Upaya Petani Di Saat Kopra Murah

Upaya Petani Di Saat Kopra Murah
Foto: Dok : Ilona

Independen -- “Harga bahan pokok semakin lama semakin naik, tapi kopra sekarang justru murah. Saat ini kami mulai coba beralih ke alternatif lain, yaitu menjual langsung kelapa biji. Untuk segi harga tidak terlalu jauh, tapi proses pengerjaan dan penjualan kelapa biji lebih cepat, lebih hemat waktu.”

Hal tersebut diungkap seorang petani kopra di Minahasa Selatan, Boyke Sondakh (51). Ditemui Sabtu, 21 Maret 2020 lalu ia menyebutkan harga kopra kini berada pada kisaran RP 4.600 per kilogramnya. Harga kerap mengalami naik turun, namun jikapun naik, ia mengatakan hanya berkisar 5000 per kilogram. Jika dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, bisa dikatakan harga saat ini anjlok.

Keresahan perihal harga kopra yang murah kini tengah dirasakan sejumlah petani kopra di Minahasa Selatan (Minsel). Menjadi salah satu kabupaten di Sulut yang juga penghasil kelapa  terbesar, tiap tahunnya Minsel mampu menghasilkan kelapa dengan nilai produksi mencapai lebih dari 40.000 ton (data BPS).

Kopra merupakan produk turunan kelapa yang memiliki banyak fungsi. Sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan, puluhan ribu petani di Minsel sudah merasakan manfaat ekonomi komoditas ini. Minyak kelapa dinilai sebagai makanan kesehatan yang bernutrisi. Minyak kelapa mentah dihasilkan dari kopra yaitu daging kelapa yang dikeringkan.

Meski telah membantu perekonomian petani, beberapa petani mengeluhkan anjloknya harga komoditas ini. Seperti dikisahkan Boyke Sondakh yang merupakan petani kopra di Desa Tondei, Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minsel. Selain harga yang murah ia harus membagi hasil penjualan dengan pekerja pemetik kelapa karena ia sudah tidak mampu lagi memetik sendiri kelapa. Untungnya ia pribadi memiliki sendiri moda angkutan roda sapi untuk mengangkut hasil pertanian. Sementara petani lain ada yang harus menggunakan sistem sewa karena tidak punya angkutan sendiri. 

Keluhan soal anjloknya harga kopra juga dirasakan petani lain di Tondei. Hukum Tua (Kepala Desa) Tondei, John Kawengian juga kerap mendengar keluh kesah warganya tentang harga kopra. Ia menerangkan beberapa tahun terakhir harga  berada di bawah terus sementara bagi petani pemilik lahan yang harus bayar tenaga kerja, upahnya terus naik.

Petani kopra pernah merasakan masa jaya saat kopra pernah dihargai Rp 10.000 per kilonya pada awal 2011 dan mengalami penurunan signifikan pada awal 2012. “Sekarang harganya berada pada kisaran di bawah Rp 5.000 saat turun bisa sampai RP 3.000. Otomatis masyarakat desa pada umumnya kecewa karena kopra merupakan  sumber penghasilan terbesar masyarakat Tondei,” ungkap John.

Jika dihitung secara keseluruhan hasil kopra dari seluruh petani Desa Tondei bisa hampir 1000 ton per kuartal. John yang juga memiliki lahan pertanian kelapa sendiri mengatakan kelapa merupakan komoditas pertanian utama desa ini.
Kopra dijual ke sejumlah perusahaan di Minsel hingga ke Bitung oleh petani. Skema penjualan kopra melalui dua cara yaitu melalui pengumpul dan oleh petani langsung.  Anjloknya harga, lanjut John membuat banyak petani di desanya memilih mulai beralih ke penjualan kelapa biji.

Salah seorang warga pemilik kebun dan tempat pembakaran kopra Donal Lumenta mengatakan di tingkatan pengumpul harga kopra saat ini murah, banyak petani kopra mulai beralih ke kelapa biji yang dianggap lebih mudah. Walaupun masih tergolong murah Donal mengaku masih dapat keuntungan dari hasil kopranya dan tidak berniat berpindah ke hasil pertanian lain.

Petani kopra lain di Minsel, Wensly (52) mengatakan saat kelapa murah, untuk membantu menambah penghasilannya ia membuat gula aren.

Pohon aren yang tumbuh di tanah Minahasa juga dianggap sebagai anugerah bagi warga. Meski tidak dibudidayakan sebagai tanaman pertanian, Aren yang tumbuh liar di banyak tempat termasuk di area perkebunan dimanfaatkan dengan baik oleh petani.

Sebagian petani memanfaatkannya untuk menghasilkan gula aren, dan bisa pula menjadi bahan utama olahan minuman beralkohol khas Minahasa, Cap Tikus.
“Sekarang lebih sering bikin gula aren dari pada bakopra. Ke kebun masih memanen kelapa sesekali, tapi untuk buat kopranya mulai pikirkan untung rugi, kalau lebih banyak rugi atau tidak untung lebih baik jual kelapa biji saja,” terangnya. 

Mengenal Kultur dan Sejarah Bakopra
Sulawesi Utara terkenal dengan ragam komoditas pertanian unggulan. Selain cengkih, pala dan kopi, salah satu yang terbesar adalah kelapa, dengan produk turunannya kopra. Tanaman kelapa tumbuh subur di hampir seluruh kabupaten di Sulawesi Utara, seperti halnya di Minahasa Selatan.

Minahasa Selatan (Minsel) merupakan kabupaten di Sulawesi Utara yang terkenal sebagai salah satu wilayah penghasil kopra terbesar. Menurut data BPS Sulawesi Utara tahun 2018, luas tanaman kelapa perkebunan rakyat di Kabupaten Minahasa  Selatan merupakan yang terbesar kedua setelah Minahasa Utara, yakni 45 751. Ha. Kelapa juga menjadi komoditas unggulan di kabupaten dengan 17 kecamatan dan berpenduduk lebih dari 209.000 jiwa ini.

Kopra merupakan turunan kelapa yang penting, karena merupakan bahan baku pembuatan minyak, bahan dasar kosmetik, makanan,obat, dan banyak lagi. 
Berkunjung ke desa-desa penghasil kopra di Selatan Minahasa, sejauh mata memandang akan mudah menemukan orang dengan aktivitas bakopra, yaitu kegiatan memanen, mengangkut dan mengolah kelapa menjadi kopra di tempat pembakaran.

Tondei merupakan salah satu desa di Minsel yang lebih dari 80% warganya merupakan petani kelapa. Boyke Sondakh salah satunya. Ia menjadi saksi bagaimana kultur bakopra masyarakat Tondei telah dibangun bertahun-tahun lamanya. Sebagian besar warga memiliki kebun kelapa sendiri yang diwariskan turun-temurun. Dirinya merupakan salah satu petani kelapa yang juga mewarisi kebun sekaligus tradisi bakopra dari ayah dan kakeknya. 

Kegiatan bertani kelapa mudah dijumpai di sejumlah daerah di Sulawesi Utara khususnya di Kabupaten Minahasa Selatan. Peneliti antropologi di Anthro Pasific Institute Manado, Nono S. A. Sumampouw, mengungkapkan kelapa sebagai komoditas mulai diperkenalkan di Sulut sejak jaman Kolonial.

“Kelapa mulai jadi tanaman kultivasi dikenalkan oleh Belanda. Meski bukan merupakan tanaman introduksi dan sebelumnya telah tumbuh di tanah Sulawesi Utara, kelapa baru menjadi tanaman kultivasi mulanya dikenalkan di Kepulauan Siau, Sulawesi Utara pada 1860. Kopra mulai jadi produk ekspor unggulan pada 1890, dan mulai dikenalkan pada petani di berbagai wilayah di Sulawesi Utara,” ujar Nono, pada Senin 16 Maret 2020.

Selain memproduksi kopra, petani di Minsel juga pandai mengolah kelapa untuk subsisten. Hampir semua petani kelapa paham proses pembuatan minyak kelapa untuk konsumsi sendiri. Kayu kelapa juga oleh petani dan warga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat rumah kayu dan banyak lagi.

Saat ekspansi sawit mulai menggeser hutan dan lahan perkebunan di sejumlah wilayah di Indonesia, kelapa tetap jadi tanaman pertanian pilihan masyarakat Sulut.

Selain memiliki nilai sosio-historis, Nono menambahkan kelapa masih menjadi pilihan petani karena merupakan tanaman yang memungkinkan sistem menanam tumpang sari. “Beda dengan sawit, petani kelapa bisa menanam tanaman lain di sekitar tanaman kelapanya. Selain itu alasan petani tetap memilih kelapa karena selain dijadikan kopra, hampir semua bagian kelapa bisa digunakan, seperti kayunya untuk bangunan, pelepah, dan sabut kelapa.”

Seperti penuturan Nono, Boyke Sondakh mengaku kebun tanaman kelapa yang dimilikinya turut ditanami juga tanaman lain seperti cengkih, dan buah durian. Karena umumnya merupakan warisan turun temurun, banyak pohon kelapa di Desa Tondei yang telah berusia lebih dari 100 tahun.

Ilmu menanam kelapa dan memproduksi kopra didapatnya dari melihat langsung aktivitas bertani warga, dan diajarkan oleh Het Sondakh (78), ayahnya yang juga petani. Keahlian bakopra juga diturunkan Boyke kepada anaknya yang saat ini tengah menempuh studi di salah satu perguruan tinggi negeri di Manado.

Kelapa merupakan sumber mata pencarian keluarga ini. Dari hasil kopra dari kebun kelapanya, Het menghidupi lima orang anak dan kini dari hasil tersebut turut membantu biaya kuliah cucu-cucunya. Selain menanam kopra Ia juga memiliki tanaman cengkih yang ditanam bersilangan dengan kelapa. Ditemui pada Minggu, 22 Maret 2020, Het mengaku dari segi perawatan kelapa masih tergolong lebih mudah dibanding cengkih.

“Kalo cingke (cengkih) harus perawatan ekstra termasuk rutin pembersihan dan penyemprotan hama. Kalau tidak bisa tidak berbuah dengan baik. Walaupun harga jualnya jauh lebih mahal tapi cingke tergantung musim, hanya berbuah saat panas panjang, dan untuk panen besar bisa menunggu empat hingga lima tahun sekali,” terangnya.

Untuk memanen kelapa yang siap diolah menjadi kopra hanya butuh waktu tiga bulan sekali (kuartal). Bisa diatur hingga dua bulan sekali untuk panen kelapa biji. Jika hanya berharap pada panen cengkih, Het menyebutkan petani di Desa Tondei tidak akan ‘hidup’. 

Pohon kelapa di desa Tondei banyak yang telah berusia ratusan tahun, petani hanya perlu peremajaan bagi beberapa kelapa yang sudah merunduk, sementara kelapa tua lainnya masih bisa dipanen. 

Peneliti Nono Sumampouw mengatakan kopra pernah menjadi komoditas ekspor penting di Sulut  pada 1920  dengan mengambil bagian sebesar 87% dari keseluruhan nilai ekspor. Hingga saat ini kopra sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan telah membantu perekonomian puluhan ribu petani di Minahasa Selatan. Tak hanya petani pemilik lahan, pekerja yang memetik dan membantu proses pembakaran kopra pun menerima manfaat ekonomis dari pohon bernama latin cocos nucifera ini.

Hal serupa diucap petani Kopra di Desa Paslaten, Jelly Rembang. Pria yang telah lebih dari 20 tahun menjadi petani tersebut mengaku dari hasil kopra dirinya mampu membantu penghidupan dan meningkatkan perekonomian keluarga, bahkan bisa menciptakan lapangan kerja bagi petani yang tidak punya lahan yang dipekerjakan sebagai pemetik kelapa maupun membantu produksi kopra.

Komitmen Perusahaan Bantu Petani
PT Cargill Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang menerima pasokan kopra dari petani di Minsel. Perusahaan ini memiliki fasilitas pengolahan kopra yang berlokasi di Jalan Trans Sulawesi, Amurang, Kabupaten Minsel. 

Cargill merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pangan, pertanian, keuangan, dan industri dan kini tersebar di lebih dari 125 negara. Dalam laman Cargill.co.id disebutkan komitmen perusahaan bersama-sama membangun masa depan yang lebih kuat dan berkelanjutan untuk dunia pertanian. 

Perusahaan ini memulai usahanya di Indonesia pada 1974 dengan mendirikan pabrik pakan di Bogor, Jawa Barat. Saat ini berkantor pusat di Jakarta dan tersebar di 60 lokasi dengan kantor-kantor, pusat produksi dan fasilitas di seluruh Indonesia termasuk di Sulawesi Utara.

Beberapa tahun terakhir Cargill telah memperluas aktivitas yang berkaitan dengan produksi melalui akuisisi dan perluasan fasilitas pengolahan kopra di Amurang, Minsel. Fasilitas ini memproduksi minyak kelapa dan bungkil kopra, terutama untuk ekspor, serta menampung tangki penyimpanan curah untuk minyak laurat dengan kapasitas 31.000 metrik ton.

Perusahaan ini membeli hasil kopra petani mengolahnya menjadi minyak kelapa dan mengekspor sebagian besar minyak kelapa ke Amerika Serikat dan Eropa.
Kesejahteraan petani khususnya petani kelapa merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian Cargill. Laporan tahunan 2018 (Annual Report) dari data base Global Reporting Initiative (GRI) disebutkan hingga 2018 Cargill telah melatih lebih dari 475.000 petani dalam praktik pertanian berkelanjutan. Dituliskan pula hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dan prioritas serta sorotan pembangunan berkelanjutan dari perusahaan. Bahkan pada 2030 Cargill menargetkan Memberikan pelatihan praktik pertanian berkelanjutan dan meningkatkan akses ke pasar untuk 10 juta petani. 

Sesuai dengan komitmen Cargill Indonesia yang ditulis dalam laman web-nya, disebutkan sebagai warga korporat Indonesia yang bertanggungjawab, perusahaan lewat program-program lokalnya membantu perkembangan pembangunan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan dengan membantu warga dan lingkungan. 

Hal itu juga disampaikan melalui humas perusahaan di Amurang, Marthen Sorongan. Marthen mengatakan Cargill berkomitmen terus memberikan dukungan kepada petani lokal melalui pelatihan, program penguatan masyarakat dan penggunaan teknologi yang dapat membuat aktivitas petani kelapa menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. 

“Salah satunya sudah melalui kegiatan Continuous Improvement (CI). Cargill memberikan pelatihan tentang diversifikasi pertanian. Petani didorong melakukan tumpangsari dan penanaman kembali, mengeksplorasi kesesuaian tanaman dan hubungan pasar untuk mendukung keberlanjutan produk pertanian lainnya,” terangnya saat diwawancara 3 April 2020 lalu.

Cargill juga bermitra dengan pemerintah dengan berpartisipasi dalam menyediakan program perlindungan bagi pekerja rentan melalui BPJS Ketenagakerjaan dengan memberikan jaminan sosial (asuransi kecelakaan kerja) selama dua tahun kepada 88 petani Minsel yang telah mengikuti standar Sustainable Agriculture Network (SAN) dan telah menerima sertifikasi Rainforest Alliance. Sinergitas dengan pemerintah juga ditunjukan dengan membantu mendukung program pemerintah mensejahterakan petani di Minsel.

Ia menambahkan perusahaan akan terus meningkatkan dukungan, berdasarkan kerja besar yang telah dicapai dengan petani kelapa kecil untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan pertanian mereka sembari memajukan pasokan minyak kelapa berkelanjutan di dunia. 

Sejak 2017 PT Cargill mulai melakukan pelatihan standar pertanian berkelanjutan kepada 88 petani kopra lokal di Minsel. Petani peserta pelatihan juga menerima sertifikat produksi kelapa berkelanjutan, Rainforest Alliance.

Hal ini merupakan bagian dari program perusahaan membantu petani kopra di Indonesia dan Filipina, yang merupakan dua negara produsen kelapa terbesar di dunia guna mengembangkan kehidupan petani, meningkatkan pendapatan dan pada waktunya mengarahkan pada produksi minyak kelapa yang berkelanjutan.

Jelly Rembang menjadi salah satu petani kopra yang mengikuti pelatihan. Ia mengaku menerima pelatihan seperti pemanfaatan lahan, manajemen, budidaya kelapa, bahkan budidaya tanaman lain.

“Sampai saat ini untuk pelatihan lanjutannya masih terus dilakukan pendampingan dari PT Cargill dan Yayasan Batuna kepada kami petani,” terangnya.

Setelah menerima pelatihan dan masih mendapatkan pendampingan Jelly mendapatkan manfaat langsung dari program tersebut untuk peningkatan kapasitasnya sebagai petani. Di samping itu perusahaan juga memberikan bantuan berupa bibit kelapa, jagung dan mesin paras yang dibagikan ke tiga kelompok petani di desanya.

Hal tersebut dinilai sangat membantu, mengingat pelatihan bagi petani belum sering dilakukan. “Manfaatnya selain meningkatkan kapasitas kami selaku petani juga membantu peningkatan ekonomi,” tambahnya lagi. Produktivitas hasil kebun pun meningkat. 

Pria yang telah lebih dari 20 tahun bekerja sebagai petani kopra ini berharap pendampingan masih terus dilakukan, dan kedepannya ia berharap pemerintah dan perusahaan dapat membantu pengadaan alat produksi kopra khususnya kopra putih yang nilai jualnya lebih mahal. Diperlukan tambahan oven dan alat pengering kelapa.

Untuk dukungan kepada petani lokal di Minsel, sudah dilakukan pula oleh perusahaan lewat  program tanggung jawab korporat seperti distribusi 10.000 bibit kelapa ke 100 petani(2012-2013), program Coconut Farmers Empowerment (2016) dengan memberikan pupuk dan bibit secara bertahap, serta memberikan pelatihan Farming Business School (FBS) ke 359 petani.

Menanggapi keluhan petani tentang murahnya harga kopra, Cargill Indonesia menjawab melalui bidang kehumasan di Amurang. Marthen mengatakan daya beli dan volume yang diterima perusahaan ditetapkan bervariasi mengikuti permintaan pasar. 

“Karena yang mempengaruhi harga pasar global, untuk membantu petani lebih paham pengelolaan ekonomi kopra, kami memberikan dukungan pengembangan kapasitas. Bermitra dengan Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) kami mengikutsertakan petani lokal di Farming Business School, sebagai bagian dari pelatihan Rainforest Alliance. Diharapkan mereka lebih mampu mengelola pertanian mereka sebagai bisnis, daripada sekedar subsisten,” terang Marthen Sorongan. 

Cargill mengklaim upaya perusahaan justru dilakukan lewat pelatihan pengelolaan bisnis kelapa dan pengetahuan tentang agrikultur lewat Good Agriculture Practice (GAP) meningkatkan produksi, membayar premi untuk kopra yang berkualitas dan berkelanjutan, serta dukungan teknis lain. Melalui upaya ini, Cargill menyebutkan produktivitas petani berhasil meningkat lebih dari 15% dan pendapatan lebih dari 30%.

Meski harga saat ini tergolong murah, hasil penjualan kopra masih tetap dirasakan manfaatnya dalam menopang perekonomian warga di Minsel. Petani kelapa di Minsel seperti Boyke, Jelly, dan petani kelapa lain di Selatan Minahasa masih tetap mengandalkan penghasilan dari kopra.

Penulis :  Ilona Esterina Piri

Data Lainnya