Sanggar “Waria” Seroja

Sanggar “Waria” Seroja

foto: Dok. Pribadi

Devi Laura Seroja (kiri) dan Pandan Wangi saat melakukan pentas teater di Teater Manekin dengan tema "Lakon Ruang Rias".

INDEPENDEN, Jakarta - Pandan Wangi (51) untuk sekian kalinya mengangkat panggilan dari seorang teman, Devi Laura Seroja. “Iya, iya ini gue mau berangkat. Iya, ini udah mau berangkat,” katanya berulang-ulang dengan nada cemas, Jumat (2/11).

Sesekali ia melongok jam dinding. Saat itu jarum jam sudah bertengger di angka 2. “Begini nih. Kalau belum ada aku, mereka biasanya belum mau mulai,” katanya sambil kembali mengecek perlengkapan rias wajah di dalam tas selempang.

Kakak tertua Pandan, Rokiyah (63) sudah menyiapkan makan siang. Semangkuk opor ayam panas lengkap dengan potongan mentimun di atas dipan kayu siap disantap.

Setelah menyendok nasi dan merobek bungkus plastik krupuk, Pandan kembali melihat cemas ke arah jarum jam yang terus berputar. Makan siang dilahap kurang lebih 5 menit.

Baru saja melangkah, Pandan sudah dicegat seorang ibu dengan perawakan kurus dan tinggi. Ibu itu bertanya, “Nanti bisa pinjam piringnya?” dengan tatapan bingung melihat Pandan yang sudah tergesa-gesa naik sepeda motor.

“Iya, iya. Nanti catat saja nomor kontak saya. Itu ada ponakan saya, nanti minta saja,” kata Pandan sambil menunjuk dan berteriak memanggil seorang ponakannya yang terhalang peti kayu.

“Yan, yan! Nanti kasih kontak gue ke Ibu ini ya,” katanya sambil meminta sepeda motor untuk dipacu.

“Ibu yang tadi itu mau nikahin anaknya. Dia mau sewa peralatan pernikahan dan make-up dari aku. Awalnya aku diminta untuk ke Surabaya. Aku nggak mau, jauh banget. Tapi akhirnya nanti nikahnya di Cakung,” kata Pandan di sela menyapa ramah orang-orang yang dilaluinya di gang sempit di kawasan Tambora, Jakarta Barat.

Jarak dari rumah Pandan Wangi menuju Gelanggang Olahraga (GOR) Jakarta Barat ditempuh sekira 10 menit tanpa kemacetan lalu lintas yang berarti.

Setibanya di GOR Jakarta Barat, Pandan menyapa hampir seluruh orang yang ditemuinya. Rata-rata mereka adalah seniman teater yang kerap berkumpul, berlatih atau menginap di GOR. Sesekali Pandan berbincang singkat, berkelakar genit tanpa melupakan ayunan langkahnya menuju ruang rias.

Setibanya di ruang rias, napasnya masih naik-turun.

“Elu lama banget sih,” kata Devi Laura Seroja dengan nada ketus.

“Iya, tadi kan gue udah buru-buru,” jawab Pandan singkat sambil menaruh tas selempangnya di atas meja rias.

Sementara itu, Galbera Nana yang berada paling pojok ruang rias tak banyak bicara. Ia fokus memilah-milah peralatan rias wajah di dalam boks.

Tiga pemeran utama Teater Alamat sudah duduk manis berderet menghadap kaca. Tangan-tangan Pandan, Nana dan Devi dengan lihai menyapu bedak, pensil alis, sampai lipstik di wajah mereka. Membentuk karakter wajah dari peran para pelakon.

“Ini rekan-rekan Teater Alamat. Biasa, kita saling membantu,” kata Devi.

Hari ini kelompok Teater Alamat mementaskan “Mandor Cokek: Kisah Cintah Tanah Benteng” karya Budi Yasin Misbach. Para pemainnya mulai dari pelajar, mahasiswa sampai pekerja. Teater berdurasi 120 menit ini bercerita tentang seorang Cokek yang menolak diajak ke Belanda oleh suaminya, karena lebih cinta dengan tanah airnya. Kisahnya berakhir dengan drama Cokek yang sudah tua renta menemukan cinta sejatinya dengan Mandor yang semula menjadi broker penjual tanah rakyat untuk pengusaha.

Pandan, Devi dan Nana berperan mendukung pertunjukan Teater Alamat sebagai perias wajah. Ketiganya adalah seniman transgender di Sanggar Seroja.

Sanggar Seroja

Sanggar Seroja adalah wadah kelompok transgender untuk menyalurkan bakat seninya. Terbentuk 2015 silam, sanggar ini menjadi ruang untuk menyuarakan keberagaman gender yang selama ini menjadi olok-olokan sebagian orang.

“Kami ingin mereka (transgender-red) berkesenian. Karena kulihat di lingkungan kami ini waria. Banyak sekali yang mencibir kalau waria itu identik dengan kejahatan dan jalanan, serta mabok-mabokan. Jadi kenapa kami membentuk sanggar Seroja,” kata Pimpinan Sanggar Seroja, Pandan Wangi.

Pandan Wangi sudah lebih dari 20 tahun malang melintang di dunia kesenian. Sebelum membentuk Seroja, ia bersama Devi Laura Seroja membentuk Teater Manekin.

Teater Manekin mendapat penghargaan bergengsi pada Festival Teater Jakarta 2015 lalu. Teater Manekin dengan pertunjukkan “Lakon Ruang Rias” dinobatkan sebagai Kelompok Teater Terbaik III. Kala itu Pandan dan Devi berduet memainkan peran utama. Lakon Ruang Rias bercerita tentang kecantikan yang fana.

“Awalnya itu namanya Duo Singa. Tapi karena itu merek kopi ya, ya udah apa Duo Manekin? Karena kalau Duo Manekin kan cuma ada aku sama Devi doang kan. Akhirnya diputusin Manekin aja,” cerita Pandan.

Manekin memiliki makna sebagai representasi transgender. Manekin adalah boneka toko yang ketika dirias dengan pelbagai macam busana akan tampak cantik. Orang-orang hanya bisa memuji.

“Kebanyakan juga kan waria itu tak ubahnya seperti Manekin gitu. Cuma dicolek, dilihat,” tambah Pandan.

Tapi selama berproses di Teater Manekin, Pandan dan Devi merasa ruang geraknya terbatas. Akhirnya mereka keluar dan membentuk Sanggar Seroja.

“Sementara di Manekin kami dibatasi, pemain yang ini yang ini. Sementara aku pengen, aku merekrut rekan-rekan waria yang lain juga, yang ingin berkesenian, terutama teater gitu loh,” kata Pandan sambil meneruskan cerita terbentuknya Sanggar Seroja.

“Kalau Seroja sendiri dibentuk di tempat aku. Awalnya kita namakan gaun. Oh nggak, nggak bisa. Atau gantungan. Nggak bisa. Atau kipas angin. Nggak bisa. Yang ada di sekitar kamar aku kita ini ye. Akhirnya, kita namain Seroja. Ya udah Seroja, Alhamdulilah. Karena kan seroja itu bunga yang cukup indah juga. Mudah-mudahan kita seperti Seroja,” kata Pandan sambil melengkungkan senyumnya.

Sanggar Seroja tak terbatas pada pertunjukkan seni teater saja. Sanggar Seroja juga melakukan pertunjukkan seni tari tradisonal dan modern, pembacaan monolog sampai lipsing.

Pertunjukkan perdana Seroja berlangsung Oktober 2016 silam. Saat itu kelompok ini diundang dalam Malam Budaya Pertemuan Nasional SDG’s 2016. Pandan dan teman-temannya melakukan pertunjukkan tari tradisional, tari modern dan pembacaan monolog di hadapan orang-orang yang datang mewakili daerah-daerahnya dari seluruh Indonesia:

Kalian lihat. Kalian dengar

Mereka memang ada

Mereka yang diciptakan Tuhan

Mereka yang dilahirkan dengan segala kelebihan dan kekurangannya

Jadi, untuk apalagi kalian menghina, mencerca dan mendiskriminasi mereka

Kalau mereka memang ada

Kami yang dilahirkan sebagai perempuan

Namun kami terkungkung dalam tubuh laki-laki

Kami yang hidup dalam kekurangan dan kelebihan kami

Namun kami mampu bekerja apa yang dilakukan perempuan dan laki-laki

Iya, mereka memang ada

“Ini karya aku sendiri. Aku yang buat ini, monolog ini. Aku buatnya dalam waktu 5 menit loh. Istilah itu entah datang dari mana: terjebak dalam tubuh laki-laki, aku suka banget,” kata Pandan sambil mengenang pertunjukan perdana Sanggar Seroja.

Setelah pertunjukkan ini, sanggar Seroja kemudian mendapat undangan untuk melakukan pentas di sejumlah acara dan tempat. Pentasnya dalam bentuk pertunjukkan tari dan lipsing.

Sekarang, Sanggar Seroja sudah memiliki 15 anggota, sebagian besar adalah transgender yang umumnya bekerja sebagai penata rias wajah. Seroja juga tidak membatasi orientasi seksual bagi yang ingin bergabung menjadi anggota mereka.

“Banyak juga dukungan dari rekan-rekan yang mengerti kaum kami. Tim kami ada wanita juga. Sengaja merekrut dengan ragam gender.  Pengennya, ada laki-laki. Yang benar laki-laki,” tambah Pandan.

Devi Laura Seroja juga pendiri Sanggar Seroja. Menurutnya, kesenian tak mengenal jenis kelamin. Kesenian adalah ruang yang melampaui batas hitam-putih, langit-bumi, surga-neraka, dan lelaki-perempuan. Kesenian adalah ragam alam semesta dengan segala kemungkinannya. “Bahwa transgender ini bisa berkarya. Transgender ini pun bisa memberikan yang terbaik,” katanya.

Devi memperkenalkan Galbera Nana. “Ini sodaraku, main-main ke sini, ya sudah aku jerumusin. Kita ikut teater. Ya mungkin dari transgender punya jiwa seni juga. Ada darah seni. Jadi no problem. Berseni itu berkarya,” katanya.

Galbera Nana awal bergabung dengan Seroja saat bertemu dengan Pandan Wangi. Waktu keduanya sama-sama bekerja untuk penyewaan perlengkapan acara pengantin. “Jadi istilah kasarnya, kita rekanan merger tenda. Dari situ aku kenal. Pada saat itu, aku diajak Bu Pandan. Ayo! dari pada kamu pulang mending ikut aku aja. Di sana nanti kamu aku kenalin sama Devi,” kenangnya.

Setelah bergabung dengan Sanggar Seroja 2016 lalu, Galbera Nana mulai ketagihan pentas sana-sini. Baginya, berkesenian tari, puisi atau teater bisa membentuk kepribadian. “Mereka (para transgender-red) harus bisa masuk bergabung di sini. Dengan sepenuh jiwa membentuk kepribadian yang lebih baik,” katanya.

Rencananya, tahun depan Sanggar Seroja akan tour keliling Indonesia untuk pentas teater. Untuk sekali pentas teater, mereka membutuhkan waktu latihan 3-4 bulan. Sekali pentas waktunya 1-1,5 jam.

Pandan Wangi mengakui teater bukanlah dunia bisnis yang bisa membuat para pemainnya kaya mendadak. Untuk rencana pertunjukkan teater tahun depan, anggota Sanggar Seroja sudah mengumpulkan anggaran sendiri jika nanti pendapatan tak menutupi ongkos produksi. “Juga (pendanaan-red) dari kita-kita. Misalnya kita arisan. Untuk sekian pendanaan,” katanya.

Walau pun tahu dunia teater bukan sesuatu yang menggiurkan secara ekonomi, tapi ada muatan yang tak ternilai harganya. Sanggar Seroja ingin menunjukkan pada dunia, kelompok transgender juga bisa berkarya dan menghibur masyarakat.

“Kami akan membawakan teater dan akan membawakan kisah-kisah kaum waria. Tujuannya untuk memberikan kesadaran pada warga dan lingkungan sekitar kalau kami memang bisa berteater dan berkesenian,” kata Pandan.

Tanggapan Masyarakat

Aktivitas para transgender dalam berkesenian ini mendapat bermacam tanggapan dari masyarakat. Tim Independen.id memutarkan video cuplikan pentas seni teater saat Pandan dan Devi memainkan “Lakon Ruang Rias” ke sejumlah warga.

“Waria yang berlaga seperti itu terlalu lebay. Kebanyakan teriak-teriak. Tapi secara keseluruhan (pertunjukkan-red) sih okeh,” kata Indah, warga Jakarta.

Komentar juga disampaikan warga Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Laila Badriyah. Menurutnya, pentas yang ditampilkan duo transgender Pandan dan Devi sudah total dari segi penghayatan peran. “Mereka akting di pertunjukan teaternya, gue excited ya. Jempol deh. Tapi kalau ditanya kaitannya waria dengan teater, gue nggak bisa komen,” katanya singkat.

Namun ada pula yang menanggapi transgender yang berkesenian bisa mengubah pandangan orang banyak tentang keberadaan mereka yang selama ini dicap negatif.

“Itu ambil peran yang bagus, sudah menghayati yang benar-benar bisa mendalami perannya. Dari sini saya lihat, nggak semua transgender itu seperti penggambaran orang yang bikin takut, bikin penyakit, tapi juga sama seperti orang-orang yang dianggap normal. Sama aja, mereka bisa bikin teater, bisa bikin kesenian. Bisa beraktivitas seperti umumnya dan kreatif juga,” kata Bathara, warga yang tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan.

Irham