Membuka Peluang Kerja Difabel di Era Digital

Membuka Peluang Kerja Difabel di Era Digital

foto: Irham/independen

Talk Show Membuka Potensi Kewirausahaan Generasi Muda di Pasific Place, Jakarta Selatan, Selasa (23/10)

INDEPENDEN, Jakarta – Dunia wirausaha merupakan dunia kompetisi akan inovasi dan kreativitas. Sekalinya inovasi dan kreativitas itu berhenti, siap-siap saja untuk menggulung tikar.

Inovasi dan kreativitas bukanlah barang mati. Ia selalu berkembang mengikuti zaman. Setiap orang bisa mengembangkan inovasi dan kreativitas dalam melakukan wirausaha atau bekerja, tanpa terkecuali kelompok difabel.

Selama ini, kelompok difabel dianggap memiliki keterbatasan dalam akses jaringan kerja, informasi pasar, dan layanan pengembangan bisnis. Akan tetapi stigma ini bisa didobrak Khusnul Khuluq.

Khusnul adalah tunadaksa. 2004 silam, ia mengalami kecelakaan dan harus kehilangan satu kakinya. Belakangan ini ia bergabung dengan Ayo Inklusif! Youth Camp dan pelatihan keterampilan, inisiatif yang didukung USAID Mitra Kunci. Inisiatif ini merupakan program yang mempromosikan pasar kerja bagi kaum muda penyandang disabilitas. Saat ini, ia sedang magang di Yayasan Dharma Bakti Astra, sebuah yayasan dari Perusahaan Astra yang mendukung pengembangan usaha kecil.

Awalnya, Khusnul mengakui sebagai difabel sangat berat untuk menerima kenyataan untuk melakukan mobilitas. Ditambah lagi di dunia kerja, kelompok difabel kerap tak menjadi prioritas untuk perekrutan tenaga kerja.

“Lewat program ini, kalau saya di bagian multimedia, ada juga pendamping untuk UMKM dan marketing online. Sudah 2 bulan berjalan. Skill-nya sekarang sudah saya dirasakan. Di situ juga kemarin magang, yang tadinya belum mampu untuk disain, lalu edit video lalu sekarang jadi bisa,” katanya dalam Talkshow ‘Membuka Potensi Kewirausahaan Generasi Muda’ di @america Pasific Place, Jakarta Selatan, Selasa (23/10).

Lebih lanjut, Khusnul mengatakan selama pelatihan, ia juga belajar melalui sejumlah platform video berbagi di internet.  Dengan kemajuan kemampuan yang ia rasakan di bidang multimedia, Khusnul mengaku sudah bisa, “Menerima diri saya sebagai difabel dan bisa berbuat lebih lagi.”

Khusnul bukan satu-satunya kalangan dari kelompok difabel yang berusaha untuk mengembangkan diri untuk tetap bersaing di dunia kerja. Joko Murtanto adalah kartunis yang menggunakan perangkat teknologi multimedia.

Joko sempat berpikir untuk bekerja sebagai buruh, ikut orang untuk mendapatkan gaji bulanan. Tapi kemudian ia berpikir ulang. Dengan kondisinya sebagai difabel, sangat tidak memungkinkan untuk melakukan mobilisasi seperti orang pada umumnya. “Karena kalau difabel itu risiko tinggi dengan kondisinya. Misalnya mobilisasi ke kantor. Bisa kan jatuh atau tertabrak kendaraan,” katanya.

Joko yang punya hobi menggambar kemudian berpikir cara untuk bisa bekerja dari rumah yang minim risiko kecelakaan. “Kebetulan saya suka menggambar. Sampai sekarang itu saya membuat disain pakai Microsoft Word. Itu jadi nilai lebih kalau yang lain kan bikin kartun pakai Photoshop dan Corel Draw,” katanya bangga.

Ia mengatakan sempat menggarap proyek dari Kementerian Pendidikan untuk mengerjakan ilustrasi buku-buku Pendidikan. Joko pun merekrut 15 orang untuk bekerjasama dengannya. Dari 15 orang, 3 di antaranya adalah difabel.

“Saya pengennya teman-teman difabel berkolaborasi. Kita kasih pembelajaran ke teman-teman yang non-difabel. Mereka kan nggak pernah tahu bagaimana cara difabel bekerja. Tapi setelah mengerjakan buku itu mereka jadi tahu. Menjelaskan mereka bisa dengan keran yang mengalir. Membersihkan gambar dengan tungkai kaki,” jelasnya.

Pengalaman mempekerjakan kelompok difabel diutarakan oleh Anantya Van Bronckhorst. Anantya adalah Co-Founder dan Co-CEO Think.Web, lembaga digital dan teknologi terkemuka di Indonesia yang menciptakan cara pemasaran baru di dunia digital. Saat ini ada dua difabel yang direkrut bekerja di perusahaannya.

“Saat ini ada 2 tunanetra yang bekerja. Satu bekerja untuk menulis dan satu lagi untuk menyiapkan konten di media sosial,” kata Anantya.

Ia melanjutkan sejauh ini dua karyawan dari kelompok difabel ini tetap diberikan kesempatan yang sama dengan karyawan lainnya. Sebanyak 20 persen waktu bekerja di perusahaan ini dialokasikan untuk belajar ke divisi lain.  Jadi semua memiliki kesempatakan yang sama untuk belajar. “Waktunya bisa apply ke yang lain misalnya programer dan disainer,” katanya.

Tunanetra yang bekerja di perusahaannya menggunakan aplikasi khusus semacam pemindai huruf menjadi suara. “Kemampuan mendengar mereka sangat cepat. Itu kan ada screen reader. Dibacakan. Bisa dengan cepat mendengar dan mengartikan sendiri, misalnya ketika membuka halaman Facebook,” katanya.

Kehadiran Negara untuk Difabel

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi saat ini masih mengandalkan program ayokitakerja.kemenaker.go.id untuk menjaring pasar tenaga kerja di Indonesia. Menurut Direktur Pengembangan Pasar Kerja, Kementerian Tenaga Kerja, Roostiawati website ini bisa digunakan seluruh masyarakat di Indonesia untuk mencari kerja.

“Sekarang kita di Indonesia melalui akses digital Ayokitakerja. Cukup memasukan NIK (Nomor Induk Kependudukan/NIK). Itu masuk pasar kerja kita di 540 kabupaten/kota. Januari 2019 nanti aksesnya akan diganti ke mobile phone,” katanya.

Lebih lanjut Roostiawati mengatakan untuk pasar tenaga kerja dari kelompok difabel, kementerian tetap mempercayakannya program Balai Latihan Kerja (BLK). “Kita siapkan BLK agar komunitas bisa mengakses pencari kerja untuk pelatihan skilling program atau mereka yang kena dampak 4.0. jadi perlu re-skilling,” katanya.

Sementara itu, Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Fadjar Hutomo mengatakan bulan depan lembaganya menggelar World Coference on Creative Economy. Dalam pertemuan internasional ini, nantinya setiap orang tanpa terkecuali kelompok difabel bisa mendiskusikan ide-ide wirausahanya.

Fadjar mengatakan, terdapat 16 subsektor ekonomi kreatif yang akan dibahas. Di antaranya kuliner, fashion, kria, film, aplikasi dan game digital sampai musik. “Nah subsektor ini kalau kita lihat, hari ini dengan perkembangan digital ini membuka kesempatan untuk siapa saja,” katanya. ID003