yang disilangkan itu benar-benar benih lokal dan adaptasinya dengan tanah Indramayu. Sesuai dengan lokasi,” kata Jenal.

Program 1000 Desa Mandiri Benih

Pemerintahan Jokowi-JK (2014 – 2019) memiliki cita-cita mewujudkan kedaulatan pangan. Untuk mewujudkan mimpi itu, pemerintah harus mengejar target mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri atau swasembada pangan.

Hal ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangan Berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs), terutama pada poin ke-2 tentang menekan angka kelaparan. Melalui SDGs 2030 mendatang pemerintah didorong untuk menggandakan produktivitas pertanian, menerapkan sistem produksi pangan yang berkelanjutan, serta menerapkan praktik pertanian tangguh. 

Peningkatan produksi padi sangat ditentukan oleh benih unggul. Untuk menuju visi tersebut, pemerintah menerapkan program 1000 Desa Mandiri Benih yang dimulai sejak 2015 lalu. Program ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 036/HK. 105/C/01/2016. Tujuan yang diharapkan adalah pertumbuhan kelompok petani pemulia yang mampu menyediakan benih-benih tanaman pangan unggul di wilayahnya.

1 (satu) unit kegiatan Penguatan Desa Mandiri Benih adalah seluas 10 hektar per desa. Komponen bantuannya terdiri dari bantuan benih sumber 25kg/hektar dan sarana pelengkap gudang seperti rak/stapel. Bantuan dari pemerintah juga berupa pelatihan teori dan praktik lapangan; mulai dari Teknik budidaya produksi benih, pemeliharaan dan pengawasan di lapangan, proses panen, sertifikasi benih, pengemasan, manajemen organisasi hingga pengelolaan pemasaran.

Namun, program ini masih bermasalah di lapangan. Pengurus Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Masroni mengatakan program ini tidak didahului dengan pendidikan kepada kelompok tani pemulia benih. Petani-petani yang dilibatkan dalam program 1000 Desa Mandiri Benih tak semuanya paham tentang persilangan padi. “Nah justru, Kementan ini lebih fokus kepada benihnya,” katanya kepada Independen.id, Selasa (18/12).

Hasil pengamatan Masroni di lapangan, Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) yang digarap kelompok tani pemenang tender tidak dilakukan secara prosedural. Kelompok tani pemenang tender memperoleh sumber benih dari petani-petani secara acak. Sumber benih justru diambil dari benih produksi (bukan benih induk). 

Bahkan kata Masroni, sertifikasi benih dikeluarkan sebelum benih tersebut diadakan. “Jadi sertifikatnya itu banyak dikasihkan ke kelompok tani, lembaran-lembaran itu. Itu entah sumber benihnya dari mana, asal usulnya tidak tahu. Jadi kembali ke proyek lagi orientasinya,” kata petani asal Indramayu ini.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) berjanji akan mengusut persoalan ini. Kementan akan bekerja sama dengan dinas pertanian untuk memberikan sanksi bahkan menyerahkan masalah ini ke ranah hukum. 

“Yang jelas hingga saat ini, Kementan bersama dinas pertanian terus meningkatkan pengawasan benih. Peranan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) atau Unit Pengelola Teknis Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT PSBTPH) terus ditingkat dalam mengawasi produksi benih sejak di lapang, setelah panen hingga pengolahan benih dan peredaran di pasar. Sehingga, penambahan Pengawas Benih Tanaman (PBT) terus dilakukan,” kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri kepada Independen.id, Rabu (19/12).

Selain itu, Kementan melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PTVPP) terus meningkatkan pengawasan terhadap perizinan pertanian. Pengawasan ini dilakukan untuk menghindari adanya pelanggaran salah satunya peredaran benih palsu. 

Untuk meningkatkan penegakan hukum PVTPP pun memberikan pembekalan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam implementasi pelaksanaan tugas perlindungan varietas tanaman maupun perizinan. 

“Dengan sistem pengawasan yang sistematis antara PPNS, Penyidik dari Bareskrim, serta Kementerian Pertanian tentunya dapat meminimalisasi pelanggaran hukum di sektor pertanian,” kata Kuntoro.

Untuk diketahui Kementerian Pertanian saat ini layanan perizinan dan rekomendasi telah melalui Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Padu Satu) di bawah koordinasi Pusat PVTPP. Hal ini sesuai dengan amanat Permentan No. 29 Tahun 2018 tentang Tata Cara Perizinan Berusaha Sektor Pertanian sebagai turunan PP No. 24/2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik yang mengamanatkan sistem OSS (Online Single Submission) untuk akselerasi ekspor dan investasi.

Pemerintah punya cita-cita untuk mewujudkan kedaulatan pangan, salah satunya melalui Program 1000 Desa Mandiri Benih. Tapi petani pemulia benih yang sudah bertahun-tahun menekuni bidang ini seperti Wa Darmin tak masuk hitungan dalam program ini. Selama ini, Wa Darmin dan sebagian petani di Indramayu berkarya tanpa bantuan dan anggaran dari pemerintah. 

Di sisi lain, Wa Darmin ternyata juga baru tahu ada program 1000 Desa Mandiri Benih di Pemerintahan Jokowi-JK. “Belum pernah dengar. Memang ada ya?” katanya dengan jidat mengkerut disertai tawa polos.

Meski tak punya lahan pertanian dan tanpa didukung pemerintah, Wa Darmin tetap berkomitmen untuk menyebarkan ilmunya kepada orang lain. “Nggak punya lahan, ilmu ini punya. Jadi ya sudah, nggak apa-apa. Barang kali anak-anak muda yang mau ilmunya. Ya sudah, ilmunya saya kasih ke orang yang mau di sekolah-sekolah,” katanya.

 

Potret Penduduk Indramayu

Kabupaten Indramayu merupakan daerah penyumbang nomor 1 produksi padi di Jawa Barat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat produksi padi di Indramayu tahun ini mencapai 1,3 juta ton berada di atas Karawang (1,1 juta ton) dan Subang (991 ribu ton). 

Namun, status lumbung padi Indramayu tidak seiring dengan kesejahteraan sebagian penduduknya. Sebagian petani masih makan beras sejahtera (program ini akan diubah sepenuhnya pada 2019 menjadi Bantuan Pangan Nontunai/BPNT).

Buruh tani Indramayu, Reti mengaku sudah 4 tahun belakangan ini mendapat bantuan beras sejahtera dari pemerintah. Nenek satu cucu ini tidak tahu dari mana asal beras sejahtera tersebut. Tapi yang pasti, kata dia, kualitas beras asal Indramayu lebih baik dari beras sejahtera pemberian pemerintah.

“Enakan dapat dari tani sendiri. Sampai sore nasinya itu kempel terus. Kalau itu bantuan, saya masak pagi sudah setengah harian, nasinya itu sudah mengambang air. Pecah, nggak ngempel. Dimakannya beda, kena angin akas,” kata Reti.

Tahun ini jumlah penduduk Kabupaten Indramayu mencapai 1,7 juta jiwa. Persentase penduduk miskin Indramayu terbesar ke-2 se-Jawa Barat (13,67%) setelah Kota Tasikmalaya (14,8%). Angka ini juga berada di atas presentase kemiskinan nasional yaitu 10,12%. 

Kabupaten Indramayu bukan satu-satunya kawasan yang disebut lumbung padi dengan tingkat presentase kemiskinan di atas rata-rata nasional. Hal ini juga ditunjukkan oleh 4 daerah lain penghasil padi di Jawa Barat yaitu Kabupaten Karawang (10,25%), Kabupaten Subang (10,77%), Kabupaten Cianjur (11,41%) dan Majalengka (12,6%).

Bukan hanya banyak yang miskin, rata-rata lama sekolah penduduk Indramayu hanya 5,97 tahun, paling rendah se-Jawa Barat. Artinya, penduduk Indramayu berusia 25< tahun rata-rata hanya tamatan kelas V Sekolah Dasar. 

 

Penulis : Irham Duilah