Hutan Sagu Terus Menyusut

Embed from Getty Images

Independen, Ternate -- Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, luas kawasan hutan sagu di Maluku Utara, sepuluh tahun sebelumnya mencapai 5431 hektar dengan tingkat produksi mencapai 8961 ton pertahun. Angka itu terus menurun seiring tingginya praktik pembukaan lahan untuk kawasan pemukiman baru dan reklamasi. Luas kawasan hutan sagu di Maluku Utara per Desember 2017 mencapai 3.641 hektar dengan tingkat produksi sagu mencapa seribu-an ton per tahun.

Sementara itu di Kota Tidore Kepulauan sendiri, luas kawasan hutan sagu menyisahkan 179 hektar yang tersebar di tiga kecamatan dengan tingkat produksi sagu 150 ton per tahun. Padahal tiga tahun sebelumnya di tahun 2014, kawasan hutan sagu di daerah ini mencapai 241 hektar dengan tingkat produksi mencapai 200 ton pertahun.

Baca: Menjaga Sagu Tetap Laku

Data Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara (2016), sedikitnya ada 832 rumah tangga di Maluku Utara yang bekerja sebagai pengolah tepung sagu. Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.120 rumah tangga. Dibandingkan dengan pekerja sumber pangan lain seperti beras tentu sangat jauh berbeda. Pekerja sumber pangan seperti beras di Maluku Utara mencapai 16.584 rumah tangga. “Sekitar enam belas kali lipat dari pengolah tepung sagu,” ungkap Idham Umasangaji, Kepala Dinas Pertanian Provini Maluku Utara.

Hasil penelitian Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate (2016) menemukan, pengelola sagu di Maluku Utara rata-rata merupakan pekerja usia produktif antara umur 20-53 tahun. Tenaga kerja pengelolah tepung sagu terbanyak berada pada usia 40-53 tahun atau mencapai 41,86 persen. Sementara pekerja pada usia 26-39 tahun hanya 22.09 persen, Selebihnya adalah usia 54-67 tahun yang mencapai 36,05 persen. Dari komposisi usia pekerja ini memperlihatkan bahwa pekerja pengolah sagu sesungguhnya berusia rata-rata tua.

Idham mengungkapkan, banyaknya masyarakat Maluku Utara yang tak lagi ingin bekerja mengolah dan memproduksi tepung sagu dinilai berdampak pada ketersediaan tepung sagu di pasaran lokal. Tepung sagu makin sulit didapat. Akibatnya ketersedian lahan sagu mendorong tingkat konsumsi besar masyarakat Maluku Utara. “Banyak orang tak ingin lagi mau bekerja memproduksi tepung sagu. Tak heran sagu bukan lagi menjadi panganan pokok,” ujar Idam.

Ali Ibrahim, Wali Kota Tidore Kepulauan mengatakan untuk mendorong sagu sebagai makanan pokok masyarakat, pemerintah akan mengambil kebijakan melakukan konversi ketahanan pangan dan menjadi komoditas sagu sebagai skala prioritas pembangunan sektor pertanian. Pemerintah juga akan mengusulkan penyusunan peraturan daerah yang dapat digunakan menjadi dasar hukum untuk menjamin pengembangan panganan lokal ini sebagai makanan rumah tangga.

Menurut Ali, saat ini, produksi tepung sagu di Kota Tidore Kepulauan tercatat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga di tingkat lokal. Produksi sagu Tidore belum mampu memenuhi kebutuhan industri dalam skala besar. Padahal kawasan hutan sagu di Tidore yang belum digarap mencapai lebih dari 100 hektar, dengan tingkat produksi mencapai 200 ton per tahun. “Prospeknya sangat menjanjikan,” kata Ali.

Budi Nurgianto I ID001