Bantu kami terus meneliti dan menginformasikan. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung kami

donasi sekarang

Impor Beras Ditolak, Jokowi Tunda Sampai Juni

Impor Beras Ditolak, Jokowi Tunda Sampai Juni
Foto: sumber: youtube pergerakan indonesia

Independen  --- Pemerintah lewat pernyataan Menteri Koordinator Ekonomi, Airlangga berencana mengadakan impor beras sebesar 1 juta ton dengan rincian 500 ribu ton beras premium dan 500 ribu ton beras medium untuk cadangan Bulog. 

Rencana pemerintah tersebut ditolak keras banyak pihak, salah satunya oleh Persaudaraan Mitra Petani Nelayan Indonesia (Pertani).  Ketua DPN Pertani, Satrio Dharmajati mengatakan di bulan April Mei ini akan ada panen raya padi, sehingga jika pemerintah mengimpor beras, merupakan pukulan bagi petani.  Karena  pasokan akan berlimpah dan harga jatuh. Saat ini saja menurut Satrio, harga gabah di bawah Rp 4.000,- per kilogram. Sementara yang ideal bagi petani adalah jika harga gabah minimal Rp 4.800,- per kilogram.  

Satrio berpendapat Pemerintah saat ini tidak perlu impor beras. Tapi perlu membangun big data dan Badan Pangan Nasional seperti amanat UU. 

“Kami tidak anti impor. Namun keputusan impor sebaiknya berbasis data sehingga perlunya big data pangan. Terlebih saat ini petani akan panen raya,”ujar Satrio Dharmajati dalam diskusi online yang diselenggarakan Pergerakan Indonesia pada Kamis, 25 Maret 2021. 

Sementara itu pengamat politik Arif Nurul Imam menyebutkan impor menjadi cara-cara untuk memperoleh keuntungan bagi sebagian elite. Berburu rente dari impor sudah menjadi jamak bagi sebagian elitet, terlebih dikaitkan dengan kepentingan Pemilu 2024. Jika impor 1 juta ton diperkirakan keuntungannya bisa mencapai 2 triliun. Rencana ini akan menuai rugi seperti petani tetapi juga menguntungkan bagi sebagian elite.

Arif Nurul khawatir jika kebijakan impor pangan terus menerus dilakukan tanpa peduli pada nasib petani, maka Indonesia akan kehilangan petani. Dalam perhitungan linier yang dilakukan Bappenas, diprediksi tahun 2063 petani akan hilang dari Indonesia. Pada tahun 2019, prosentase petani di Indonesia hanya 28%. Menurut pengamatan Arif Nurul, menjadi petani itu bukan pilihan tetapi keadaan.

“Sekarang ini petani umumnya berusia 45 tahun ke atas. Dan banyak petani yang tidak menginginkan  anaknya menjadi petani,”ujar Arif Nurul Imam, yang juga kolumnis di beberapa media.

Sikap penolakan impor beras ini direspon oleh Presiden Jokowi lewat akun Instagramnya pada Jumat malam, 26 Maret 2021. Di akun @Jokowi menuliskan: 

Selamat malam, Saya mengikuti perbincangan soal impor beras beberapa hari ini. Saya perlu tegaskan bahwa tidak akan ada impor komoditas beras hingga bulan Juni mendatang. Selama hampir tiga tahun belakangan ini, Indonesia juga tidak mengimpor beras.

Memang, saat ini terdapat nota kesepahaman antara Indonesia dengan Thailand dan Vietnam. Nota kesepahaman itu adalah opsi yang dapat ditempuh sewaktu-waktu. Kita berjaga-jaga di tengah situasi pandemi yang penuh ketidakpastian saat ini.

Pada panen raya mendatang ini, beras petani akan diserap oleh Perum Badan Urusan Logistik (Bulog). Saya telah memerintahkan Menteri Keuangan untuk menyiapkan anggaran yang diperlukan untuk penyerapan beras dari petani lokal tersebut.

(D02)

Ekonomi Lainnya