Menjaga Sagu Tetap Laku

Menjaga Sagu Tetap Laku

Tepung sagu yang dijual di Pasar Tidore.

Independen, Ternate -- Junaidi Abd Karim (41) terlihat berjalan tergesa-gesa menuju rumahnya di Kelurahan Dowora, Tidore Pulau, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Setibanya di rumah, dengan suara agak keras, ia memanggil-mangil istrinya, yang saat itu terlihat berada di teras rumah, membersihkan buah pala hasil panen

Junaidi meminta istrinya segera bergegas pergi ke depan balai kelurahaan, menemui pedagang yang menjajakan barang dagangannya menggunakan mobil pick up. “Jangan sampai habis,” kata Junaidi pada istrinya, Kamis akhir Juli lalu.

Kader Mahmud (49), si pedagang itu, hari itu sedang menjajakan tepung sagu hasil panen petani Oba, Halmahera di depan Balai Kelurahaan Dowora. Harganya murah. Ia mematok harga Rp 9 ribu per kilogram, lebih rendah Rp3 ribu, dari harga sagu yang dijajakan pedagang di Pasar Sarimalaha yang mencapai Rp12 ribu per kilogram.

Bagi keluarga Junaidi, tepung sagu salah satu sumber makanan pokok (staple food) yang harus disajikan setiap hari. Di rumahnya tepung sagu biasa diolah menjadi makanan seperti popeda yang biasa disajikan dengan kuah ikan dan aneka ragam sayur. Keluarga Junaidi kerap menjadikan tepung sagu sebagai makanan penganti nasi jika sewaktu-waktu harga beras sedang naik.

Baca: Hutan Sagu Menyusut

Popeda merupakan makanan terbuat dari aci sagu yang diaduk dalam air dingin dan kemudian disiram air panas hingga mengental dan terjadi perubahan warna. Di era tahun 1980 hingga 1990-an, Popeda menjadi makanan pokok masyarakat Maluku Utara menyusul ubi kayu, jagung, ubi jalar dan ubi-ubian. “Sekarang kebiasaan makan nasi. Makanya saat ada penjual sagu dengan harga murah, saya suruh istri cepat-cepat beli,” kata Junaidi yang dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh bangunan ini.

Menurut Junaidi, masyarakat Dowora biasanya memanfaatkan tepung sagu menjadi popeda di setiap acara syukuran, seperti kawinan ataupun acara adat. Olahan tepung sagu wajib disediakan di meja saat makan saat siang tiba. Di Maluku Utara, sagu (metroxylon spp) tak hanya dikonsumsi orang Tidore semata, namun dikonsumsi juga masyarakat pulau lain seperti Ternate, Bacan, Jailolo, Gebe, Patani, Morotai, Tobelo dan Buli.

Mereka percaya sagu merupakan makanan yang kaya gizi tinggi seperti halnya beras, jagung, ubi kayu, dan kentang. Tepung sagu bahkan memiliki kandungan karbohidrat hingga 84,7 persen dan serat pangan 3,69 hinggga 5,96 persen. Sagu mengandung pati resisten, polisakarida dan karbohidrat rantai pendek yang sangat berguna bagi kesehatan.

Namun kebiasaan mengkonsumsi sagu di Tidore saat ini pelan-pelan mulai berkurang. Masyarakat tak lagi mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok sejak 1997, dan mulai beralih mengkonsumsi nasi. Pilihan itu dilakukan lantaran nasi dianggap merupakan makanan yang murah dan mudah didapat.

Kuad Suwarno, Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate mengatakan faktor paling dominan yang mempengaruhi terjadinya pergeseran pola konsumsi makanan pokok masyarakat Tidore dari sagu ke nasi adalah faktor ekonomi, sosial dan budaya. Masyarakat Tidore mulai memandang nasi sebagai jenis pangan yang memiliki tingkat status sosial lebih tinggi dibandingan jenis panganan lain. Nasi telah dianggap sebagai pangan masyarakat kelas menengah atas.

Ada juga faktor lainnya seperti makin sedikitnya tenaga kerja pengolah tepung sagu dan menyusutnya luas kawasan hutan sagu sehingga mempengaruhi ketersediaan pohon sagu di Maluku Utara. Luasan kawasan hutan sagu di Maluku Utara, dalam kurun waktu sepuluh tahun tercatat terus mengalami penyusutan.

Saat ini tak lebih dari 3.645 hektar dengan tingkat produksi hingga 1.403 ton pertahun. Padahal idealnya, untuk menjadikan sagu sebagai makanan pokok 1,7 juta penduduk Maluku Utara, diperlukan 5 ribu hektar hutan sagu dengan tingkat produksi 3 ribu ton per tahun. Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat Maluku Utara tak ingin lagi bekerja sebagai pengolah tepung sagu. “Mereka mengaku mulai sulit mendapatkan pohon sagu,” ujar Kuad.

 

Budi Nurgianto (Ternate, Maluku Utara) I ID001