Transformasi Digital di Industri Perbankan Berujung PHK Massal?

Transformasi Digital di Industri Perbankan Berujung PHK Massal?

Independen -- Disrupsi teknologi digital tengah berlangsung di industri perbankan Indonesia. Dari level direksi hingga karyawan, semua menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Dalam kamus korporasi, semua pihak dituntut untuk beradaptasi dengan cepat. 

Bagi para pekerja bank, perubahan pola bisnis ini tak pelak menimbulkan kekhawatiran akan masa depan pekerjaannya. Apakah masih akan diperlukan di masa depan? Ataukah akan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK)?

Anggota Jaringan Komunikasi Serikat Pekerja Perbankan Abdoel Mujib mengatakan PHK di sektor perbankan ini sudah terjadi sejak 2016. Diperkirakan sekitar 50.000 lebih karyawan bank terkena PHK. "Sudah sejak 2016 PHK terjadi, sampai akhir 2018 kemarin mungkin sudah 50.000 lebih," ungkap Abdoel, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (16/1/2019).

Bagi direksi bank, disrupsi digital ini menjadi tantangan untuk dapat menjangkau nasabah baru yang belum bankable dengan ongkos yang lebih efesien dan pendekatan pemasaran baru. Namun perubahan budaya kerja di dalam perusahaan masih menjadi tantangan berat agar perubahan bisnis ini dapat diikuti oleh setiap pekerja dan manager.

Adalah Fajar Adityo Ismantoro, salah satu Customer Service Officer (CSO) Bank Mandiri di kantor cabang Plaza Mandiri, yang pernah mengalami rasa cemas dengan geliat transformasi digital di industri perbankan. Pada akhir 2018, ia dan rekan-rekannya mendapat informasi dari kepala cabang tentang proyek awal Digital Banking Bank Mandiri. Proyek awal ini kebetulan dimulai di kantor cabang tempatnya bekerja. 

“Saya kuatir, apakah nanti saya akan dipindahkan ke unit atau divisi lain kalau nanti ada pengurangan staf di kantor cabang? Jika saya dipindahkan ke divisi legal, saya takut tak bisa menguasai bidang itu,” ungkap Fajar yang mengawali profesinya sebagai teller pada tahun 2009 di bank terbesar secara aset itu. 

Sejak Bank Mandiri meluncurkan aplikasi mobile pertama di platform Blackberry tahun 2011 silam, Fajar merasakan adanya perubahan sistem perekrutan karyawan di bank pelat merah itu.

“Dulu setelah saya bekerja satu tahun menjadi teller, saya langsung diangkat sebagai pegawai tetap. Akan tetapi, tahun berikutnya hingga sekarang, makin sulit bagi teller menjadi karyawan tetap,” sebutnya. 

Namun kegelisahan Fajar tak berangsur lama setelah ia berkonsultasi dengan Kepala Cabang. Ia yakin posisinya cukup aman saat ini. “Memang saat ini kami mulai mengalihkan nasabah ke digital, namun ada hal-hal yang tak bisa dipenuhi melalui digital. Banyak nasabah yang masih butuh konsultasi secara langsung dengan petugas bank, baik itu mengenai produk perbankan. Saya rasa perampingan (karyawan) itu ada tapi pegawai seperti teller dan CSO masih akan tetap dibutuhkan,” ujar Fajar. 

Sementara, Dandy Permana, salah satu teller Bank BCA di kantor cabang Thamrin tak merasa terancam karena yakin Bank akan membekali ilmu bagi para karyawannya agar lebih sigap beradaptasi dengan digitalisasi perbankan. 

Selain melayani nasabah bertransaksi, Dandy yang masih kuliah dan menjadi karyawan magang di bank swasta ini, mengaku jika ia dan rekan kerjanya harus bisa menawarkan produk perbankan. “Jadi teller dan CSO juga ditargetkan cross-selling (berjualan) produk-produk seperti KPR, KKB, dan sebagainya”

Kecemasan Fajar dan pengalaman Dandy untuk berjualan merupakan segelintir contoh yang tengah dialami para pekerja di industri perbankan tanah air akibat disrupsi teknologi digital yang terjadi di industri perbankan. 

Berdasarkan survei Digital Banking in Indonesia 2018 yang oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), para pekerja di sektor perbankan sedang mengalami perubahan proses bisnis dan tim yang tidak fleksibel akibat minimnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang digital. 

Biaya operasional

Direksi bank tak menyangkal jika bank mulai mengurangi biaya operasional, terutama dalam pembukaan kantor cabang, seiring dengan kuatnya tuntutan bagi bank untuk bertransformasi menjadi digital banking.

Direktur Operasional dan Bisnis Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan, perampingan kantor cabang di Bank Mandiri telah terjadi sejak tahun lalu. Dibandingkan beberapa tahun lalu, umumnya Bank Mandiri membuka 100-200 cabang. Sejak tahun lalu Bank Mandiri hanya membuka 50 kantor cabang. Adapun tahun 2019 ini Bank pelat merah itu hanya berencana membuka 10 cabang.

Penyusutan ekspansi kantor cabang sejalan dengan transformasi perbankan digital, dimana Bank Mandiri telah mengurangi interaksi nasabah pada bank secara fisik dengan mengembangkan Mobile Apps atau Digital Channel. Saat ini, ujar Hery, transaksi digital di Bank Mandiri telah mencapai 92%, sementara transaksi konvensional atau di kantor cabang sekitar 8%. 

“Kami ingin menaikkan produktivitas, baik dari penghimpunan Dana Pihak Ketiga  maupun kredit. Penghematan modal kerja dari sisi pembukaan cabang saja bisa berarti lebih dari Rp 100 miliar,” ungkap Herry. 

Berbeda dengan BCA yang masih ingin membuka kantor konvensional dan merekrut para teller. Presiden Direktur Bank BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, BCA masih akan tetap ekspansi membuka kantor cabang baru dan karyawan baru meski transaksi digital di BCA telah mencapai 98% saat ini. 

“Bank akan tetap membutuhkan teller dan CSO, terutama transaksi besar di atas limit tertentu masih dilakukan di kantor cabang. Hal ini untuk melindungi nasabah dari kelalaian atau pihak-pihak yang mempunyai niat jahat,” ungkap Jahja. 


Berebut SDM di Era Digital

Meski bank-bank besar berlomba dalam meluncurkan produk digital perbankan, bukan berarti industri keuangan ini akan segera merampingkan tenaga kerja. Justru, mencari sumber daya manusia (SDM) yang berketerampilan di bidang digital menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perbankan Indonesia dalam transformasi digital layanan perbankan.

Survei Digital Banking in Indonesia 2018 yang dirilis PricewaterhouseCoopers (PwC), sebesar 52% responden dari perbankan Indonesia menyatakan tidak fleksibelnya proses bisnis dan tim, serta kurangnya SDM yang memiliki keahlian digital, menjadi tantangan ketiga terbesar dalam mengimplementasi strategi digital. Hal ini akan menjadi risiko bagi perbankan dalam 2-3 tahun ke depan. 

cindy001

 

Sumber grafik: Survei Digital Banking in Indonesia 2018, PwC

 

Saat ini, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia berupaya untuk terus mendorong pengembangan SDM digital. Salah satunya dengan memberikan 25.000 beasiswa digital bagi para siswa pada tahun ini. Jumlah ini akan terus meningkat 100% menjadi 50.000 beasiswa pada tahun 2020. 

Menteri  Kominfo, Rudiantara mengatakan, jumlah ini masih terbilang kecil dibandingkan kebutuhan tenaga digital di pasar yang diprediksi oleh Bank Dunia, mencapai 600.000 per tahun. 

Presiden Direktur Commonwealth Bank Indonesia, Lauren Sulistiawati mengapresiasi langkah yang dilakukan Kominfo maupun regulator dalam mengembangkan tenaga kerja yang siap beradaptasi di era digital. Namun, hal itu, kata Lauren, masih belum mewadahi kebutuhan SDM digital yang diperlukan perusahaan saat ini. 

“Kami tak hanya bersaing dengan sesama perbankan, tapi juga dengan teknologi finansial (tekfin), e-commerce dan startup lainnya. Semua memerlukan talenta yang hampir sama, yakni harus memahami digital dan memiliki daya inovasi tinggi,” jelas Lauren. 

Menurut konsultan Informasi Teknologi (IT) Independen sekaligus Founder Baba Studio, Zeembry Neo, kurangnya digital talent tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. “SDM IT masih belum mencukupi untuk menghadapi tuntutan perkembangan jaman. Kalau menunggu SDM menjadi ahli, bank bisa ketinggalan. Maka, hal yang paling cepat itu adalah menggunakan tenaga outsource atau ‘membajak’,” kata Zeembry. 

Bank-bank besar sebenarnya secara rutin membekali para karyawan dengan pelatihan ulang (retraining). Salah satunya, bank BCA yang memiliki program e-learning untuk membekali skill digital bagi seluruh karyawan BCA. 

Armand Wahyudi Hartono, Wakil Direktur BCA, menjelaskan, program e-learning ini merupakan aplikasi yang dapat diunduh di ponsel pintar, sehingga para karyawan bisa belajar dimana pun dan kapan pun. 

“Modul e-learning ini wajib bagi seluruh karyawan BCA. Modul ini dilengkapi tes dan permainan. Seluruh karyawan mendapat kesempatan latihan yang sama, dan tak bisa untuk dilewatkan,” ungkap Armand yang juga mengajar di e-learning apps BCA. 

Para bankir mengakui, menerapkan pelatihan ulang bagi karyawan bukan suatu hal yang mudah. Pasalnya, tak semua karyawan mau mengubah pola pikir (digital mindset) para pekerja dan menyesuaikan (agile) budaya kerja dengan kondisi perubahan digital saat ini. 

Di Commonwealth Bank Indonesia, tingkat keberhasilan pelatihan karyawan masih di bawah 70%. Lauren menyadari, tingkat keberhasilan pelatihan ini tak akan mencapai 100%. Sebab itu bank yang dia pimpin menekankan pentingnya pelatihan digital bagi karyawan. 

Commonwealth Bank memilih untuk mengembangkan program Management Training (MT) bagi karyawan baru dengan fokus pengembangan digital. Hal ini berbeda dari program sebelumnya, dimana para karyawan lulusan kuliah dibekali ilmu perbankan secara umum. 

“Kami juga memiliki unit khusus, yakni Digital Innovative team, yang fokus untuk memenuhi kebutuhan digital kami,” jelas Lauren. Dalam tim tersebut terbentuk profesi-profesi baru seperti Scrum Master, User Experience Specialist, dan User Interface Specialist.

Sementara, Bank pelat merah, Bank Mandiri mengadakan kontes nasional Hackaton dalam dua tahun terakhir. Selain menjadi ajang kompetisi ide kreatif bagi pengembangan digital perbankan, Bank Mandiri bisa menjaring talenta-talenta berbakat yang memiliki keterampilan digital. 

“Dari kompetisi ini, kami bisa menemukan mahasiswa maupun talenta yang berbakat di ranah digital. Nantinya, kami akan ajak mereka untuk bergabung dengan Mandiri,” papar Rico Usthavia Frans, Direktur Teknologi dan Transformasi Bank Mandiri.

Tak hanya itu, Bank Mandiri terus mendekatkan diri ke kampus-kampus IT ternama untuk memperoleh talenta-talenta digital. “Persaingan dengan tekfin dan startup dalam mencari bakat-bakat digital memang sangat menantang. Kami berharap, agar semakin banyak kampus-kampus IT yang bisa melahirkan SDM digital,” ungkap Rico. 

Dengan demikian, transformasi digital yang kini terjadi di industri perbankan tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi pekerja. Perubahan pola bisnis ini jelas menjadi peluang bagi para angkatan kerja baru yang ingin mendalami bidang digital. 

Peluang ini juga berlaku bagi staf dan manager yang sedang bekerja di bank. Dengan cepat beradaptasi dan  mengasah kemampuan digital, para pekerja di industri perbankan dapat melanjutkan karir dan pekerjaannya di bidang-bidang baru yang mendukung transformasi digital. 

Penulis : Cindy Silviana, Jurnalis Reuters News Agency, peserta Banking Editor Class AJI - Commonwealth Bank Indonesia

 

Ekonomi Lainnya